EKSPLORE JOGJA: The House of Raminten


The house of raminten (sumber: google)
Belum juga istirahat, saya sudah diajak kuliner malam oleh Daniel dan kedua adiknya yang ternyata sama gokilnya. Dari percakapan mereka meskipun saya kurang paham karena basa Jowo-nya asing di telinga, but saya menangkap signal kekompakan dari selera humor mereka, bercanda layaknya seorang teman namun tetap saling menghormati layaknya adik kakak. Melihat mereka jadi kangen sama saudara-saudaraku yang jauh di sana.

Setelah muter-muter mencari tempat makan akhirnya kuliner malam itu diputuskan di tempat dengan judul “The House of Raminten”. Unik kan namanya, ya konon ini merupakan tempat makan wajib di Jogja. Saat masuk ke tempat ini dibagian depan kita di sambut dengan sebuah banner foto seperti wanita yang mengenakan kebaya dan sanggulnya, aroma dupa dan bunyi gamelan langsung tertangkap oleh indera. Btw sosok yang tampak seperti wanita itu sebenarnya adalah seorang pria pemilik tempat makan ini yaitu Hamzah Sulaeman, yang dulu pernah berdandan ala wanita Jawa demi sebuah peran sebagai sosok Raminten.

Semua bangunan terbuat dari kayu, ada 2 (maybe 3) lantai dan posisi duduknya harus lesehan. Karena lantai bawah penuh, kami menuju ke lantai dua dan ternyata di atas juga lumayan padat pengunjung, beruntung masih ada tempat yang kosong. Di beberapa sudut tampak para waiter mengenakan pakain bergaya jawa juga dengan kemben dan sarung batik yang apik menyatu dengan suasana tempat ini.
 
Waiter yang siap melayani anda (sumber: google)
Saat melihat menunya hampir semua masakan Jawa dan ternyata harganya sangat bersahabat di kantong. Gak nyangka tempat seunik ini layaknya restoran mahal bisa memberi harga murah layaknya warung angkringan. Sayangnya saat kami kesana hampir semua menu sudah habis (ya iyalah, ini sudah jam 12 malam broo…), yang tersisa hanyalah bakso dan mie goreng jawa itupun nunggunya harus pake “lama” saking banyaknya pengunjung.
 
Menu-menu dengan harga bersahabat (Sumber: google)
Selesai mengisi perut, kami pun langsung menuju rumah Daniel. Disana ibunya sudah menunggu kami, setelah berkenalan ala kadarnya kami pun disuruh beristirahat sebelum melanjutkan petualangan berikutnya. Yah hari ini, ketika mentari mulai menampakkan wajah, saya akan berpetualang ke tempat impianku dari dulu “Kalibiru”. Tempat ini jadi booming karena pemandangannya yang benar-benar apik. So, jangan berhenti di sini ya, baca kelanjutan kisah petualanganku di kota Pelajar ini. 

Pesan Sponsor:
What’s worth the most can not be exchanged for money

Semua gambar bersumber dari google, karena waktu itu tidak sempat motret.
(12 - 14 JUNI 2015)

EKSPLORE JOGJA :New Friends, New Adventure



Spot Mainstream di Jogja

Kali ini saya share pengalaman saya meninggalkan jejak di luar Jatim, yah di kota pelajar Yogyakarta. Honestly, gak pernah terpikirkan untuk bisa sampai mengeksplore tempat ini “seorang diri”. Semuanya bermula dari pertemuan saya dengan seorang teman baru call him Daniel,  disebuah trip (baca: Eksplore Gresik: bukit jamur dan bukti kapur). Mungkin bagi kebanyakan orang hanya kebetulan saya bertemu “beliau”, but saya orang yang paling percaya bahwa “gak ada yang kebetulan di dunia ini, semua sudah diatur sedemikian apik oleh Sang Pencipta”.

Selesai trip Gresik, kami janji ketemuan untuk tukar foto, dan disanalah tercetus ide untuk jalan-jalan ke Jogja. Yah, setelah ngobrol cukup panjang terkuaklah bahwa dia anak asli Jogja, dan seperti biasa saya selalu mengeluarkan kalimat ajaib saya “kapan-kapan ajak donk ke kotamu”. Dan ternyata kebenaran saat itu dia ada planning untuk pulkam karena bertepatan dengan acara Artjog dan sebuah pertunjukan seni di Padepokan Bagong. Jadilah saya ditawari untuk ikut ke kampungnya, tanpa pikir panjang saya meng-iyakan.



Eitss, jangan berpikir negatif dulu bro, saya bukan tipe orang yang asal aja menerima tawaran orang. “Tanpa pikir panjang” dalam kamus saya itu maksudnya sudah melewati masa observasi dan penilaian karakter orang yang saya hadapi. Thank God ada gunanya juga saya belajar Psikologi jadi bisa menilai sikit-sikit karakter orang secara cepat. I know, Daniel orang yang bisa dijadikan teman, dia friendly, ramahnya pake over dosisi dikit sih, apa adanya dan tak ada tampang penipu dari wajahnya.

Dari story singkat mengenai kehidupan dia saya tahu dia jujur dan dibesarkan dalam keluarga baik-baik so, gak mungkin berbuat jahat. Ditambah lagi dengan observasi dari sudut pandang psikolgi, saya tahuapa yang dia sampaikan secara verbal, didukung oleh non-verbalnya (halahh ini ngomong apa sih), ya intinya saat kita ngobrol saya mempelajari bahasa non-verbalnya melalu gerak-geriknya untuk tahu apa yang diceritakan adalah kebenaran atau kebohongan. Setelah yakin, dia gak bakal menculik saya, maka keluarlah kata “Iya” untuk eksplore Jogja.

Setelah excited karena bakalan ke Jogja, tiba-tiba berubah jadi gunda gulana karena ternyata kami harus berangkat Jumat malam. Yah, bermasalah di cuti lagi deh.Beruntung saya punya bos yang benar-benar pengertian dan baik hati, jadi saat ijin cuti sehari saya diperbolehkan dengan senang hati. Entah senang memberi cuti karena bosan lihat saya setiap hari di kantoratau memang karena iba melihat wajah memelas saya. What everlah, yang penting dapat cuti dan bisa get lost di kota orang.

H-2 sebelum keberangkatan, tiba-tiba pak bos gak masuk kantor karena sakit dan harus check-up ke dokter, dicurigai mengidap penyakit DB atau tipes. OMG, ini sepertinya bad news, kalo pak bos sampai gak bisa masuk, maka liburan yang sudah di planning jauh-jauh hari alamat bakalan batal.Mana sudah beli tiket Kereta Api pula. Beruntung semesta mendukung kali ini sehingga Pak Bos batal sakit dan bisa masuk keesokan harinya.

Jadilah pada hari H, jumat 12 juni 2015 sepulang kerja saya packing lalu berdua Daniel segera menuju ke Stasiun Gubeng. Setelah menunggu beberapa menit Kereta Api datang dan segera membawa kami meninggalkan kota Pahlawan menuju Kota Pelajar. Jam 12 lebih sedikit kami tiba di Stasiun Yogyakarta. Wew, tiba di tempat ini dalam hati hanya bisa bilang “Thank God, I am here”. Ya saya benar-benar ada di tempat ini sekarang dan siap untuk memulai petualangan.

Pesan Sponsor:
Every new friends is a new adventure, the start of more memories.

(12 - 14 JUNI 2015)

Eksplore Tuban – Part II : PANTAI REMEN

Pantai Remen

Dalam perjalanan menuju ke Pantai Remen, kami menyempatkan berfoto disebuah jejeran pepohonan hijau rimbun (pohon asem) yang kami lewati saat ke Air Terjun Bongok. Katanya temanku sih tempat ini seperti di film-film Korea, entah film yang mana. Hahaha  Sayangnya terlalu banyak kendaraan yang lewat sehingga kesempatan untuk mengambil gambar dengan baik cukup sulit. Pepohonan yang keren ini cukup mengobati rasa kecewa setelah dapat Zonk di Air Terjun Bongok.

Bersama teman-teman Jatim Backpacker



It's me, ala-ala kekinian

Setelah menempuh hampir 1 jam perjalanan, kami tiba di desa Remen, kecamatan Jenu tempat pantai Remen bersembunyi. Pertama kali melihat sekeliling, saya hanya bisa mengucapkan kata “WOOOOWWWW”… rada alay sih tapi saya benar-benar terpesona melihat keindahan pantai ini.  Pantai dengan pasir putih bersih menarik saya ingin berguling-guling diatasnya dengan air laut yang dihiasi oleh ombak yang cukup besar dan yang membuatnya berbeda dengan pantai yang lain yaitu pantai ini dibelah oleh sebuah danau yang lebih mirip telaga berwarna hijau. Di pinggir danau tersebut terdapat pohon cemara yang berwarna hijau cerah menambah keunikan pantai ini. Sementara ikan-ikan kecil dengan bebas berenang kesana-kemari.




Saya berbisik kepada teman saya, gak perlu jauh-jauh ke Bali atau Lombok untuk menikmati pantai eksotik, karena Jawa Timur juga punya pantai eksotik seperti ini. Kejernihan airnya membuat saya tak tahan untuk segera berbasahan-basahan.

Pantai Remen ini benar-benar terjaga kebersihannya. Tak tampak sampah yang bertebaran karena memang disana disediakan beberapa tempat sampah. Selain itu seminggu sekali ada petugas yang memang selalu membersihkan pantai ini dari sampah-sampah.




Di pinggir pantai tampak berjejer rapi warung-warung yang siap melayani perut yang lapar dan haus. Sayangnya kami tak bisa berlama-lama di tempat ini karena jam 5 sore pantai ini ditutup dari semua aktivitas. Beruntung kami masih sempat melihat sunset yang benar-benar berwarna bulat merah di sore hari itu. Sayang kamera saya tak cukup untuk menangkap eksotiknya semburat merah bercampur oren dari sunset tersebut.

Bonus Sunset


Bagi teman-teman yang ingin ke tempat ini, tidak perlu kuatir tersesat, bisa search koordinat GPS: 6.766045,111.968873. Untuk menuju ke tempat ini dari kota Tuban kita mengikuti jalan menuju Pantura ke arah Rembang atau Semarang, di koramil Jenu akan ada persimpangan belok ke kanan. Setelah ketemu perempatan masjid Al Mubarok kita belok kanan, mentok lalu belok kiri jalan hingga masuk desa Remen, dan sebelum SDN Jenu ada pertigaan belok kanan dan kita akan ketemu pantai Remen. Oke kawan, selamat menikmati ke eksotiknya pantai Remen ini, jangan lupa tetap jaga kebersihan.

(02 Juni 2015)

QUOTES:
Tak perlu kesempurnaan untuk bisa berbahagia.
Karena bahagia sesungguhnya adalah ketika kamu melihat apapun secara sempurna

Eksplore Tuban – Part I : Air Terjun Nglirip & Air Terjun Bongok

Air terjun Nglirip
Sebenarnya tanggal merah ini sudah saya planning jauh-jauh hari ke Malang bawa motor sendiri sekalian mengantar Indri jalan-jalan kesana. Namun beberapa teman tiba-tiba batal berangkat hingga akhirnya planning awal mau ke kebun teh dan selekta, akhirnya destinasi berubah menjadi Paralayang dan Omah Kayu. Namun lagi-lagi karena tidak ada kendaraan akhirnya batal juga. Beruntung sore hari saya melihat postingan di JB (jatim backpacker) ada yang ke Tuban, cepat-cepat saya kontak CP-nya berharap ada motor yang kosong karena motor yang ready hanya 1 sementara kami ada bertiga. Setelah sempat digantung karena ternyata motornya pas, akhirnya tengah malam saya dapat info ada tebengan yang kebetulan orangnya saya kenal karena teman ngetrip pas ke Madura.


Jam 5 pagi Indri dan saya otw mepo di KBS (Kebun Binatang Surabaya), tak lama kemudian teman-teman yang lain berdatangan lalu kami pun menuju Tuban jam 6 pas. Di perjalanan kami sempat terpisah dengan teman-teman yang lain karena mengambil jalan yang berbeda jadi kami menunggu mereka. I guess teman-teman trip saya kali ini jarang ke luar kota karena mereka mengendarai motor sangat pelan sampai-sampai Mas Wahid yang membonceng saya merasa ngantuk ditengah jalan. Perjalanan yang seharusnya hanya 2 jam jadi 3 jam-an. Setelah berhenti di POM bensin kami di datangi oleh Mas Priyo yang menjadi tour guide kami hari ini. Kami pun menuju ke alun-alun bergabung dengan teman dari Bojonegoro yang sudah menunggu kemudian kami segera menuju ke destinasi pertama yaitu Air Terjun Nglirip.


Dari alun-alun kota Tuban masih membutuhkan waktu sekitar 30-45 menitan untuk tiba di Nglirip. Jalan menuju Nglirip lumayan bagus karena sudah diaspal tapi perlu berhati-hati karena ada jalan menanjak dan berkelok-kelok.Setiba di dusun Jojogan, desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan saya baru tahu bahwa tempat tersebut bagian atasnya merupakan bendungan. Air terjunnya sekitar 30 meteran, dengan air yang mengalir deras bak salju berwarna putih dan di bagian bawahnya terdapat semacam danau berwarna hijau. Bisa dikata kami cukup beruntung bisa melihat pemandangan ini. Karena beberapa teman yang kesana saat musim hujan mendapati airnya berwarna coklat sehingga kurang elok, sebaliknya saat musim kemarau justru tidak ada air yang mengalir karena mengering.






Tapi bagi teman-teman yang datang kesini perlu tahu, boleh percaya atau tidak yang jelas ada mitos bahwa jika sepasang kekasih yang sedang kasmaran datang ke tempat ini, dijamin tidak sampai 40 hari hubungan mereka akan berakhir. Konon dibalik air terjun tersebut terdapat goa yang di jadikan tempat bertapa oleh seorang putri yang patah hati karena hubungannya dengan pria rakyat jelata tidak di restui oleh orang tuanya. Masyarakat disana percaya bahwa sang Putri akan marah jika ada pasangan yang berpacaran di sekitar goa air terjun Nglirip.

Bagi teman-teman yang ingin ke tempat ini, tidak perlu kuatir tersesat bisa search koordinat GPS: 6°58’6”S   111°47’38”E. Rute yang bisa ditempuh: Tuban – Montong – Singgahan atau Tuban – Kerek – Singgahan.

Dari Nglirip kami melanjutkan perjalanan menuju air terjun Bongok, dengan pertimbangan waktu kami sangat singkat dan jalan menuju Bongok searah dengan jalan pulang kami dibandingkan dengan air terjun lain yang berlawanan arah. Padahal rencana awal akan ke air terjun yang menghasilkan air panas dari belerang, namun tempatnya berlawanan arah.


Air Terjun Bongok
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam (harus melewati jalan yang cukup jelek karena tidak di aspal) kami tiba di air terjun Bongok jam setengah 2. Sayangnya saat kami kesana air terjunnya sedang surut jadi air yang mengalir hanya sedikit saja. Selain itu warna air juga kurang sedap dinikmati mata karena berwarna coklat sehingga memberikan kesan kotor. Air terjun Bongok ini tidak recomended bagi saya, sebaiknya cari objek lain jika teman-teman ke tuban, Akhirnya kami memilih beristirahat sejenak sambil mengamati beberapa anak yang meloncat dari ketinggian. Setengah jam waktu yang cukup akhirnya kami bersiap-siap pulang. 



Ketika sampai di parkiran kami melihat ada sebuah goa, namun tak sempat masuk ke dalam goa tersebut karena diburu waktu untuk segera ke pantai. Saat itu kami baru sadar bahwa helm salah satu teman kami ternyata hilang, setelah lapor ke penjaga parkir mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena memang saat itu cukup ramai. Beruntung saat itu saya bawa 2 helm sehingga saya bisa meminjakannya. Akhirnya kami pun beranjak meninggalkan tempat ini menuju ke Pantai Pasir Putih Remen.


 (02 Juni 2015)


QUOTES:
Konon bumi ini milik mereka yang mau berhenti sejenak untuk melihat-lihat lalu meneruskan perjalanan (Anonymus)

City Tour : Eksplore Surabaya - Tugu Pahlawan & Kenjeran

Salah Satu Icon Surabaya

Minggu ini saya kedatangan tamu terhormat yang merupakan teman dari jaman SMA dari Jakarta, call her : Indri. Jauh-jauh hari dia sudah info bakalan ke Surabaya dan meminta untuk diajak berkeliling, so tawaran-tawaran untuk ngetrip ke beberapa tempat saya tolak demi menjadi guide sehari. Setelah menjemput ke stasiun Gubeng jam 3 dini hari, kami beristirahat sejenak menunggu mentari terbit. Jam 9 pagi kami kemudian bersiap-siap menuju Tugu Pahlawan. Datang ke kota Surabaya dengan julukan Kota Pahlawan rasanya gak afdol kalo gak mendatangi Tugu Pahlawan ini.

Indri in action at Tugu Pahlawan
Tiba di Tugu Pahlawan ternyata sudah sepi, tak seramai biasanya karena masyarakat yang biasanya berolah raga di sana sudah pada bubar. Akhirnya saya mengajak Indri menuju ke Museum, karena saya sendiri walaupun sudah 7 tahun di Surabaya dan berkali-kali datang ke Tugu Pahlawan namun tidak pernah masuk ke tempat ini. Padahal cukup membayar 5ribu perak anda bisa mengelilingi museum ini. 

Meeting time
Peralatan Medis Jaman Bahula

Lukisan 3D
Di pintu masuk ada tangga yang di sampingnya terdapat semacam lukisan timbul dengan gambar semacam jembatan dan puluhan tentara yang sedang berperang. I guess sepertinya ini Jembatan Merah Plaza. Masuk lebih dalam bangunan ini berbentuk lingkaran dengan bagian tengah dihiasi oleh gambar beberapa patung pahlawan. Di sekelilingnya terdapat benda-benda dari zaman dahulu seperti mata uang, peralatan medis, figura gambar kejadian-kejadian bersejarah dan patung sekumpulan orang dalam keadaan yang serius, sepertinya sedang meeting. Selesai mengelilingi lantai bawah kami menuju lantai 2 yang berisi lukisan-lukisan kisah bersejarah berbentuk 3 dimensi. 

Barang-Barang Bersejarah
Ini apa? 
Puas mengelilingi Museum kami pun ke luar lalu menuju ke Pasar Pagi untuk mengisi perut. Ya, di sepanjang jalan sekeliling Tugu Pahlawan terdapat orang berjualan berbagai macam barang dan makanan. Setelah mengisi perut kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke Pantai Kenjeran atau yang biasa disebut Ken Park. Sebenarnya saya tidak tahu jalan menuju Kenjeran, beruntung disepanjang perjalanan terdapat penunjuk arah hingga akhirnya saya tiba disana.

Setelah membayar retribusi 10ribu kami pun menuju ke pantai. Karena kepanasan kami memilih duduk disebuah ayunan, berteduh di bawah pepohonan yang rimbun sambil sharing berbagai hal. Setelah sekian lama tak bertemu ada banyak kisah yang bisa diceritakan hingga tak terasa hampir 1 jam kami ada disana. Mengingat masih banyak destinasi yang ingin kami datangi kami segera melangkah menuju ke tempel yang masih berada di area Kenjeran. 

Pagoda Tian Tiyang
Tempel pertama yang kami datangi adalah Pagoda Tian Tiyang merupakan tiruan dari The Heaven di Beijing. Bangunan dengan tinggi 58 meter dan diameter 60 meter ini di dominasi oleh warna cerah ceperti hijau, merah biru dan kuning sayangnya sudah tak terawat. Bahkan saat mengelilingi bangunan ini kami melihat ada kotoran kuda berserakan di lantai-lantai. Sungguh miris melihatnya, sebuah bangunan seni dijadikan sebagai “toilet” hewan. Herannya kenapa harus membawa kuda  naik ke tempat tinggi untuk sekedar buang kotoran, padahal di sekeliling tempat itu ada banyak padang kosong yang bisa dijadikan “toilet”. Selain itu di sana-sini juga terdapat corat-coretan dari tangan jail yang benar-benar merusak pemandangan. 


Patung Buddha
Tak ingin berlama-lama di tempat ini kami langsung menuju ke Klenteng Sanggar Agung. Ini merupakan tempat beribadah penganut Tri Dharma yaitu Tao, Kong Hu Cu dan Buddha. Di sebelah kiri dari jalan terdapat sebuah patung Buddha empat wajah dengan ukuran yang sangat besar yang di kelilingi oleh patung gajah putih besar berwarna putih. Saat kami kesana tidak terlalu ramai, tapi jika tahun baru imlek akan ada banyak orang di tempat ini yang datang untuk berdoa sambil membawa dupa. 

Selesai mengambil gambar di sisi sebelah kiri, kami melanjutkan ke seberang sisi kanan jalan. Setelah memasuki gerbang kami melewati sebuah taman, dan masuk ke bagian utama dari bangunan ini. Di tempat ini  cukup gelap dan hanya diterangi oleh cahya dari lilin-lilin berwarna merah yang besarnya sebesar paha orang dewasa. Lilin ini biasanya digunakan untuk membakar dupa yang dipakai untuk sembahyang. Aroma dupa benar-benar kuat di tempat ini. Di beberapa sudut terdapat patung dewa-dewa dan tampak beberapa orang yang sedang sembahyang sambil membawa dupa.

Patung Dewi Kwan Im
Jika terus masuk kedalam kita akan menemukan halaman belakang disanalah berdiri dengan megah patung Dewi Kwan Im di ketinggian sekitar 20 meter dengan background pantai Kenjeran. Di bagian bawah dari patung ini terdapat 2 buah naga yang saling berhadapan dengan mulut terbuka. Benar-benar karya seni yang mengagumkan. Beruntung tempat ini masih cukup terawat dan lumayan bersih sehigga keindahannya bisa dinikmati dengan lebih santai.

Saat itu matahari sangat terik sehingga saya bersama Indi memilih untuk berteduh di bawah patung Dewi Kwan Im, menikmati hembusan angin pantai Kenjeran sambil mengamati air laut yang perlahan surut karena panasnya matahari. Sayangnya warna air pantai ini berwarna coklat jadi kurang begitu sedap dipandang mata. Setelah lelah lenyap, kami pun meninggalkan Klenteng ini dan pulang menuju ke rumah kos untuk beristirahat.

Pantai Kenjeran
(Entahlah apa ini masih layak disebut Pantai)


Pesan sponsor: meskipun tempat ini sudah kotor, sebisa mungkin jangan tambahi dengan membuang sampah sembarang tempat ya kawan. Ingat selalu untuk menjaga tempat kemana saja kita pergi. Salam piknik 

(31 Mei 2015) 

Eksplore Gresik - Part II : Bukit Kapur Sekapuk


Dari Bukit Jamur menuju ke Bukit Kapur Sekapuk hanya butuh waktu sekitar 15 – 20 menit atau sekitar 15 km.  Tinggal lurus aja mengikuti arah menuju Pantai Delegan sampai menemukan pertigaan, di sebelah kanan ada pasar dengan gapura desa Sekapuk. Masuk terus ke gapura tersebut sampai terlihat Bukit Kapur di sebelah kiri jalan. Saat kami kesana jalan menuju area Bukit Kapur dipalang dengan besi. Setelah minta ijin ke warga di sana kami pun masuk ke area tersebut dengan merunduk.


Berada di tempat ini rasanya hampir mirip dengan tambang kapur di bukit Jeddih, Madura karena warna dasar dari kapurnya juga berwarna putih. Yang tampak berbeda adalah bekas tambang kapur yang berbentuk balok-balok besar yang menjadi khas tempat ini. Saat kami kesana bukit kapur ini tampak sepi lengang tak ada orang atau kendaraan yang berlalu lalang kecuali kami. Mungkin karena hari Minggu jadi semua aktivitas libur. Selain itu tempat ini cukup adem dari pada bukit kapur yang lain, terutama suhunya beda jauh dengan Bukit Jamur.


Penampakan Goa bekas tambang dari luar
Di dalam goa bekas tambang




Bagian pertama yang kami eksplore ada bagian  dari sisi kanan dari bukit ini. Di sana terdapat semacam goa dengan dinding yang berbentuk potongan balok-balok. Dari luar goa tersebut tampak gelap menyeramkan, namun saat masuk lebih dalam ternyata tak segelap dari luar karena masih ada cahaya yang menembus ke dalam. Dari bagian atas terdengar bunyi seperti dinding yang di palu, mungkin ada seorang penambang yang sedang bekerja namun tak tampak oleh kami. Saat melihat di sekeliling dinding, tampak ada begitu banyak coret-coretan, entah pengunjung yang mencorat-coret atau para penambang di sana karena di bagian langit-langit juga ada.


Selesai di bagian kanan kami beranjak menuju sisi kiri dari tambang ini. Sebenarnya bagian kiri dari bukit kapur ini lebih bagus karena bekas tambangnya lebih halus, berwarna putih dan bentuk balok-baloknya lebih jelas. Sayang saya tidak bisa mendekat ke tempat tersebut karena teman-teman yang lain sudah kecapekan dan ingin cepat-cepat pulang jadi tidak ada gambar yang bisa saya ambil dengan baik. (hikssss rada sedih sih). Dengan kesepakatan bersama kami pun akhirnya langsung balik ke Surabaya. Mungkin jika ada kesempatan lain, saya akan mendatangi tempat ini sekali lagi.


(24 Mei 2015)


QUOTES:
BERGAULAH DENGAN SEMUA ORANG KARENA DALAM PERGAULANMU TERDAPAT 2 HAL
REJEKIMU DAN JODOHMU

Eksplore Gresik - Part I : Bukit Jamur


Setelah beberapa hari galau harus memilih kemana weekend ini saking banyaknya pilihan, akhirnya saya memutuskan ikut trip Dewa-Dewi yang di “gawangi” oleh Mas Ardjuna untuk eksplore bukit jamur dan bukit kapur Gresik. Jam 07.00 saya menuju mepo di KBS (Kebun Binatang Surabaya). Sambil menunggu yang lain saya menyempatkan diri untuk mengambil foto patung Sura dan Baya yang menjadi icon Surabaya.

Jam 8 lewat kami menuju ke Gresik, perjalanan yang seharusnya hanya 1 jam molor jadi 2 jam karena rombongan kami sempat terpisah dipersimpangan jadi harus menunggu satu sama lain. Kami tiba di bukit jamur sekitar jam 10 dan udara mendadak berubah menjadi sangat panas. Ternyata betul kata teman saya, tempat ini sangat panas suhunya bahkan mencapai 37 derajat. Jadi jika ingin ke tempat ini sebaiknya datang pagi-pagi sebelum matahari terik atau sore hari saat matahari mulai terbenam.





Dari jauh Bukit Jamur yang merupakan bekas penambangan di kecamatan Bungah, Gresik  ini tampak seperti perkampungan Smurf yang berbeda warna. Jika perkampungan Smurf berwarna biru, bukit jamur ini berwarna coklat. Saya juga penasaran bagaimana kisahnya sehingga bekas tambang tersebut meninggalkan sisa-sisa yang bentuknya persis seperti jamur. Setelah membaca dari beberapa sumber, ternyata hal itu disebabkan karena bagian bawah lebih rapuh di bandingkan bagian atas sehingga bagian bahwa lebih cepat terkikis dan meninggalkan bekas berbentuk jamur. Fenomena alam ini bisanya disebut “Mushroom Rock” sama seperti yang ada di sebuah pantai di Taiwan.




Untuk masuk ke tempat ini hanya perlu membayar uang parkir sebesar 3ribu rupiah untuk motor dan 10ribu rupiah untuk mobil. Tempat ini merupakan lahan milik perorangan, maka hingga saat ini hanya di buka pada hari Minggu untuk umum. Karena pada hari biasa di tempat ini ada aktivitas penambangan. Jika tidak tahan dengan panasnya, kita bisa menyewa payung yang di sediakan oleh warga di sana. Tidak terlalu banyak hal yang bisa dilakukan di tempat ini, selain berfoto dengan latar belakang bukit jamur. Panasnya yang pake sangat membuat kami tidak betah berlama-lama ditempat ini. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Bukit Kapur Sekapuk.



(24 Mei 2015)

Nongkrong Manis di Pantai Papuma


Setelah berdiskusi dan bergalau ria cukup panjang antara langsung pulang ke Surabaya atau ke pantai akhirnya diputuskan untuk menuju ke Pantai Papuma. Sebenarnya ini merupakan ketiga kalinya saya ke pantai ini, namun karena tidak ada pilihan lain akhirnya saya ikut. Sesampai di pantai disana sudah tampak begitu banyak kendaraan yang di parkir dan ada banyak orang  yang berlalu lalang. Saya sendiri memilih untuk menikmati desiran angin dan gulungan ombak di tepi pantai, sementara teman-teman yang lain menuju ke sebuah bukit tempat untuk melihat Pantai Papuma dari ketinggian.

Tiga kali saya ke tempat ini, tiga kali pula dengan suguhan pengalaman dan pemandangan berbeda. Kebetulan untuk yang ketiga ini air laut surut sehingga batu karang disepanjang bibir pantai tak tertutupi oleh air laut dan memperikan penampakan yang sangat indah untuk  dinikmati. Sebuah karang besar yang berada di tengah-tengah laut dapat didatangi dengan melewati beberapa karang-karang kecil.


Sementara mengamati lalu lalang orang-orang yang kebanyakan membawa tongsis, mata saya tertuju pada 2 wanita lanjut usia yang mengenakan baju kebaya sedang berjalan cepat menuju bibir pantai. Tiba-tiba saja beliau bergaya bak seorang model. Dan ternyata, mereka minta di fotoin oleh seorang pria muda yang kemungkinan cucu  mereka. Wuah..wuah.. memang kita hidup di dunia di mana selfie, groufie, wefie dan fie fie yang lain merupakan hal yang lumrah tanpa mengenal usia. Salut sama beliau berdua yang terus berjiwa muda. Umur boleh menua tapi semangat tetap muda.


Sudah datang ke tempat ini, sepertinya sayang kalau tidak mengabadikan keindahannya, apalagi saat itu langit sangat cerah berwarna biru. Akhirnya saya melangkahkan kaki menuju sebatang pohon yang sengaja di tanam oleh warga di sana entah sekedar hiasan atau ada maksud lain. Setelah mengambil beberapa gambar saya bersama evi menuju ke batu karang dan mengambil beberapa gambar di sana. Selesai fota-foto, kami pun bersegera berberes-beres lalu kembali ke Surabaya.

(15 – 17 Mei 2015)






Powered by Blogger.

Search This Blog

Blog Archive

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

footer logo