Selepas dari
Tanjung Aan kami sempat bingung apakah langsung pulang atau mampir untuk
melihat pantai Mawun yang lokasinya juga masih sekitar Lombok Tengah. Tapi
berhubung hari masih siang, so akhirnya kami sepakat untuk mampir ke pantai
Mawun. Kalo dari bandara mau ke pantai Kuta kita belok kiri maka ke pantai
Mawun ini kita belok kanan. Tak disangka ternyata letak pantai ini lumayan jauh
juga dan jalan yang gak semulus jalan ke Kuta Lombok.
Home / Beach
Showing posts with label Beach. Show all posts
Showing posts with label Beach. Show all posts
Tracking Cantik ke Bukit Merese dan Tanjung Aan
Bukit Merese |
Dari Pantai
Kuta, hanya butuh kurang lebih 20 menitan untuk sampai di lokasi Bukit Merese dan Tanjung Aan yang jadi satu. Memang jalan yang dilewati rada kecil dan tak semulus aspal di Kuta. Perlu hati-hati
dan mengurangi kecepatan melewati jalan ini karena ada banyak lubang
disana-sini. Selain itu rumah penduduk juga sangat jarang dan kebanyakan
seperti hutan-hutan. Itu kenapa Bapak menyarankan kami untuk keluar dari tempat
ini sebelum matahari terbenam.
Eksplore Lombok Tengah: Desa Ende dan Pantai Kuta
Oke bolang
cantik hari pertama dimulai. Kok bolang cantik? Bukannya kepedean tapi karena
emang kita cantik semua gak ada yang ganteng alias tripnya para gadis aja.Ada
yang bilang kita nekat, hmm mungkin karena udah lumayan lama di Surabaya
jadinya kita ikutan jadi “Bonek” alias bondo nekat. Berbekal 2 buah motor hasil
sewaan dari Mamak (70ribu per hari) kami lalu menuju kearah Lombok Tengah. Hasil
diskusi dengan Bapak kemarin kami akan eksplore bagian tengah ada beberapa
tempat tapi pada akhirnya kami hanya bisa menjelajahi 5 tempat: Desa Sade,
Kuta, Bukit Marese, Tanjung Aan dan Mawun beach.
Hidden Paradise Pulo Doro
Setelah
cukup lama gak nge-trip bareng teman-teman LMP (Laskar merah Putih) akhirnya
kesempatan itu datang juga. Kali ini teman-teman mengajak ke salah satu pantai
di Malang Selatan yang masih termasuk hidden paradise yaitu Pantai Pulo Doro. Pantai
Pulo Doro terletak di desa Banjarejo, kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang.
Untuk menuju tempat ini cukup mengikuti papan penunjuk jalan menuju ke
Kepanjen, arah ke Pagak sampai ketemu pertigaan yang ada tulisan kekanan arah
Pantai Ngliyep, ambil jalan yang lurus menuju ke Banjarejo.
Teman sepermainan |
Memasuki
daerah Banjarejo, jalanan mulai berlubang-lubang bahkan lebih jauh kedalam
sudah tak ada aspal yang ada hanya jalan makadam yang benar-benar parah. Kalo
yang bawa motor gak ahli, wah gak bisa bayangin apa yang akan terjadi. So, buat
teman-teman yang mau kesini sebaiknya pastikan motor dan joki dalam keadaan fit
sehingga tidak menyusahkan di jalan. Oh iya mungkin yang mau bawa roda empat
bisa juga sih tapi ya gitu harus rela segera masuk bengkel setelah dari sana.
Saat
kami tiba sudah larut malam, tapi si bapak penjaga pantai masih tak terlelap,
tak mengijinkan kami masuk secara gratis hahaa… Setelah membayar retribusi kami
melanjutkan perjalanan menuju ke pantai Mbantol. Disanalah kami memarkirkan
motor sebelum tracking menuju ke Pantai Pulo Doro. Sebenarnya beberapa teman
sudah ingin camping di pantai ini saja, tapi karena dari awal planningnya di
Pulo Doro maka kami tetap melanjutkan perjalanan meski dengan mata super
ngantuk.
Untuk
sampai ke PuloDoro oleh penjaga pantai kami diberitahu harus menyusuri tepian
karang. Tapi karena sangat gelap sehingga kami tak menemukan jalan yang
dimaksud. Akhirnya kami memilih menyusuri hutan-hutan di belakang pantai.
Sedikti gelap dan seram, tapi beruntung ada cahaya bulan yang menerangi
perjalanan kami. Tak ada yang tahu pantai Pulo Doro yang mana, karenanya kami
mengikuti insting saja. Setelah berjalan sekitar 15 menitan kami tiba di sebuah
pesisir pantai, yang kami anggap Pulo Doro. Setelah menemukan daerah yang tepat
untuk mendirikan tenda, teman-teman segera membongkar isi carrier. Saat
mendirikan tenda inilah, tiba-tiba seorang teman nyletuk kalo ternyata pantai
tempat kami sekarang bukan Pulo Doro tapi Kedung Celeng. Sempat berpikir untuk
pindah, tapi karena tenda sudah terlanjur berdiri akhirnya kami tetap menginap
di pantai Kedung Celeng ini.
Teman-Teman LMP |
Setelah
tenda selesai, beberapa teman memasak makanan penghalau lapar karena perjalanan
yang lumayan jauh. Hanya ada kopi, mie instan dan beberapa snack, tapi karena
dinikmati di tempat yang tak biasa, makan sederhana pun jadi spesial rasanya.
Bisa bayangin makan malam di cahaya yang remang-remang karena hanya disinari
cahaya lampu senter plus cahaya bulan dan bonus nyanyian ombak di pantai. Hmmm
bisa jadi ini bagian kecil dari surga dunia. Berbagi bersama, tertawa dan
bercanda bersama dalam sebuah kesederhanaan kebersamaan dan yang penting no
gadget. Perut kenyang hati senang, waktunya tidur memulihkan tenaga sebelum
berburu sunrise besok pagi.
Saya
terbangun ketika merasakan dingin yang menusuk di telapak kaki, ah rupanya
sleeping bag yang kujadikan alas telah bergeser posisinya. Mencoba mengintip ke
luar dan ternyata fajar mulai menyingsing memperlihatkan semburat cahaya
eloknya. Tak ingin menyia-nyiakan momen ini, saya segera bangun dan keluar
tenda. Beberapa teman rupanya sudah bangun dan menikmati pemandangan ini dari
tadi.
Kedung Celeng |
Sambil
berjalan menuju bibir pantai, saya menyambar tripod yang dibiarkan teman
nganggur. Eits tripodnya bukan buat selfie, tapi pengen belajar motret pake
teknik Long Expo (maklum lagi semangat-semangatnya belajar motret). Setelah
cekrak, cekrek beberapa kali saya berhenti dan mencoba menikmati indahnya
pantai kedung celeng pagi itu. Rasanya benar-benar damai melihat matahari yang
secara perlahan menampakkan dirinya dan memberi warna indah pada langit yang
tampak bersih. Ombak yang menghantam karang berkali-kali memperdengarkan nyanyian
syahdu. Ahhh selalu mellow deh kalo sudah ada di tempat seperti ini. Tempat
yang perfect untuk refleksi diri dan membuang sampah-sampah dari pikiran.
Lagi
asik menikmati sunrise, seorang teman datang minta di fotoin. Bukan sekali jepret aja, tapi berkali-kali. Hmmm gimana yaaa,
ya sudahlah jadilah sepanjang hari itu Merlin berprofesi sebagai fotografer
gratisan. Resiko punya hape bagus dikit (hahaha ini becanda). Tapi gak bisa dipungkiri sunrise ditempat ini memang keren. Semburat cahayanya menebar nuansa romantik kesekitar pantai. Bikin siapa aja pengen mengabadaikan sebanyak-banyaknya.
Dilarang Baper |
Selain Sunrise yang ajib,
Kedung celeng juga menyembunyikan terumbu karang yang cantik. Karena pagi hari
air belum pasang, jadi kami punya kesempatan untuk masuk ke area laut yang agak
dalam. Tapi perlu berhati-hati saat melangkahkan kaki karena batu-batu ditempat
ini sangat licin jadi perlu berhati-hati saat berjalan agar tidak terpeleset.
Bukan hanya terumbu karang, tapi ikan-ikan kecil juga tampak berenang kesan
kemari dengan bebasnya.
Setelah mengelilingi Kedung Celeng kami berpindah tempat menuju ke Pantai Pulodoro. Hanya butuh waktu 5 menit perjalanan dari Kedung Celeng menuju tempat ini. Waktu kami tiba air sudah pasang danombak bergulung-gulung begitu besar sehingga berbahaya jika ingin berenang. Saat berjalan menuju sisi kanan dari pantai terdapat tempat yang lebih tenang dengan pemandangan yang tak kalah menariknya. Melihat air yang biru, tenang dan jernih beberapa teman segera melepas baju dan berenang. Sayangnya saya tidak membawa baju ganti sehingga memilih untuk mengambil beberapa gambar saja. Berada di tempat ini serasa pulau milik sendiri karena sangat sepi pengunjung. Sedikit menyesal kenapa tidak dari pagi berada di tempat ini. Berharap ada kesempatan lain untuk datang ke pantai ini.
Hidden Paradise: Watu Leter Beach
Setelah
menyeleksi berbagai tawaran trip (ceilehh… berasa orang penting aja, tapi ini
serius selalu ada banyak tawaran trip) akhirnya Evi dan saya memilih ikut trip
ke Malang bersama teman-teman dari “B’WON” alias Bikers Wonoayu. Gak kenal
mereka sih, tapi bukankah tak kenal merupakan kesempatan untuk nambah teman
bukan? Jadilah sabtu malam setelah jemput Riyu di rumah, dan setelah ngalamin
beberapa insiden kecil dijalan, akhirnya kami (Riyu, Evi, Mey dan saya ) sampai
juga di meeting point Wonoayu.
Jam 11 perjalanan panjang dimulai. Perjuangan melawan ngantuk juga dimulai. Merlin sih asli Ratu Tidur, tapi berhubung udah janji gak boleh nyusain orang dijalan, so kudu nguat-nguatin mata biar gak ketutup. Lagian saya gak kenal yang bonceng, jadi sungkan juga kalo harus tidur. Setelah menempuh 4 jaman perjalanan akhirnya tiba juga di sebuah rumah teman di Malang Selatan. Ahh.. Thank God ini serasa Surga Dunia bagi mata yang lelah. Tanpa ba-bi-bu kami berempat langsung tidur.
Baru mau masuk di alam mimpi, ada suara yang manggil-manggil, ahh ternyata Riyu yang lagi semangat 45 bangunin saya. Demi melihat sunrise rencananya pagi-pagi buta mau ke Pantai, tapi ujung-ujungnya batal juga karena teman yang lain masih tepar. Akhirnya baru start dari tempat penginapan sekitar jam setengah 6. Berhubung daerah sini masih termasuk perbukitan dan kiri kanan dipenuhi dengan pepohonan hijau, walhasil udara dan anginnya yang segar cukup membuat badan menggigil kedinginan.
Perbukitan di sepanjang jalan |
Setelah menempuh perjalan kurang lebih setengah jam akhirnya kami tiba juga di Watu Leter. Pantai ini tepatnya berada di dusun Rowotrate, desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Rumit ya? Haha daripada susah-susah langsung saja nyari jalan menuju ke Pantai Goa Cina yang sudah terkenal. Sebenarnya pantai Watu Leter ini juga bisa di tempuh dengan jalan kaki dari Pantai Goa Cina tapi harus melewati belakang bukit karang yang menjadi pembatas kedua pantai tersebut.
Oh iya saat belok kearah Watu Leter, kudu ngelewatin perkebunan warga dan jalan yang berbatu-batu jadi harus hati-hati bawa kendaraannya terutama roda dua (gak tau sih roda empat bisa masuk apa nggak). Beberapa teman bahkan harus mendorong motor saat melewati beberapa tanjakan tajam berupa gundukan tanah. Memang pantai ini terbilang baru dan masih dalam proses pengembangan sehingga fasilitias-fasilitasnya belum memadai. Termasuk toilet dan warung tidak akan kalian temui disini.
Saat kami tiba, masih tampak sepi hanya ada 3 bapak penjaga parkiran dan loket pembayaran. Untuk masuk ke tempat ini cukup membayar tiket 5 ribu rupiah. Sambil menunggu teman yang lain saya mengambil beberapa gambar sunrise yang mulai menghilang. Tempat ini benar-benar masih tampak asri dan tenang, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Masih terdapat banyak pepohonan dan areanya yang luas cocok untuk dijadikan sebagai tempat camping.
Pantai Watu Leter ini masih sepi pengunjung tak heran jika masih begitu alami dan bersih, tidak ada sampah yang berceceran. Airnya begitu jernih dengan pasir putih yang halus. Mata bisa langsung memandang Samudera Hindia karena hanya ada sedikit batu karang. Di tengah-tengah pantai tampak batu karang yang tidak terlalu besar sehingga tampak timbul tenggelam disapu oleh ombak yang cukup besar.
Karena
ombaknya yang besar juga, maka pengunjung dilarang untuk berenang. Tapi kalo ke
pantai gak basah-basahan rasanya ada yang kurang ya. Tenang aja, jika hanya
ingin main air bisa memilih menuju ke sisi kiri dari pantai ini. Disana
terdapat bagian pantai yang di penuhi dengan karang sehingga sedikit bisa
menahan hempasan ombak. Di tempat inilah beberapa pengunjung termasuk saya
bermain air sesaat tapi dengan syarat tak boleh lebih dari 15 meter.
Setelah puas bermain dan menjelajahi pantai ini, kami melanjutkan perjalanan menuju ke pantai Batu Bengkung. Pantai Batu Bengkung ini gak kalah menggoda dengan watu leter. Penasaran? Baca artikel selanjuntya yaa… Merlin pamit tidur, sudah terlalu lama sendiri, eh terlalu lama begadang ;)
QUOTE:
Hidup
bukan tentang apa yang harus kamu punya untuk bahagia, tapi bagaimana kamu
bahagia dengan apa yang kamu punya.
So,
berbahagialah karena hidup ini terlalu singkat untuk kamu habiskan dalam
kesedihan dan kesendirian
Godaan Pantai Klayar
Trip
ke Pacitan ini merupakan salah satu trip dadakan yang saya lakoni. Baru tercetus
ide join pas Hari H. Dari dulu emang sudah ngidam ke tempat ini, ya setelah di racuni teman-teman kalo pantai ini keren banget. Saat melihat hastag di IG
#klayar wuidihh… fotonya sangar-sangar. Dengan mata melotot sambil ngedumel “di
foto aja keren apalagi kalo bisa melihat dan menikmati dengan mata kepala sendiri”. Ahhh untuk saat itu hanya bisa mimpi sambil ngiler-ngiler tiap kali liat foto orang-orang yang nongol di home IG.
Tapi
kalo yang namanya jodoh ya emang gak kemana. Sabtu siang buka-buka FB, ada
notif seseorang memposting sesuatu di Jatim Backpacker, saya buka bentar
hanya untuk menghilangkan tanda merah di notifikasi. Tapi jempol nih gak sengaja
nyundul layar hape ke atas hingga yang terpampang di layar hape postingan dari
seseorang yang tak dikenal bernama “Saiin Anas”. Isi postingannya intinya dia
mau ke Pacitan dan lagi cari teman karena kekurangan orang dan harga yang ditawarkan sangat fantastis murahnya. Hahaha heran juga pas baca komen kebawah
masih ada yang nawar, ckckck kurang kekinian rupanya nih orang jadi gak tau kalo bensin
mahal. Setelah diskusi dengan travelmate saya si Evi, akhirnya kita setuju
untuk join trip ini.
Malamnya
saya otewe ke RS.AL tempat kita ngumpul. Setelah kenalan dan ba-bi-bu akhirnya
kita capcuz Pacitan juga. Ahaa teman trip kali ini pada gokil semua, terutama si
Saiin Anas rasanya mulutnya tuh gak capek komat-kamit, ada aja bahan yang ingin
dimuntahkan dari mulutnya. New friends yang juga gak kalah gokil adalah si
“Cucupwawaw” anak Djakarta yang bisa langsung nyambung dengan kegejean Merlin dan Evi. Berasa udah kenal lama dan baru reuninan setelah sekian tahun. Dia belajar satu
kalimat Toraja yang sangat dia sukai “Susi na Seba”.Hahaha yang artinya “saya
cakep” X_X.
Bagi
saya pribadi, adalah sebuah keberuntungan ketika nge-trip dengan orang tak
dikenal, namun dalam hitungan detik bisa langsung akrab karena cerewetnya
sepadan dengan cerewetku. Bukankah trip itu tak melulu soal destinasi yang ingin
dituju, tapi dengan siapa kita pergi kesana. Trip menjadi sempurna ketika
bertemu dengan teman seperjalanan yang menyenangkan, gokil dan gak jaim dan
yang pasti cocok sama style trip kita. Itulah salah satu keuntungan gak jadi anak rumahan bro, kamu bisa mengembangkan kemampuan sosialisasimu, jadi gak kuper. Mana tahu esok hari kita butuh bantuan atau justru bisa membantu.
Pembukaanya
panjang yaah, yuk mari ke inti pembicaraan kita hari ini. Jam 7 pagi kami
akhirnya tiba di Pantai Klayar setelah melewati jalan yang luar biasa, mulai
dari jalan aspal yang meliuk-liuk bak cacing kepanasan, kelokan tajam, naik
turun bukti dengan tanjakan dan turunan yang kebangetan, sampai ke jalan
berbatu dan bertanah yang kasarnya macam wajah remaja puber yang lagi
jerawatan. Saat kami tiba ternyata sudah cukup ramai, parkiran sudah di penuhi
oleh mobil-mobil. Sebelum memulai penjelajahan, kami mampir disebuah warung
untuk mengisi perut. Apalagi Si Evi sudah rewel aja kayak ikan Bawel
gegara kelaparan tingkat dewa. Nih anak memang kalo kelaparan perlu hati-hati
bisa berubah jadi Serigala berbulu Macan yang lagi sariawan (bisa bayangin gak?).
Selesai
sarapan, ganti baju dan gak lupa pake sunblock biar pas jadi anak kantoran lagi
gak di hina-dina sama teman kantor, kami langsung cuz menuju tekape. Karena kita
ber-17 orang, dengan keinginan yang berbeda-beda akhirnya kita terpisah dalam beberapa
rombongan. Saya, Evi, Anas, & Cucup memilih langsung explore bagian Timur
tempat karang raksasa yang mirip Sphinx berada. Saat berjalan menuju tempat
tersebut beberapa kali di tawari oleh warga disana untuk naik motor ATV cukup
dengan membayar 50ribu rupiah saja, tapi kami memilih untuk berjalan kaki selain
sehat untuk tubuh, sehat untuk kantong juga.
Evi in action |
Setelah sampai di tekape, saya sampai pada kesimpulan bahwa Pantai
Klayar ini must visit sama orang-orang yang ngaku anak pantai karena menyajikan
pantai yang berbeda dengan pantai lain. Kiri kanannya diapit oleh karang yang
sangat kokoh dengan bentuk yang sangat unik. Salah satu icon yang paling
terkenal ada batu karang yang bentuknya mirip Sphinx yang mejeng cantik di atas karang yang lain dengan gagahnya. Pasir putihnya yang halus dan bersih sangat nyaman untuk ditempati berguling-guling atau dijejaki
dengan kaki telanjang. Yang paling emejing adalah ombaknya yang benar-benar
ganas siap menggulung setiap benda yang mendekatinya. Mungkin karena masih termasuk jejeran pantai selatan. Karena itu dilarang keras
untuk berenang di tempat ini karena ombak bisa datang menggulung dengan
tiba-tiba.Tapi kalo ingin sekedar cebur-cebur basah bisa di bibir pantai
sebelah barat dekat parkiran, karena ombak di tempat ini tak seekstrim di
bagian timur.
Buat tidur enak kok :D |
Setelah
puas menikmati ombak di bagian bawah, kami segera menuju ke bagian atas karang
setelah membayar 2ribu perak. Selain pantai yang indah dan karang Sphinx, Klayar
juga menawarkan fenomena yang jarang ditemukan yaitu Seruling Laut. Fenomena ini
terjadi ketika ombak yang keras menghantam karang menyebabkan sebagian air
masuk ke bawah batu sehingga menyembur ke atas sela-sela karang dan
mengeluarkan suara seperti seruling.Tapi pas kesana, saya sama sekali tak
mendengar bunyi seruling laut, entah telingaku yang kurang peka atau memang
serulingnya tak mau berbunyi.
Harusnya Seruling Lautnya bunyi disekitar sini |
Oh iya
jika teman-teman ke tempat ini perlu berhati-hati, jangan terlalu mepet ke
pinggir karang. Selain berbahaya karena ombak yang ganas bisa datang menyapu
semua yang ada diatas karang sewaktu-waktu, disana juga ada petugas yang siap
meniup sempritan kalau kalian melanggar aturan. Kan tengsin juga ya diliatin
orang banyak gegara melanggar aturan, lain lagi kalo emang sengaja mau cari
perhatian. Kayak Si evi, pas mau foto di pinggir karang langsung di sempritin
berkali-kali, kayak narapidana yang mau kabur dari penjara aje. Walhasil dia
jadi pusat perhatian untuk beberapa menit lamanya. Katanya sih malunya sampai di ujung tanduk.
TKP evi kena sumprit |
Ada
banyak hal yang bisa dilakukan di tempat ini. Mulai dari berenang kecek-kecek,
selfi dan poto sana-sini, berburu binatang laut seperti teripang, ikan kecil dan sejenisnya,
atau sekedar menikmati kelapa muda di warung sambil mengamati kejadian di sekitar
pantai . Jika ingin olah raga sedikit bisa juga naik ke atas bukit untuk
menikmati pemandangan Pantai Klayar dari ketinggian.
Masih
banyak sudut yang belum didatangin tapi waktu sudah menunjukkan jam 10. Sesuai
perjanjian di awal kami harus segera menuju ke parkiran. Ahh benar-benar waktu yang terasa singkat, 3 jam rupanya tak cukup
untuk memuaskan keinginan hati menjelajahi tempat ini. Sepertinya akan ada
edisi kedua untuk eksplore Klayar dan sekitarnya. Banyu Tibo dan Goa Gong di
skip dan save untuk trip selanjutnya karena beberapa teman sudah kelelahan.
HAPPINESS
IS DISCOVERING NEW FRIENDS WHO ARE IDIOTS
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
Powered by Blogger.