Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts

EKSPLORE JOGJA: GUNUNG KIDUL – Pantai Sepanjang & Kukup

Pantai Sepanjang
Setelah dari Pantai Baron, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Sepanjang, menurut temannya teman saya (nah loh bingung kan ya gitulah pokoknya), pantai Sepanjang ini “bagus”. Tapi sesampai di sana , bagi saya sih biasa aja. Mungkin karena Pantai Sepanjang ini tak menunjukkan kekhasan tertentu seperti batu karang atau yang lain. Jadi tampak seperti pantai biasanya, berpasir putih dengan deburan ombak yang lumayan keras.





Pada saat kami kesana, air laut sedang surut sehingga bisa bermain lebih jauh kedalam areal pantai. Perlu berhati-hati jika bermain di area ini, karena bagian bawahnya berupa karang yang tertutupi lumut berwarna hijau. Jika tidak hati-hati bisa terpeleset. Gak lucu kan kalo lagi asik main, terus kepleset dan jadi perhatian banyak orang.

permadani lumut 

Karena gak ada yang terlalu menarik perhatian, akhirnya kami memutuskan menuju ke Pantai Kukup. Salah satu ciri Pantai Kukup adalah sebuah jembatan yang menghubungkan Pantai Kukup sebuah batu karang yang diberi nama Pulau Jumino.Di atas Pulau Jumino ini terdapat sebuah pondok yang bisa didatangi oleh wisatawan yang ingin menikmati pemandangan laut lepas. Namun karena waktu yang mepet, saya tidak bisa menjelajah ke Pulau Jumino ini.




Pada dasaranya pantai Kukup ini mirip dengan pantai Sepanjang. Berpasir putih dengan bagian dasarnya berupa karang yang di tutupi oleh lumut berwarna hijau dan hempasan ombak yang cukup besar. Namun Pantai Sepanjang sepertinya lebih popular karena lebih ramai dibandingkan Pantai Sepanjang.



Di beberapa sudut tampak beberapa pedagang yang menjual ikan hias. Memang di tempat ini ada banyak ikan hias yang bisa di temui berenang bebas di pinggir pantai. Bahkan jika beruntung kita bisa menemukan bintang laut dan binatang laut lainnya, tapi perlu berhati-hati juga dengan bulu babi, Jadi sebaiknya tetap menggunakan alas kaki.



EKSPLORE JOGJA: GUNUNG KIDUL – Pantai Baron


Gunung Kidul sudah pada tau kan? Jangan sampai kayak saya, pertama kali dibilangin bakalan eksplore Gunung Kidul, di kepala saya langsung terbayang gunung yang tinggi. Hahaha, pardon me! Maklum anak rumahan, masih kurang piknik jadi gak tau apa-apa.Gunung Kidul adalah salah satu daerah di Jogja yang merupakan sarang dari berpuluh-puluh pantai eksotik. Konon katanya ada sekitar 60 lebih pantai yang tersebar di tempat ini. Pantai yang cukup terkenal antara lain Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Drini, Pantai Sepanjang, Pantai Krakal, Pantai Indrayanti dan masih banyak lagi.

Namun karena waktu yang membatasi, sehingga saya hanya bisa mendatangi 3 pantai saja (Baron, Sepanjang dan Kukup). Untuk masuk di beberapa pantai di kawasan ini cukup membayar 20ribu per orangnya (di luar biaya parkir motor untuk setiap pantai ± 2ribu). Pantai yang pertama kali kami datangi adalah Pantai Baron.



Setelah memarkirkan motor, kami langsung menuju ke area pantai. Di sepanjang jalan, ramai dengan para pedagang mulai dari buah, makanan laut hingga pernak-pernik pantai. Di tempat ini ada pelelangan ikan jadi jika ingin menikmati ikan segar atau makanan laut lainnya bisa dibeli di pantai ini.



Di sepanjang bibir pantai dipenuhi dengan tenda berwarna-warni yang bisa digunakan pengunjung untuk berteduh setelah membayar beberapa rupiah. Namun karena tidak ada planning untuk bermain air jadi kami berjalan menjauh dari bibir pantai menuju ke bukit dimana terdapat Mercusuar (Light House). Untuk naik ke mercusuar ini, kita harus membayar 2000 rupiah lagi per orangnya.





Dari atas bukit, pemandangan pantai dan sekitarnya jadi semakin mempesona.Air laut tampak berwarna hijau kebiru-biruan yang dihiasai putihnya bekas hempasan ombak di pinggir-pinggir karang, menyaru dengan birunya langit.Di sekitar pantai dikelilingi oleh bukit-bukit kecil, seakan-akan ingin menyaingi keindahan pulau komodo. Wuahh tak salahlah kata orang bahwa Indonesia adalah surga dunia.Hampir terlena dengan keindahan di tempat ini, saya sampai lupa bahwa tujuan sebenarnya adalah mercusuar.

Mercusuar

Sesampai di area mercusuar, ada seorang bapak yang menjaga tempat ini, setelah membayar 5ribu rupiah kami diijinkan untuk naik sampai ke puncak mercusuar. Setelah menaiki tangga yang berputar sebanyak 7 lantai, dan cukup menguras tenaga akhirnya kami sampai di puncak mercusuar.

Pemandangan dari atas Mercusuar

Wuahh… pemandangan dari tempat ini benar-benar susah untuk di gambarkan, saya tak memiliki cukup kata untuk mendeskripsikannya. Jika teman-teman penasaran sebaiknya datang sendiri ke tempat ini dan melihat dengan mata kepala sendiri. Semoga hasil jepretan dari mercusuar bisa sedikit menggambarkan indahnya pemandangan dari tempat saya berada. Yang jelas di tempat ketinggian ini saya bisa melihat semuanya, sampai ujung bumi kira-kira seperti itulah. Anginnya sangat kencang sehingga cukup membuat masuk angin, tapi pemandangan yang benar-benar indah membuat saya mengabaikan masalah masuk angin.



Setelah puas berleha-leha di ketinggian ini, kami pun segera turun, lalu menyusuri jalan setapak menuju ke arah sebuah bukti yang kemungkinan biasa di gunakan orang-orang untuk nge-camp karena ada bekas kayu bakar. Setelah mengambil beberapa gambar, kami pun menyusuri jalan pulang menuju ke pantai berikutnya. Tapi tak lupa sebelumnya kami mampir membeli beberapa makanan laut yang sudah di goreng lalu makan siang disebuah warung di tepian Pantai Baron.






EKSPLORE JOGJA: KALIBIRU

Spot Hot di Kali Biru

Berawal dari melihat foto tempat ini di FB teman, saya mulai bermimpi dan berharap suatu hari bisa ke tempat ini, dan akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan hari ini.Itulah mengapa saya tak pernah berhenti bermimpi. Karena saya mengalami sendiri ada banyak hal dalam hidup hanya berawaldari mimpi, lalu entah bagaimana cara Tuhan merancangnya hingga hari ini menjadi kenyataan. So, jangan berhenti bermimpi kawan, karena mimpi itu akan membawamu menembus batas, dengan syarat tidak pernah berhenti sampai mimpi itu menjadi nyata.

Petunjuk di Kali Biru 

Back to topic, Kalibiru apa sih? Yang jelas bukan kali atau sungai yang berwarna biru ya kawan.Kalibiru adalah salah satu tempat wisata di Kulon Progo, daerah barat Yogyakarta. Dari alun-alun Jogja sekitar 1 jam perjalanan dan harus melewati jalan-jalan yang meliuk-liuk menanjak menuju bukit. Saran saya jika tak ingin berjalan kaki sampai di atas sebaiknya menggunakan motor, karena jika mengendarai mobil kemungkinan harus berhenti ditengah jalan dan berjalan kaki ke atas (kecuali kamu jago nyetir mobil ala pembalap-pembalap gitu).

Welcome To Kali Biru

Saya memilih berangkat pagi karena menghindari antrian panjang untuk naik ke atas spot foto yang sangat legendaris dan terkenal di seantero Indonesia. Saking terkenalnya sampai orang-orang belain antri berjam-jam demi duduk dipotongan kayu segi empat yang ada di atas pohon tersebut sekedar mengambil mengambil gambar. Tak salah spot ini legendaris karena memang pemandangan dari atas sana benar-benar amazing...

Udah bayar jadi dapat tiket

Sebelum masuk kawasan ini kami membayar retribusi 5ribu. Suasana masih sepi karena fasilitas outbound dan flying fox baru buka jam 9-an. Hanya terlihat beberapa anak muda yang sedang berkeliling sambil membawa tongsis. Kami pun memilih berkeliling sebentar untuk menikmati hijaunya pepohonan disekeliling Kalibiru. Di kiri kanan terdapat beberapa rumah kecil untuk homestay pengunjung yang ingin menginap.  Udara di tempat ini benar-benar segar dan terdengar siulan merdu dari burung-burung yang tak tampak oleh mata. Dikejauhan tampak buki-bukit yang masih tertutup awan dan disinari mentari pagi yang cerah. Di bagian barat tampak Waduk Sermo yang dikelilingi oleh rimbunnya pepohonan.Benar-benar pemandangan yang mempesona mata dan menyejukkan hati.

Waduk Sermo
Sekitar jam 9 akhirnya pengurus outbound datang, kami pun segera mengerumuninya bak semut mengerumuni gula. Thank God kami mendapat antrian ke-enam setelah membayar karcis sebesar 10ribu, jadi tak perlu menunggu terlalu lama. Untuk naik ke atas pohon tersebut tak perlu takut karena kita sudah disiapkan alat safety untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.Sambil menunggu giliran, kami bercerita dengan pengunjung lain juga sedang mengantri. Tiba-tiba lewatlah seorang mas-mas dengan sepedanya. Guess what? Yah, orang tersebut ingin berfoto dengan sepeda kesayangannya di atas pohon tersebut. Wuah, wuah benar-benar dibelani ya.

Yuhu akhirnya Merlin duduk di sini juga
Setelah menunggu sekitar 40 menitan akhirnya giliranku tiba. Sesampai di atas, saya langsung blank gak tau mau ngapain. Yah, saya benar-benar terpesona dengan keindahan pemandangan dari tempat ini. Saya sampai lupa kalau harus mengambil gambar, beruntung saya segera disadarkan dengan teriakan tukang foto yang menyuruh saya segera take action. Belum juga puas di atas sana, pengurus dari bawah sudah teriak memanggil pengunjung berikutnya. Wew… antri berpuluh-puluh menit di atas hanya 5 menit doank. Hahaha memang sesuatu yang indah butuh perjuangan sih, but it’s worth.

Merah Putih gak boleh ketinggalan
Setelah turun kebawah saya segera memilih foto yang akan saya ambil. Oh iya sebelum ke atas kita akan ditanyai ingin foto pake kamera sendiri atau mau di fotoin. Jika difotoin oleh pengurusnya, per foto (hanya soft copy) harus bayar 5rb. Untuk berjaga-jaga sebaiknya tetap memakai kamera pengurus disana, sayangkan kan kalau sudah antri lama namun tidak mendapatkan gambar yang sesuai keinginan. Selesai memilih gambar kami pun segera kembali ke parkiran mengambil motor sebelum pulang kerumah dan melanjutan petualangan lain.

Pesan sponsor: jika ingin ke tempat ini datanglah lebih pagi, supaya bisa mengambil gambar di spot legendaris tadi. Jika tidak dapat antrian, jangan kecewa karena di sana ada banyak tempat indah lain yang bisa dijadikan spot untuk menikmati Waduk Sermo dari ketinggian. Kalian juga bisa mencoba fasilitas outbound dan flying fox yang tak kalah menariknya. Menikmati alam boleh, tapi jangan lupa mencintainya dan menjaganya. Selamat piknik kawan.

“Jika kamu tidak mengejar apa yang kamu inginkan, maka kamu tidak akan mendapatkannya.
Jika kamu tidak bertanya, maka jawabannya adalah tidak.
Jika kamu tidak melangkah maju, maka kamu akan tetap berada di tempat yang sana”
(Nora Roberts)

EKSPLORE JOGJA: The House of Raminten


The house of raminten (sumber: google)
Belum juga istirahat, saya sudah diajak kuliner malam oleh Daniel dan kedua adiknya yang ternyata sama gokilnya. Dari percakapan mereka meskipun saya kurang paham karena basa Jowo-nya asing di telinga, but saya menangkap signal kekompakan dari selera humor mereka, bercanda layaknya seorang teman namun tetap saling menghormati layaknya adik kakak. Melihat mereka jadi kangen sama saudara-saudaraku yang jauh di sana.

Setelah muter-muter mencari tempat makan akhirnya kuliner malam itu diputuskan di tempat dengan judul “The House of Raminten”. Unik kan namanya, ya konon ini merupakan tempat makan wajib di Jogja. Saat masuk ke tempat ini dibagian depan kita di sambut dengan sebuah banner foto seperti wanita yang mengenakan kebaya dan sanggulnya, aroma dupa dan bunyi gamelan langsung tertangkap oleh indera. Btw sosok yang tampak seperti wanita itu sebenarnya adalah seorang pria pemilik tempat makan ini yaitu Hamzah Sulaeman, yang dulu pernah berdandan ala wanita Jawa demi sebuah peran sebagai sosok Raminten.

Semua bangunan terbuat dari kayu, ada 2 (maybe 3) lantai dan posisi duduknya harus lesehan. Karena lantai bawah penuh, kami menuju ke lantai dua dan ternyata di atas juga lumayan padat pengunjung, beruntung masih ada tempat yang kosong. Di beberapa sudut tampak para waiter mengenakan pakain bergaya jawa juga dengan kemben dan sarung batik yang apik menyatu dengan suasana tempat ini.
 
Waiter yang siap melayani anda (sumber: google)
Saat melihat menunya hampir semua masakan Jawa dan ternyata harganya sangat bersahabat di kantong. Gak nyangka tempat seunik ini layaknya restoran mahal bisa memberi harga murah layaknya warung angkringan. Sayangnya saat kami kesana hampir semua menu sudah habis (ya iyalah, ini sudah jam 12 malam broo…), yang tersisa hanyalah bakso dan mie goreng jawa itupun nunggunya harus pake “lama” saking banyaknya pengunjung.
 
Menu-menu dengan harga bersahabat (Sumber: google)
Selesai mengisi perut, kami pun langsung menuju rumah Daniel. Disana ibunya sudah menunggu kami, setelah berkenalan ala kadarnya kami pun disuruh beristirahat sebelum melanjutkan petualangan berikutnya. Yah hari ini, ketika mentari mulai menampakkan wajah, saya akan berpetualang ke tempat impianku dari dulu “Kalibiru”. Tempat ini jadi booming karena pemandangannya yang benar-benar apik. So, jangan berhenti di sini ya, baca kelanjutan kisah petualanganku di kota Pelajar ini. 

Pesan Sponsor:
What’s worth the most can not be exchanged for money

Semua gambar bersumber dari google, karena waktu itu tidak sempat motret.
(12 - 14 JUNI 2015)

EKSPLORE JOGJA :New Friends, New Adventure



Spot Mainstream di Jogja

Kali ini saya share pengalaman saya meninggalkan jejak di luar Jatim, yah di kota pelajar Yogyakarta. Honestly, gak pernah terpikirkan untuk bisa sampai mengeksplore tempat ini “seorang diri”. Semuanya bermula dari pertemuan saya dengan seorang teman baru call him Daniel,  disebuah trip (baca: Eksplore Gresik: bukit jamur dan bukti kapur). Mungkin bagi kebanyakan orang hanya kebetulan saya bertemu “beliau”, but saya orang yang paling percaya bahwa “gak ada yang kebetulan di dunia ini, semua sudah diatur sedemikian apik oleh Sang Pencipta”.

Selesai trip Gresik, kami janji ketemuan untuk tukar foto, dan disanalah tercetus ide untuk jalan-jalan ke Jogja. Yah, setelah ngobrol cukup panjang terkuaklah bahwa dia anak asli Jogja, dan seperti biasa saya selalu mengeluarkan kalimat ajaib saya “kapan-kapan ajak donk ke kotamu”. Dan ternyata kebenaran saat itu dia ada planning untuk pulkam karena bertepatan dengan acara Artjog dan sebuah pertunjukan seni di Padepokan Bagong. Jadilah saya ditawari untuk ikut ke kampungnya, tanpa pikir panjang saya meng-iyakan.



Eitss, jangan berpikir negatif dulu bro, saya bukan tipe orang yang asal aja menerima tawaran orang. “Tanpa pikir panjang” dalam kamus saya itu maksudnya sudah melewati masa observasi dan penilaian karakter orang yang saya hadapi. Thank God ada gunanya juga saya belajar Psikologi jadi bisa menilai sikit-sikit karakter orang secara cepat. I know, Daniel orang yang bisa dijadikan teman, dia friendly, ramahnya pake over dosisi dikit sih, apa adanya dan tak ada tampang penipu dari wajahnya.

Dari story singkat mengenai kehidupan dia saya tahu dia jujur dan dibesarkan dalam keluarga baik-baik so, gak mungkin berbuat jahat. Ditambah lagi dengan observasi dari sudut pandang psikolgi, saya tahuapa yang dia sampaikan secara verbal, didukung oleh non-verbalnya (halahh ini ngomong apa sih), ya intinya saat kita ngobrol saya mempelajari bahasa non-verbalnya melalu gerak-geriknya untuk tahu apa yang diceritakan adalah kebenaran atau kebohongan. Setelah yakin, dia gak bakal menculik saya, maka keluarlah kata “Iya” untuk eksplore Jogja.

Setelah excited karena bakalan ke Jogja, tiba-tiba berubah jadi gunda gulana karena ternyata kami harus berangkat Jumat malam. Yah, bermasalah di cuti lagi deh.Beruntung saya punya bos yang benar-benar pengertian dan baik hati, jadi saat ijin cuti sehari saya diperbolehkan dengan senang hati. Entah senang memberi cuti karena bosan lihat saya setiap hari di kantoratau memang karena iba melihat wajah memelas saya. What everlah, yang penting dapat cuti dan bisa get lost di kota orang.

H-2 sebelum keberangkatan, tiba-tiba pak bos gak masuk kantor karena sakit dan harus check-up ke dokter, dicurigai mengidap penyakit DB atau tipes. OMG, ini sepertinya bad news, kalo pak bos sampai gak bisa masuk, maka liburan yang sudah di planning jauh-jauh hari alamat bakalan batal.Mana sudah beli tiket Kereta Api pula. Beruntung semesta mendukung kali ini sehingga Pak Bos batal sakit dan bisa masuk keesokan harinya.

Jadilah pada hari H, jumat 12 juni 2015 sepulang kerja saya packing lalu berdua Daniel segera menuju ke Stasiun Gubeng. Setelah menunggu beberapa menit Kereta Api datang dan segera membawa kami meninggalkan kota Pahlawan menuju Kota Pelajar. Jam 12 lebih sedikit kami tiba di Stasiun Yogyakarta. Wew, tiba di tempat ini dalam hati hanya bisa bilang “Thank God, I am here”. Ya saya benar-benar ada di tempat ini sekarang dan siap untuk memulai petualangan.

Pesan Sponsor:
Every new friends is a new adventure, the start of more memories.

(12 - 14 JUNI 2015)
Powered by Blogger.

Search This Blog

Blog Archive

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

footer logo