Duo Toraja Goes To Malang (Balekambang & Ngliyep) - Part I


Ada tanggal merah di kalender itu rasanya gak afdol kalo di rumah aja. Sayangnya tanggal merah kali ini merupakan perayaan bagi teman-teman yang beragama Muslim sehingga kebanyak dari teman trip pada tinggal dirumah. Tapi emang dasar kaki gatal ya, akhirnya saya dan Evi mutusin tetap berangkat berdua saja ke Malang. Honestly, ada sedikit perasaan was-was karena trip kedua ini lumayan jauh tapi bermodalkan doa dan keinginan yang kuat kami membulatkan tekad trip berdua (rada bonek sih).

Kami meninggalkan Kota Pahlawan menuju Malang sekitar pukul 9 malam. Perjalanan cukup lancar sehingga kami tiba di Malang kota sebelum tengah malam. Karena tak tahu arah yang harus dituju dan tak mau disesatkan GPS, kami pun berhenti untuk menanyakan arah ke pantai Balekambang. Karena sesunggunya GPS manual alias Gunakan Penduduk Sekitar lebih akurat daripada GPS elektronik.


Yang kami tahu bahwa untuk menuju pantai kami harus menuju ke Malang Selatan. Sayangnya, papan hijau disepanjang jalan gak ada yang menuliskan Malang Selatan. Karena menurut Evi Kepanjen ada di Malang Selatan maka kami mengikuti jalan yang menunjukkan arah ke Kepanjen.

Karena sudah semakin larut dan jalanan semakin sepi kami akhirnya berhenti di salah satu pom bensin yang cukup besar niatnya untuk istirahat disana. Setelah ngobrol singkat sama pekerja disana, ternyata mereka tutup jam 3 karena akan mengikuti takbiran. Oh my God, itu artinya tempat ini bakalan sepi dan mungkin gelap-gulita. Namun karena tak ada pilihan lain kami tetap memilih beristirahat disana. Saat kami tiba jam menunjukkan pukul 00.10 artinya sudah memasuki tanggal 24 Oktober. Saya segera menuju ke Alfamart mau nyari kue tart buat surprise-in si Evi karena hari ini dia ultah, tapi ternyata gak ada. Akhirnya saya kembali ke Pom dan hanya bisa mengucapkan selamat ultah ala kadarnya. Btw, Happy a quarter of century ya bro…


Lagi nyiap-nyiapain alas buat tidur, tiba-tiba ada segerombolan motor yang datang. Setelah cuap-cuap bentar, ternyata mereka ada yang mau ke Balekambang juga. Kami langsung nanyak boleh join grup mereka apa nggak, awalnya sih bilang iya. Eh pas kita bangun mereka udah pada ngilang aja ninggalin aku berdua sama si Evi. Ah… ternyata mereka PHP, but it’s oke. Mungkin trip ini memang harus dijalani berdua aja. Karena sudah terlanjur ditinggal tak ada pilihan lain selain menunggu hari lebih terang, so kami melanjutkan tidur menunggu alarm membangun kami jam 5 pagi.

Setelah melewati malam yang dingin (ciyee…), tapi serius benar-benar dingin. Jam 6 kurang kami melanjutkan perjalanan menuju Balekambang. Dari Kepanjen kami menuju arah Gondang Legi di sana ada penunjuk arah menuju ke Bantur dan setelah itu di setiap pertigaan ada penunjuk arah menuju Balekambang. Karena emang pada dasarnya Malang merupakan kota wisata, jadi semua penunjuk arahnya cukup jelas jadi bagi kalian yang ingin trip solo gak perlu kuatir bakalan nyasar.


Saat menuju Balekambang harus melewati hutan rimba, benar-benar pilihan tepat melanjutkan perjalanan saat pagi hari. Gak bisa bayangin seberapa seramnya kalo melewati hutan ini di malam hari. Semkain mendekati pantai jalanan mulai berkelok-kelok dengan tikunga tajam serta tanjakan dan turunan yang cukup ekstrim. Beruntung jalanan sudah di aspal sehingga tidak terlalu berbahaya. Berhubung kami tiba di sana sangat pagi, maka kami tidak membayar uang retribusi dan bebas markir motor dimana saja. 


  

 Sebenarnya dulu sudah pernah datang ke tempat ini, tapi pas jaman kuliah jadi datang benar-benar hanya main air. Maklum dulu hape belum mendukung untuk pota-poto. Setibanya di tempat ini rupanya sudah banyak yang berubah. Pantainya sudah ditata dengan lebih cantik, warung makan berjejer dengan rapi dan terdapat gazebo-gasebo mini untuk menikmati pantai dari pesisir. Mungkin yang paling baru adalah tulisan BALEKAMBANG BEACH degan huruf besar berwarna putih berdiri kokoh menyambut para pengunjung yang baru datang. Tak ingin membuang-buang waktu kami segera mengambil beberapa gambar di tulisan itu sebelum rame dan antri dengan orang-orang.



Karena masih termasuk dalam gugusan pantai selatan maka ombak disini sangat besar sehingga bagi para pengunjung dilarang berenang di pantai, kecuali di pesisir dekat jembatan menuju Pura. Oh iya karena disini ada Pura (Amerta Jati) yang sama seperti di Tanah Lot, seringkali orang salah kaprah bahwa Balekambang ini ada di Bali. Dari atas jembatan yang menghubungkan pantai dengan Pura, dibawah sana tampak ikan-ikan kecil berenang kesan kemari karena airnya yang sangat bening. Sempat tergoda untuk menceburkan diri, tapi berhubung masih ada pantai lain yang harus di datangi jadi kami hanya mengambil beberapa gambar saja. Menikmati pantai dari tempat ini emang gak ada bosannya. Sejauh mata memandang tampak biru dengan pasir putih mengelilingi pesisir pantai. Terdapat beberapa pepohonan yang menambah eksotiknya tempat ini. Jika tak ingat jam, rasanya ingin lebih lama di tempat ini.



Sebelum melanjutkan perjalanan ke Pantai Ngilyep kami mampir disebuah warung untuk mengisi perut. Cukup dengan 15ribu saja kita sudah bisa memilih menu makanan sesuai selera. Selesai makan, kami segera menuju ke Pantai Ngliyep. Menurut ibu pemilik warung, pantai Ngliyep masih sangat jauh masih butuh waktu 2 jam. Ahhh sempat bikin keder juga tapi toh akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan. Pantai Ngliyepnya diartikel selanjutnya ya, mau makan dulu.


Kalau anda mencari amannya saja dalam kehidupan, Anda memutuskan bahwa Anda tidak lagi ingin berkembang


 [Shirley Hufstaedler]

Kebun Teh Wonosari – Lawang

 
Setelah beberapa kali gagal ketempat ini, akhirnya berhasil di eksekusi juga tanggal 13 kemarin. Ini merupakan trip duo Toraja Evi-Merlin (EM) pertama dan berharap akan ada trip duo selanjutnya. Karena kalo katanya @raisarhmh menemukan travelmate itu tak sesederhana sering jalan bersama.Kita bisa saja sering jalan bersama tapi tak bisa menjadi travelmate karena karakter dan kesukaan kita berbeda. Beruntungnya karena selera trip kami hampir sama jadi bisa kesan kemari berdua aja.
 Sepulang dari gereja, saya langsung menuju ke kost Evi sebelum menuju Lawang. Perjalanan menuju ke Lawang tidak susah dan tidak mungkin nyasar. Hanya perlu mengikuti penunjuk jalan arah ke Malang. Beruntung siang itu tidak ada kendala apa-apa, termasuk gak macet sama sekali. Setibanya di Pasar Lawang kami langsung belok kanan sesuai penunjuk arah menuju ke Kebun Teh Wonosari.

Setelah jalan besar lalu belok menuju ke Kebun Teh Wonosari ini kami harus mengurangi kecepatan karena ada banyak mobil dan jalannya lebih kecil serta sedikit menanjak sehingga rada susah untuk menyalip mobil-mobil. Tapi paling tidak masih aspalan sehingga untuk cewe-cewe yang gak berpengalaman bawa motor ke luar kota kayak kami pun masih bisa melaluinya dengan aman.

Setibanya di Kebun Teh Wonosari kami langsung membayar uang retribusi sebesar 12ribu per orangnya. Sejak dari gerbang jalan kiri kanan sudah di hiasai oleh hijaunya tanaman dan pepohonan. Sayangnya jalannya berlubang sana sini sehingga kudu tetap fokus di jalan juga. Saat menuju parkiran, ternyata sudah di penuhi oleh mobil-mobil dan motor-motor dari pengunjung yang lain. Rupanya Kebun Teh Wonosari ini tetap menjadi tempat favorit bagi keluarga-keluarga untuk menghabiskan weekend bersama.
Selesai memarkir motor, kami langsung mengelilingi kebun teh ini. Sejauh mata memandang memang semuanya tampak hijau yang menyegarkan mata, udara mendadak terasa begitu segar dan serasa ingin menghirup sebanyak mungkin untuk stok pas pulang ke Surabaya.  Mungkin karena tempat ini didesain untuk arena rekreasi keluarga sehingga lebih banyak fasilitas untuk anak-anak seperti outbound, taman bermain anak, dan juga kebun binatang mini. Di sini juga ada kolam air panas yang sangat diminati mungkin karena udara disini cukup dingin.
 Untuk pengunjung yang datang bersama keluarga bisa menyewa penginapan yang juga berada dalam lokasi kebun teh ini. Atau jika ingin mencoba suasanalain, bisa berkemah di arena perkemahan yang sudah tersedia. Oh iya disini juga ada ATV yang bisa di sewa untuk mengelilingi kebun teh yang cukup luas ini. Gak mau yang mesin dan mau yang go green? Bisa coba sewa kuda aja kalau gitu.Untuk masalah harga saya kurang tahu, karena kebetulan kaki ini masih cukup kuat untuk mengelilingi kebun teh ini (Aslinya untuk menyehatkan dompet juga sih).
 Setelah puas menyaksikan pucuk teh dengan mata kepala sendiri, kami pun langsung menuju parkiran dan mengambil motor lalu meluncur ke Surabaya kembali. Untuk trip hari ini terbilang hemat aja, karena jalan-jalan gak perlu mahal kan. Cukup mengisi bensin 40rb untuk pergi dan pulang dan retribusi 12.000 per orangnya.Karena bensin bagi dua jadi biaya trip saya hari ini hanya 32.000 di luar uang makan.Gimana? Masih mau ngatain saya kebanyakan duit sampai dibuang-buang lewat jalan-jalan?

Godaan Pantai Klayar


Trip ke Pacitan ini merupakan salah satu trip dadakan yang saya lakoni. Baru tercetus ide join pas Hari H. Dari dulu emang sudah ngidam ke tempat ini, ya setelah di racuni teman-teman kalo pantai ini keren banget. Saat melihat hastag di IG #klayar wuidihh… fotonya sangar-sangar. Dengan mata melotot sambil ngedumel “di foto aja keren apalagi kalo bisa melihat dan menikmati dengan mata kepala sendiri”. Ahhh untuk saat itu hanya bisa mimpi sambil ngiler-ngiler tiap kali liat foto orang-orang yang nongol di home IG.

Tapi kalo yang namanya jodoh ya emang gak kemana. Sabtu siang buka-buka FB, ada notif seseorang memposting sesuatu di Jatim Backpacker, saya buka bentar hanya untuk menghilangkan tanda merah di notifikasi. Tapi jempol nih gak sengaja nyundul layar hape ke atas hingga yang terpampang di layar hape postingan dari seseorang yang tak dikenal bernama “Saiin Anas”. Isi postingannya intinya dia mau ke Pacitan dan lagi cari teman karena kekurangan orang dan harga yang ditawarkan sangat fantastis murahnya. Hahaha heran juga pas baca komen kebawah masih ada yang nawar, ckckck kurang kekinian rupanya nih orang jadi gak tau kalo bensin mahal. Setelah diskusi dengan travelmate saya si Evi, akhirnya kita setuju untuk join trip ini.
Saiin Anas and me in action
Malamnya saya otewe ke RS.AL tempat kita ngumpul. Setelah kenalan dan ba-bi-bu akhirnya kita capcuz Pacitan juga. Ahaa teman trip kali ini pada gokil semua, terutama si Saiin Anas rasanya mulutnya tuh gak capek komat-kamit, ada aja bahan yang ingin dimuntahkan dari mulutnya. New friends yang juga gak kalah gokil adalah si “Cucupwawaw” anak Djakarta yang bisa langsung nyambung dengan kegejean Merlin dan Evi. Berasa udah kenal lama dan baru reuninan setelah sekian tahun. Dia belajar satu kalimat Toraja yang sangat dia sukai “Susi na Seba”.Hahaha yang artinya “saya cakep” X_X.
Nih si anak Djakarta "Cucupwawaw"
Bagi saya pribadi, adalah sebuah keberuntungan ketika nge-trip dengan orang tak dikenal, namun dalam hitungan detik bisa langsung akrab karena cerewetnya sepadan dengan cerewetku. Bukankah trip itu tak melulu soal destinasi yang ingin dituju, tapi dengan siapa kita pergi kesana. Trip menjadi sempurna ketika bertemu dengan teman seperjalanan yang menyenangkan, gokil dan gak jaim dan yang pasti cocok sama style trip kita. Itulah salah satu keuntungan gak jadi anak rumahan bro, kamu bisa mengembangkan kemampuan sosialisasimu, jadi gak kuper. Mana tahu esok hari kita butuh bantuan atau justru bisa membantu. 

Icon Hot Pantai Klayar
 (karang Sphinx, pasir putih, ombak ganas)

Pembukaanya panjang yaah, yuk mari ke inti pembicaraan kita hari ini. Jam 7 pagi kami akhirnya tiba di Pantai Klayar setelah melewati jalan yang luar biasa, mulai dari jalan aspal yang meliuk-liuk bak cacing kepanasan, kelokan tajam, naik turun bukti dengan tanjakan dan turunan yang kebangetan, sampai ke jalan berbatu dan bertanah yang kasarnya macam wajah remaja puber yang lagi jerawatan. Saat kami tiba ternyata sudah cukup ramai, parkiran sudah di penuhi oleh mobil-mobil. Sebelum memulai penjelajahan, kami mampir disebuah warung untuk mengisi perut. Apalagi Si Evi sudah rewel aja kayak ikan Bawel gegara kelaparan tingkat dewa. Nih anak memang kalo kelaparan perlu hati-hati bisa berubah jadi Serigala berbulu Macan yang lagi sariawan (bisa bayangin gak?).

Pantai Klayar dari parkiran

Selesai sarapan, ganti baju dan gak lupa pake sunblock biar pas jadi anak kantoran lagi gak di hina-dina sama teman kantor, kami langsung cuz menuju tekape. Karena kita ber-17 orang, dengan keinginan yang berbeda-beda akhirnya kita terpisah dalam beberapa rombongan. Saya, Evi, Anas, & Cucup memilih langsung explore bagian Timur tempat karang raksasa yang mirip Sphinx berada. Saat berjalan menuju tempat tersebut beberapa kali di tawari oleh warga disana untuk naik motor ATV cukup dengan membayar 50ribu rupiah saja, tapi kami memilih untuk berjalan kaki selain sehat untuk tubuh, sehat untuk kantong juga.


Evi in action
Bagian barat bisa buat kecek-kecek tipis
Setelah sampai di tekape, saya sampai pada kesimpulan bahwa Pantai Klayar ini must visit sama orang-orang yang ngaku anak pantai karena menyajikan pantai yang berbeda dengan pantai lain. Kiri kanannya diapit oleh karang yang sangat kokoh dengan bentuk yang sangat unik. Salah satu icon yang paling terkenal ada batu karang yang bentuknya mirip Sphinx yang mejeng cantik di atas karang yang lain dengan gagahnya. Pasir putihnya  yang halus dan bersih sangat nyaman untuk ditempati berguling-guling atau dijejaki dengan kaki telanjang. Yang paling emejing adalah ombaknya yang benar-benar ganas siap menggulung setiap benda yang mendekatinya. Mungkin karena masih termasuk jejeran pantai selatan. Karena itu dilarang keras untuk berenang di tempat ini karena ombak bisa datang menggulung dengan tiba-tiba.Tapi kalo ingin sekedar cebur-cebur basah bisa di bibir pantai sebelah barat dekat parkiran, karena ombak di tempat ini tak seekstrim di bagian timur.
Buat tidur enak kok :D
Setelah puas menikmati ombak di bagian bawah, kami segera menuju ke bagian atas karang setelah membayar 2ribu perak. Selain pantai yang indah dan karang Sphinx, Klayar juga menawarkan fenomena yang jarang ditemukan yaitu Seruling Laut. Fenomena ini terjadi ketika ombak yang keras menghantam karang menyebabkan sebagian air masuk ke bawah batu sehingga menyembur ke atas sela-sela karang dan mengeluarkan suara seperti seruling.Tapi pas kesana, saya sama sekali tak mendengar bunyi seruling laut, entah telingaku yang kurang peka atau memang serulingnya tak mau berbunyi.


Harusnya Seruling Lautnya bunyi disekitar sini
Bahaya!!! Jangan di tiru
Oh iya jika teman-teman ke tempat ini perlu berhati-hati, jangan terlalu mepet ke pinggir karang. Selain berbahaya karena ombak yang ganas bisa datang menyapu semua yang ada diatas karang sewaktu-waktu, disana juga ada petugas yang siap meniup sempritan kalau kalian melanggar aturan. Kan tengsin juga ya diliatin orang banyak gegara melanggar aturan, lain lagi kalo emang sengaja mau cari perhatian. Kayak Si evi, pas mau foto di pinggir karang langsung di sempritin berkali-kali, kayak narapidana yang mau kabur dari penjara aje. Walhasil dia jadi pusat perhatian untuk beberapa menit lamanya. Katanya sih malunya sampai di ujung tanduk. 


TKP evi kena sumprit


Ada banyak hal yang bisa dilakukan di tempat ini. Mulai dari berenang kecek-kecek, selfi dan poto sana-sini, berburu binatang laut seperti teripang, ikan kecil dan sejenisnya, atau  sekedar menikmati kelapa muda di warung sambil mengamati kejadian di sekitar pantai . Jika ingin olah raga sedikit bisa juga naik ke atas bukit untuk menikmati pemandangan Pantai Klayar dari ketinggian.

Masih banyak sudut yang belum didatangin tapi waktu sudah menunjukkan jam 10. Sesuai perjanjian di awal kami harus segera menuju ke parkiran. Ahh benar-benar waktu yang terasa singkat, 3 jam rupanya tak cukup untuk memuaskan keinginan hati menjelajahi tempat ini. Sepertinya akan ada edisi kedua untuk eksplore Klayar dan sekitarnya. Banyu Tibo dan Goa Gong di skip dan save untuk trip selanjutnya karena beberapa teman sudah kelelahan.



HAPPINESS IS DISCOVERING NEW FRIENDS WHO ARE IDIOTS

Pantai Coro & Tebing Banyu Mulok

Pantai Coro

Pantai Coro & Banyu Mulok ini merupakan salah satu destinasi yang masuk dalam rangkaian Eksplore Tulung Agung setelah dari Kedung Tumpang (baca: )
Karena di Kedung Tumpang tak bisa bermain pasir dan air laut, so kami mencari destinasi selanjutnya yang benar-benar merupakan pantai. Sesuai titah Mas Andre Prasetyo, kami menuju ke Pantai Coro yang serangkaian dengan Banyu Mulok. Personilnya berkurang 3 nih karena ada yang pulang duluan, so hanya ada Andre, Alik, Didonk, Yadhi, Rian, Ujang, Cacink, Evi, dan saya.

Teman seperjalanan
Letak Pantai Coro tidak terlalu sulit ditemukan, cukup mengikuti jalur menuju ke Pantai Popoh yang sudah terkenal lebih duluan dari sodara-sodara pantainya yang lain.Mau gratis? Coba datang pagi-pagi, kalau beruntung kemungkinan tidak akan ditarik biaya apa-apa karena para petugas tiketnya belum datang, tapi di atas jam 8 kamu wajib membayar karcis sebesar 23.000 per motornya untuk 2 orang (bocoran teman sih katanya bisa di nego, entahlah). Terus saja berjalan lurus sampai menemukan penunjuk arah menuju ke Pantai Coro di sebelah kiri jalan.Belok kiri dari jalan utama, terus saja sampai menemukan parkiran. Dari parkiran hanya perlu berjalan naik turun bukit yang gak terlalu susah sekitar 20 menitan untuk sampai ke Pantai Coro.

Travelmate in action
Pantai Coro pada dasarnya berpasir putih dengan tekstur yang cukup halus sehingga cukup nyaman dijelajah dengan kaki telanjang. Ombaknya juga tidak terlalu besar, jadi jika ingin berenang atau sekedar bermain air masih cukup amanlah. Saat saya kesana cukup ramai tapi untung tak seramai Kedung Tumpang, jadi bisa menikmati tidur-tiduran di atas pasir tanpa kawatir ke-injak orang-orang (ini rodo alay). Jika kehausan or kelaparan, tak perlu kuatir disana sudah ada beberapa warung yang menjajakan makanan dan minuman.Toilet yang sekaligus tempat untuk mandi juga sudah cukup bagus dan aman, karena sudah tertutup kiri-kanan, depan-belakang, atas-bawah. 

Setelah mengambil beberapa gambar dan menikmati asinnya air laut, Evi dan saya menyusul teman-teman yang sudah lebih dahulu menuju ke Tebing Banyu Mulok. Dari Pantai Coro butuh waktu sekitar 15 menitan untuk sampai di Bukit Banyu Mulok. Di bukit ini sangat jarang pepohonan, jadi bersiap-siap saja untuk berjalan berpanas-panasan saat siang hari.

Pantai Coro atas bukit
Banyu Mulok (Sumber: FB Andre Prasetyo
Keistimewaan tempat ini selain karena gugusan karangnya, juga karena ombaknya yang besar bahkan bisa mencapai bibir tebing yang tinggi. Dentuman suaranya sangat keras, dan setiap kali ombak menerpa tebing, percikan air menimpa setiap pengunjung seperti rintik hujan. Oh iya di tempat ini ada garis merah yang merupakan batas aman bagi pengunjung dan tak boleh di lewati demi keamaan, so sebaiknya diikuti ya guys. Jika beruntung, teman-teman juga bisa melihat rangkaian warna-warni pelangi di antara tebing dan lautan.

Pemandangan dari Tebing Banyu Mulok

Pantai Anti Mainstream: Tegalwangi Beach & Balangan Beach

Tegal Wangi Beach
Hari kedua di Bali, kalau belum baca yang pertama silahkan klik di: Goes To Bali: Lovina (The Dolphin Beach) dan Kintamani.  Kalo sudah baca, yuk mare lanjut....
Setelah beristirahat dengan tenang kemarin malam , hari ini kami sudah siap untuk berpetualang lagi sebelum pulang menuju Surabaya. Hari ini memang dikhususkan sebagai “Beach Day” karena kita lagi butuh Vitamin Sea untuk menghitamkan kulit (kayak putih2 ae mau menghitamkan kulit). Ke Bali emang gak afdoll kalo gak menginjakkan kaki di salah satu pantainya, karena Bali emang terkenal sebagai surganya pantai.

Sesuai rekomendasi dari Evi, kami pun langsung menuju ke Balangan dan Tegal Wangi yang konon katanya anti mainstream. Tujuan awal sebenarnya mau ke Balangan Beach dulu, dengan mengandalkan GPS kami menyusuri jalan-jalan di Bali menuju ke area Jimbaran. Namun ternyata setelah melewati Jimbaran pantai yang lebih dulu kami temui adalah Tegalwangi yang lokasinya berdekatan dengan Hotel Ayana Resort.

Pemandangan Tegal Wangi  dari atas tebing


Setelah memarkir motor (masih gratis) kami sampai pada sebuah tebing. Pertama kami pikir salah jalan tapi setelah menyusuri jalan setapak akhirnya kami melihat dikejauhan sebuah pantai dengan pasir putih dan yang “wow” adalah ombaknya yang sangat besar. Yuhu, let’s start the party. Dari atas tebing tampak hanya ada segelintiran orang di bawah sana. Ini benar-benar hidden beach, anti mainstream bro. Di sebuah karang tampak 2 pria sedang memegang alat pancing, yah tempat ini rupanya bisa dijadikan tempat memancing juga.



Be careful, karena ombak disini lumayan ganas
 (JANGAN DITIRU!!!)
Yang emejing adalah dibawah sana tampak pasangan bule yang sedang pra wedding (ahhh…. Bikin envy aza). Tapi pantai ini memang terkenal sebagai salah satu spot favorite untuk prawedding. Selain karena keindahan karangnya, lautnya yang berwarna biru, pasir putih yang bersih, dan gulungan ombak yang dahsyat, tempat ini juga masih sepi dan jauh dari keramaian. Benar-benar perfect beach deh. Kalo gak ingat waktu rasanya ingin berlama-lama di tempat ini. Pengen liat sunsetnya juga, konon katanya sunset di tempat ini juga juara, sayang waktu terbatas jadi hanya bisa bermain air sebentar lalu berangkat menuju ke Balangan Beach.

Otw Balangan Beach
Jarak Tegal Wangi ke Balangan tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu sekitar 20 menitan (ini plus tanya2 sana-sini). Kalau Tegal Wangi juara karena sepi dari pengunjung, Balangan ini kebalikanya lebih rame dengan bule-bule(jarang liat WNI) tapi tenang saja masih tak seramai Kuta jadi masih bisa menikmati keheningan dalam deburan ombak. Salah satu ciri khas pantai ini adalah deretan Pohon Kelapa yang berbaris dengan rapi. Selain itu di sepanjang bibir pantai terdapat terop berwarna putih tulang seakan ingin menyatu dengan pasirnya yang berwarna putih juga.

Mari berjemur or berteduh?? Up to you...
Berbeda dengan Tegal Wangi yang benar-benar masih alami, disini sudah dijadikan sebagai salah satu sumber penghasilan oleh warga disana. Di sepanjang bibir pantai sudah ada beberapa pondok yang difungsikan sebagai café yang bisa dijadikan sebagai tempat berteduh sekaligus memesan makanan dan minuman. Jika ingin menginap di tempat ini tenang saja, anda bisa menyewa penginapan yang sudah tersedia

Penampakan Balangan Beach dari Tebing
Jika dibandingkan dengan Tegal Wangi, Pantai ini memiliki pasir yang lebih kasar dan mungkin sedikit tak nyaman saat menyusurinya dengan kaki telanjang. Tapi ombaknya juga tak kalah juara dengan Tegal Wangi, tak heran disepanjang pantai tampak papan-papan surfing yang berayun-ayun mengikuti irama ombak. Surfing mungkin memang menjadi tujuan utama orang-orang datang ke tempat ini selain untuk berenang. Kegiatan lain yaitu berjemur ala bule-bule sambil membaca sebuah buku atau sekedar bermeditasi. Silahkan pilih kegiatan mana yang akan kamu lakukan untuk merayakan hari ditempat ini.

Jangan tinggalkan yang lain kecuali jejak ^_^


The Koplak Genk

QUOTES:
WE CAN’T CHOOSE WHERE WE COME FROM


BUT WE CAN CHOOSE WHERE WE WANT TO TRAVEL
Powered by Blogger.

Search This Blog

Blog Archive

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

footer logo