Showing posts with label Backpacker. Show all posts
Showing posts with label Backpacker. Show all posts

Pantai Bara, Apparalang dan Marumasa (Bulukumba Hari-2)




Di hari kedua, sebenarnya kami berencana bangun pagi karena pengen berburu sunrise. Tapi apa daya rasa kantuk lebih kuat daripada godaan sunrise. Lagipula dari penginapan sebenarnya bisa menikmati sunrise juga tapi pagi itu berkabut sehingga hanya bisa menikmati sedikit semburat oranye dari matahari yang perlahan terbit terhalang oleh awan tebal.

Setelah bersiap-siap kami langsung mengambil motor dan mulai mencari pantai Bara. Sebenarnya kami juga belum mengetahui letak lokasi pantai ini jadi hanya dengan bermodalkan GPS kami berusaha menemukan tempatnya. Sempat bertanya ke warga lokal tapi petunjuk yang diberikan kurang jelas jadi harus mencari sendiri.

Singkat cerita setelah nyasar sana-sini dan tanya sana-sini kami sampai juga di pantai Bara which is ternyata masih satu lokasi sama pantai Tanjung Bira. Kalo Tanjung Bira lurus saja, nah kalo mau ke Bara kudu belok kanan sebelum Bira. Ikuti jalan terus sampai ketemu pertigaan lalu belok kanan tinggal ikutin jalan sampai ketemu jalan aspal lagi (kalo bingung Gunakan Penduduk Sekitar-GPS). Nah yang bikin happy itu karena kami datangnya kepagian jadi kami masuk ketempat ini gratis soalnya penjaga loket belum ada. Sayang juga kan kalo harus bayar dua kali padahal kemarin udah bayar. Nah kalo teman gak mau ngeluarin kocek lebih datanglah pagi-pagi selain gratis mungkin bisa menikmati sunrise pula. Atau kalo buat itinerary sebaiknya pantai Tanjung Bira dan pantai Bara dijadiin satu hari saja. Tapi kalo kalian cukup dermawan boleh bolak-balik kesini, lumayan untuk membantu perekonomian warga disini :p

Pantai Bara

Jalan ke Bara ini lumayan jelek karena tidak semuanya beraspal. Tapi tenang aja kalo cewek-cewek kayak kami bisa sampai pakai motor kalian juga pasti bisa asal hati-hati aja. Sesampainya di Bara tak tampak satu orang pun kecuali kami dan seekor kucing coklat manis. Wuah serasa pantai milik sendiri pokoknya, sampai beberapa waktu kemudian beberapa gerombolan anak muda memasuki kawasan ini dan tampak seorang wisatawan asing yang lalu-lalang entah mencari apa. Sebenarnya di kawasan ini ada beberapa warung tapi tampaknya mereka masih terlelap setelah bangun pagi untuk sahur. Jadilah hanya nyanyian dari debur ombak yang menemani keasyikan kami menikmati pantai ini.


Tidak beda jauh dengan pantai Bira, pasir di pantai ini pun sangat lembut kayak tepung. Btw kalo kalian datang pas ramai mungkin kalian bakalan disuru bayar segala macam. Karena pas disana hampir semua ada tulisan disewakan mulai dari kursi panjang sampai palang yang ada tulisan Pantai Bara pun kalian harus bayar. Well ini yang rada bikin gondok sih kalo di Indonesia apa-apa kudu bayar sampai pipis pun iya. Beda sama di LN hampir semua pantai bisa dinikmati gratis dan dengan fasilitas yang jauh lebih baik. Emang gak bisa disalahin sih karena yang bikin fasilitas ditempat ini mungkin para warga sementara kalo di LN difasilitasi oleh pemerintah. Jadi warga pun menjadikan tempat ini sebagai lahan mata pencaharian.


Bayangin aja ya kalo mau hitung-hitungan misalnya masuk diarea ini di loket paling depan bayar tiket masuk 15ribu, parkir 2ribu, sampai di Bara bayar parkir lagi untuk mobil 10ribu dan motor 5 ribu, lalu turun ke bawah kalo mau foto di tulisan bayar 10-15 ribu, kalo mau foto diayunan ala-ala Gili Trawangan bayar lagi, lalu toliet 2ribu, kalo mau duduk di kursi bayar lagi 10-15 ribu. Nah loh berapa kira-kira yang harus kalian habiskan untuk menikmati sebuah pantai. Anyway lupakan soal itu karena saya tetap bahagia tidak mengeluarkan sepeser pun untuk pantai ini karena datangnya pagi banget.


Secara garis besar pantai Bara ini hampir mirip dengan pantai Bira. Air laut yang jernih, pasir putih yang halus dan langit yang biru gambaran sempurna untuk sebuah pantai. Bedanya karena disepanjang pesisir pantai ini dihiasi oleh pohon-pohon kelapa yang tidak saya temui kemarin di pantai Bira. Katanya tempat ini juga tidak seramai pantai Bira mungkin karena letaknya yang lebih jauh dari dan jalannya yang tidak terlalu bagus. Tapi untuk penikmat pantai sepi yang jauh dari hingar-bingar, pantai ini yang terbaik buat kami. Selesai dari pantai Bara kami bergegas pulang kembali menuju ke penginapan karena sarapan sudah menanti kami disana.


Pantai Tebing Apparalang


Lokasi Apparalang ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari penginapan kami (menurut GPS 30 menitan), tapi berhubung jalannya lebih parah daripada jalan ke Bara jadi kami menghabiskan hampir 1 jam lebih di perjalanan (termasuk nyasar). Nah untuk ketempat ini ada 2 jalur. Jalur pertama lebih dekat tapi lumayan curam dan jalur kedua lebih jauh tapi lebih landai. Kami pada akhirnya melewati kedua jalur ini. Berangkatnya kami melewati jalur yang lebih landai tapi ternyata lumayan jauh juga dan jalannya pun tidak begitu bersahabat. Mendekati lokasi Apparalang jalanan semakin parah, curam dan bebatu-batu jadi harus tambah hati-hati lagi. Mungkin kalo kesini dimusim hujan saya tidak akan berani mengendarai motor seorang diri. Sesampai di lokasi kami langsung memarkirkan motor kami dan berjalan menuju ke tebing. Oh iya kalo ketempat ini kalian hanya perlu membayar parkiran 5ribu per motor. Mau foto dan duduk dimana saja semuanya gratis.



Pemandangan dari tempat ini sangat cantik bikin betah berlama-lama duduk menikmati deburan ombak yang menghempas batu karang. Apalagi saat itu langit sedang biru cerah bikin pemandangan tambah breathtaking. Terang saja saya gak bisa berhenti ngucapin "wow" karena terkagum-kagum oleh keindahan karya Tuhan yang satu ini. Kalo kalian sudah puas dengan pemandangan laut dari tebing yang tinggi, kita juga bisa turun kebawah melewati tangga-tangga untuk menikmati deburan ombak lebih dekat. Bisa dikata kami sangat beruntung saat kesini karena hanya ada beberapa orang saja sehingga benar-benar bisa menikmati nyanyian laut tanpa terpolusi oleh hiruk-pikuk manusia.


Ada banyak tempat yang bisa dijelajah sebenarnya kalo ketempat ini. Jadi kalo saya punya waktu banyak saya akan memilih menghabiskan waktu seharian disini apalagi ada gasebo tempat yang nyaman untuk berteduh dan leyeh-leyeh, mungkin bakalan jatuh tertidur pula. Tapi karena masih ada tempat lain yang harus didatangi jadi kami tidak bisa berlama-lama di tempat ini.

Saat kami pulang kami memilih melewati jalur yang lebih curam tapi ternyata jaraknya jauh lebih dekat daripada jalur keberangkatan kami. Jadi buat teman-teman yang kesini bisa menimbang-nimbang sendiri mau jalan yang dekat tapi curam atau yang landai tapi jauh. Kalo saya pribadi lebih memilih jalur yang lebih dekat meskipun curam tapi sudah ditembok jadi tidak begitu seram, dibandingkan berkendara jauh dengan jalan yang landai tapi juga berbatu-batu rasanya nyelekit dibokong.


Pantai Marumasa

Sepulangnya dari Apparalang kami melajukan motor menuju ke Pantai Marumasa yang searah dengan jalan pulang menuju penginapan. Pantai ini mungkin tidak setenar Bira dan Bara karena memang tidak terlalu dipromosikan oleh pemerintah setempat sebagai tempat wisata. Mungkin itulah sebabnya masuk ke tempat ini gratis dan bisa parkir dimana saja.

Beberapa alasan yang mungkin bikin beberapa orang memutuskan kesini karena terdapat beberapa spot untuk foto yang instagramable banget di atas tebing-tebing yang langsung mengarah ke laut lepas. Tapi karena kami sudah cukup puas dengan pemandangan laut dari ketinggian tebing Apparalang jadi kami tidak berniat untuk mendaki tebing untuk sekedar foto-foto disana.

Tampak kumuh karena sampah dimana-mana 


Secara mendasar pantai ini memiliki pasir putih yang lagi-lagi lembut bak tepung beras dengan air laut yang jernih tapi deburan ombak yang lebih besar. Yang membedakan dari pantai lain yaitu sepanjang bibir pantai ini dipenuhi oleh perahu-perahu nelayan yang memarkirkan perahu mereka disana setelah melaut. Ada banyak pondok-pondok alakadarnya dibangun disepanjang bibir pantai. Yang lumayan mengganggu mata adalah sampah yang bertebar dimana-mana. So gaes, kalo jalan-jalan jangan hanya sibuk foto-foto tapi bawa sampahmu pulang biar tidak menodai keindahan lautan kita.




Kami tidak bisa berlama-lama ditempat ini karena tidak ada satu orang pun yang berjualan padahal perut kami sudah keruyukan karena belum makan siang. Jadi setelah puas bermain ayunan yang kebetulan kami temukan disana kami pun bergegas meninggalkan pantai ini.

Well sebenarnya setelah pantai ini itinerary kami adalah kembali ke pantai Bira untuk menyeberang menuju ke Pulau Kambing atau Pulau Liukang untuk melakukan snorkeling, tapi berhubung hari sudah sore dan sudah kelelahan jadi tempat ini kami skip untuk penjelajahan di lain waktu (mungkin).

Oke gaes sekian sharing pengalaman short escaped saya ke Bulukumba dengan segudang pantai cantiknya sampai ketemu di jejak kaki yang lain. Anyway sekedar info total pengeluaran kami hanya sekitar 600ribu all in. Sudah termasuk makan dan jajan-jajan yang tidak tercantum dalam kisah diatas, cukup murah bukan??


You don't have to be rich to travel well.

LIBURAN DADAKAN KE JEJU - KOREA SELATAN (Part-1)





Yes... Liburan saya kali ini ke Jeju benar-benar dadakan. Gimana enggak, paspor yang udah hampir ekspired baru selesai hari jumat dan Minggu siangnya udah harus terbang. Tapi kalo memang namanya rejeki gak bakalan kemana. Jadi ceritanya gak ada niat buat ke Korea Selatan lagi tapi tiba-tiba nemu tour yang open trip kesana dengan harga miring cukup 5,3 juta saja untuk 2N3D. Yes dengan modal segitu kalian udah bisa nginjak Korea cynn... (meskipun hanya Jeju saja). Oh ya kenapa bisa dadakan ke Korea Selatan? Bukannya harus pakai Visa? Yes ke Korea Selatan butuh visa tapi Jeju FREE VISA gaesss..

Nah loh makanya buat kalian yang ngebet banget pengen ketemu oppa-oppa asli tapi masih terkendala sama visa coba icip-icip ke Jeju dulu aja. Jangan salah Jeju ini wajib di kunjungi karena sudah dinobatkan menjadi New 7 Wonders of Nature dan juga mendapat 2 gelar dari UNESCO (Global Geopark & World Heritage) karena alamnya yang sangat indah. Tidak heran jika pemerintah Korsel lagi gencar-gencarnya mempromosikan pulau ini sampai bisa Free Visa. Apalagi tempat ini sering banget dijadiin tempat shooting drama korea jadi cocoklah buat kalian pecinta drakor.

Karena ini ceritanya ikut tour jadi saya gak bakalan paparin cara hemat kesana atau tips-tips seperti yang biasanya saya paparin kalo backpacker sendiri, secara saya tinggal duduk manis di mobil ngikutin jadwal dari tour. Karena terbilang singkat memang jadwalnya sangat padat. Berikut beberapa tempat yang sempat kami datangi. Siapa tahu bisa dicontek buat kalian yang mau ke Jeju.

Day 1:

1. Drop From Airport
Hari Minggu siang kami landing di Jeju Airport setelah melewati pihak imigrasi kami langsung ke luar dan di sambut oleh 2 orang Ajussi yang menenteng tulisan DP. Yes ini tour backpacker jadi kudu mandiri karena tidak di temani oleh yang empunya tour. Hanya ada 1 orang (mba Hesti) yang mungkin oleh DP ditunjuk sebagai koordinator tour kami tapi juga baru pertama kali ke Jeju.


2. Lunch
Karena dijadwalnya sudah ditulis sehabis dari airport adalah lunch maka oleh Ajussi itu kami langsung dibawa ke sebuah restaurant. Nah disini mulailah kesulitan dalam bahasa muncul. Karena si Ajussi tidak tahu bahasa Inggris dan yang empunya restaurant juga tak tahu bahasa Inggris sehingga ketika kami mau memesan makanan agak sulit untuk mengerti satu sama lain. Tidak heran jika diskusi berjalan alot dan memakan waktu hampir 30 menit. Hahaha dari yang laper jadi udah gak mood makan. 



Singkat cerita kami akhirnya makan juga dengan beberapa side dish (kimchi, taoge, ikan teri dan beberapa daun-daunan serta bawang-bawangan) seperti biasanya dan seekor ikan yang di panggang (mackerel panggang) dan semangkuk soup cukup dengan membayar 10ribu won. Entah karena lapar atau memang enak tapi rasa ikannya sangat nikmat di lidah. Lumayanlah ya untuk hari pertama.

3. Maze Land
Setelah menyelesaikan makanan tanpa tersisa kami pun segera melanjutkan perjalanan. Rupanya hari ini cuaca kurang mendukung sehingga gerimis sepanjang perjalanan. Bahkan saat kami semakin mendekati lokasi Maze Land ini hujan pun semakin deras. Yang bikin ngakak adalah karena si Ajussi sudah menyalakan penghangat tapi malah di protes sama ibu-ibu yang duduk didepan karena mereka kepanasan dan malah minta AC. Terang saja si Ajussi membelalak, kalo bisa saya artiin mungkin dia bilang gini: apa??? Dingin-dingin gini malah pake AC? Dari kutub mana bu?? Hahaha 





Untuk masuk ke Maze Land ini cukup dengan membayar 9000 won jika dalam group. Apa yang bisa dilihat di tempat ini? Tempat ini merupakan theme park yang berupa labirin batu terpanjang didunia (5,3 km). Kalo di Malang hampir mirip sama Labirin Coban Rondo tapi versi kecilnya. Selain pemandangannya yang cantik tempat ini juga konon bermanfaat buat kesehatan karena bebatuan labirin ini memiliki radiasi inframerah yang menyehatkan.

4. Sangumburi Crater
Tempat ini merupakan sebuah kawah yang terbentuk akibat letusan gunung bertahun-tahun lalu. Karena terdapat banyak tumbuhan dan memiliki pemandangan yang cantik tempat ini menjadi salah satu objek wisata favorit dari para pelancong. Oleh pengelolah bahkan dibangunkan jalan setapak untuk mempermudah bagi pengunjung untuk mengelilingi dan menikmati tempat sekitar. Sayangnya karena hari itu hujan bertambah deras sehingga bagian ini kami skip. Padahal jika di lihat dari gambar-gambar yang beredar di internet tempat ini memiliki pemandangan alam yang sangat indah.

Sehabis dari Maze Land kami langsung menuju ke hostel tempat kami menginap. Tempat penginapan kami adalah Gudeok Guest House yang terdiri dari beberapa lantai (kalo gak salah 6 lantai). Tempatnya epik banget dan pemiliknya pun sangat ramah. Sepertinya sudah banyak backpacker dari seluruh dunia yang pernah menginap di tempat ini karena terdapat banyak ungkapan terima kasih disertai foto dibeberapa dinding. 



Setiap lantai memiliki perbotan yang unik-unik bikin betah berlama-lama di tempat ini. Selain itu di lantai paling atas (rooftop) memiliki tempat bersantai yang sangat cozy banget cocok buat kalian pecinta tempat instagramabel. Untuk kamarnya sendiri macam-macam. Ada yang sekamar berisi 2, 4 atau 6 orang. Kebetulan kamar saya yang sekamar berempat dan didalamnya sudah ada kamar mandi jadi gak perlu berebutan dengan penghuni lainnya. Untuk harga mungkin kalian bisa cek sendiri langsung ke website.



-CONTINUE-








"Must Visit" Place in Brisbane

BRISBANE


Hey gaes berhubung saya masih di Brisbane sekarang so waktunya nulis "must visit" place yang ada di Brisbane. Sebenarnya Brisbane ini hampir mirip kayak Sydney hanya beda di keramaiannya saja karena Brisbane belum seramai dan se-crowded kota Sydney. Nah berikut ini saya bakalan paparin beberapa tempat yang bisa kalian kunjungi kalo udah datang di Brisbane.

1. City Hall
Tempat yang pertama kali wajib kamu datangi adalah City Hall. Tempat ini berlokasi tepat di tengah-tengah City Brisbane, bisa di akses dengan train atau bus. Karena merupakan pusat keramaian dari Brisbane tidak heran jika ditempat ini selalu ada acara dan festival-festival yang bisa dinikmati gratis. Yang unik dari City Hall ini karena bangunannya yang tipikal bangunan kuno ala Italian Renaissance membuatnya tampak berbeda dari bangunan disekitarnya. Di bagian paling atas dari tower terdapat jam yang menjadi salah satu icon tempat ini. Kalo udah datang ke King George Square jangan lupa selfie depan bangunan ini. 

Selain itu karena berdekatan dengan Queen Street maka tempat ini juga cocok dikunjungi oleh penggila kuliner dan shopping. Karena di sepanjang Queen Street terdapat banyak outlet yang menjual segala macam barang dan makanan. Tinggal jalan menyebrangi jalan sekitar 2 menit dan kaliAn sudah berada di pusat perbelanjaan kota Brisbane. 

Masih di daerah Queen Street kalian juga bisa coba mengunjungi Casino Brisbane yang merupakan salah satu dari beberapa Casino terbesar di Australia. Eits saya menyarankan tempat ini bukan untuk berjudi loh ya tapi karena bangunan Casino ini juga berbentuk unik ala bangunan kuno jaman bahula jadi cocok buat kamu posting di instagrammu. Well kalo mau coba peruntungan dan mau gambling resiko ditanggung pemirsa sendiri. 

Gereja sekitar City Hall


Clock Tower


City Hall di siang hari

City Hall di malam hari
Casino



2. South Bank Parkland
Nah kalo ini salah satu tempat yang paling sering saya datangi selama saya di Brisbane. Karena tiap kali mau ketemu kawan baru pasti janjiannya di tempat ini. Kalo kalian ketempat ini saran saya sediakan waktu seharian karena tempat ini sangat luas. Pertama, kalian kudu datang di sebuah taman dengan letter balok BRISBANE ditengah-tengahnya. Yes, ini merupakan salah satu icon dari kota ini, jadi kurang afdol kalo belum selfie di tempat ini.





Nah setelah itu kalian bisa memulai tour sekitar tempat ini. ada wheel of Brisbane tempat kamu bisa melihat pemandangan kota Brisbane dari ketinggian. Atau bisa berenang ria di swimming pool atau beach buatan yang benar-benar mirip beach asli lengkap dengan ombak dan pasirnya. Tapi kalian kudu tahan sama aroma semerbak chemical dari air disini ya gaes. Kalo gak mau berenang mungkin cukup duduk santai di rerumputan yang banyak ditemui di tempat ini. Memang tempat ini akan selalu ramai kapan pun kalian datang karena merupakan salah satu tempat rekreasi favorit masyarakat di kota ini. Kalo laper tinggal melipir ke jalan sebelahnya karena disana berbaris rapi berbagai macam kuliner dari berbagai negara dengan harga yang masih lumayan bisa diterima dikantung backpacker.

Wheel of Brisbane
Numpang eksis
Pantai Buatan di South Bank


3. Kangaroo Point 
Tempat ini paling bagus didatangi pas malam hari karena kita bisa menikmati kerlap-kerlip kota Brisbane di malam hari dengan view river yang menawan. Sebenarnya banyak hal yang bisa di lakukan di tempat ini salah satu yang paling digemari oleh para backpacker adalah rock climbing. Jika kalian tidak punya peralatan sendiri bisa tetap menikmati aktivitas menantang ini. Cukup membayar sekitar 50-60 AUD saja dan kalian bisa bergelantungan ria di tebing Kangaroo Point. Selain itu orang-orang biasanya kesini untuk running atau olah raga yang lain. Karena disepanjang daerah ini terdapat taman dan pathway untuk olahraga. Kalo mau barbecue-an ria juga bisa dilakukan karena tersedia barbecue area ditempat ini dan itu Free.

View dari Kangaroo Point

Kangaroo Point

4. Mount Coot-tha Lookout
Nah kalo mau lihat pemandangan kota Brisbane dari ketinggian disini tempatnya. Jaraknya yang tidak telrlau jauh dari City membuat tempat ini menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi kalo sudah ke Brisbane. Kalian bisa menikmati breakfast atau dinner dengan pemandangan menawan dari salah satu kafe yang tepat berada diarea sekitar Lookout ini. Selain itu tidak jauh dari tempat ini juga terdapat Botanical Garden tempat kalian bisa menikmati koleksi tanaman-tanaman cantik yang beragam. Saran saya sih sebaiknya datang menjelang sore hari jadi kalian bisa menikmati view pas daytime dan dapat view malam harinya juga.


Botanical Garden
Botanical Garden

View di siang hari

Tempat tertinggi di Mt. Coot-tha

View di malam hari
5. Mainly Harbour Village
Kalo Darwin punya Cullen Bay maka Brisbane punya Mainly Harboure yang tempatnya persis kayak Cullen Bay. Terdapat jejeran kapal yang menjadi view dari kafe-kafe yang ada disepanjang area harbour ini. Tempat ini sangat cocok didatangi untuk piknik atau sekedar jalan santai bersama keluarga. Tempat ini tidak sengaja saya temukan pas ada interview di salah satu kafe ditempat ini. Meskipun pada akhirnya nggak keterima tapi tetep bahagia karena bisa menemukan tempat menawan ini. Karena sesungguhnya tidak banyak pantai yan bisa dinikmati di Brisbane jadi tempat ini merupakan salah satu tempat favorit saya.


Mainly Beach

Harbour

Nah loh ini Cullen Bay atau Mainly Harbour?

6. Lone Pine Koala Sanctuary
Nah kalo tempat ini wajib didatangi oleh pecinta binatang terutama Koala. Karena gak semua tempat di Australia membolehkan kalian menyentuh apalagi berpelukan dengan makhluk Tuhan yang lucu ini. Sebenarnya saya belum pernah kesana tapi menurut info teman (baca:Erni) untuk masuk ketempat ini cukup membayar 36AUD untuk sekali masuk atau 58 AUD yearly kalo mau bolak-balik kesana kali aja gak ada yang bisa dipeluk jadi pelukkannya sama koala aja bolak-balik. Untuk bisa menuju ketempat ini juga cukup mudah karena bisa menggunakan publik transportasi seperti bus.

Doc Google




BETTER TO SEE SOMETHING ONCE THAN TO HEAR ABOUT IT A THOUSAND TIMES







Backpacker ke Korea Selatan (Part 3) Keliling Gyeongju, gudangnya sejarah Korea Selatan




Setelah seharian kemarin mengelilingi Busan full jalan kaki (baca disini), akhirnya kaki gempor juga. Untung aja ada teman-teman yang bawa konterpen jadi lumayan mengurangi rasa lelah di kaki (ini bukan iklan). Hari kedua kita semua bangun telat, mungkin karena kelelahan juga. Kita baru keluar hostel jam 10an dan ternyata di luar cuaca lagi gak mendukung karena hujan. Gak ada satupun dari kita yang bawa payung, mana jaketku gak pake topi (ini gara-gara salah kostum). Beruntung mba Zerlita kelebihan topi jadi saya dipinjemin topi coklatnya untuk melindungi kepala dari hujan (khamsahamnida Unnie Zerlita ^_^).

Area di sekitar Hostel Santa
Meskipun gerimis kami tetap on fire melangkahkan kaki mengelilingi Gyeongju yang merupakan bekas ibukota kerjaan Korea masa lalu. Yang juara dari kota ini adalah kebersihannya dan ketenangan kotanya (mungkin karena bukan kota besar kali ya). Selain itu Gyeongju juga terkenal sebagai kota Tumuli (berasal dari kata “tomb” yang artinya kuburan) karena disini ada banyak sekali komplek kuburan dari jaman dahulu. Kalo mau keliling tempat ini bisa naik bus atau taxi, tapi karena kami tepat berada di daerah objek wisatanya jadi jalan kaki saja bisa.
Sakuranya belum mekar
Awalnya tujuan kami adalah untuk menikmati Sakura di sepanjang jalan menuju ke Daerungwon Tomb, tapi berhubung cuaca yang kurang mendukung dan tidak bisa di prediksi ternyata bunga Sakurnya belum terlalu mekar. Sudah ada yang mekar tapi baru satu dua aja jadi belum terlalu bagus. So, kami langsung menuju ke Daerungwon dan berencana untuk balik ketempat ini lagi setelah keliling Seoul.

Daerungwon Tomb Complex

Ternyata bukan hanya Toraja aja yang mempopulerkan kuburan sebagai objek wisata. Di Gyeongju ini salah satu objek wisata yang terkenal adalah “Daerungwon Tomb Complex” yaitu kompleks kuburan Raja dari Dinasti Shilla. Ada 23 kuburan besar yang ada disini, tapi yang paling terkenal ada Cheonmachong dan Hwangnamdaechong (jangan maksa baca kalo susah haha). Sama kayak di drakor  yang sering saya nonton, bentuk kuburannya bulat seperti gundukan tanah dalam versi besar jadi tampak seperti bukit dan tanpa tanda nama orang yang dikuburkan disana. 
Yang lain beli tiket, tinggalah saya selpi dgn topi pinjaman
Setelah melewati gerbang tempat menunjukkaan tiket yang sudah dibayar, kita akan melewati jejeran hutan pinus. Meski pemandangan disini sudah bagus, tapi belum seberapa dengan pemandangan dibawah sana. Jalan saja terus kebawah maka akan kelihatan gundukan-gundukan dari kuburan yang dikelilingi pepohonan warna kuning dan putih. Dipenjuru kompleks kuburan ini terdengar lantunan musik yang agak mellow gitu entah lagu apa tapi mungkin untuk menambah kekhidmatan orang-orang yang berziarah kesini. 
Area di Sekitar Daerungwon Tomb
Kami lalu  terus menyusuri jalannya dan sampai di sebuah museum tempat menyimpan duplikat dari barang-barang peninggalan kerajaan, seperti mahkota dan aksesoris kerajaan lainnya. Bagi pecinta sejarah tempat ini wajib didatangi. Tapi buat saya yang lebih suka pemandangan, lebih betah menghabiskan waktu di luar menikmati taman yang penuh pepohonan dengan bunga mulai bermekaran seperti  sakura yang berwarna pink, bunga berwarna putih dan juga kuning (entah pohon apa). Sayang saat kesana cuaca lagi gerimis dan mendung, andai saja langitnya biru saat itu pasti bakalan eksotik banget kolborasinya. Untuk masuk ke tempat ini kita kudu merogoh kocek sekitar 3000 won per orangnya.
Duplikat peninggalan kerjaan 

Pas keluar dari kompleks ini kami melewati sebuah bangunan berbentuk kuil mini yang dari dalamnya terdengar lantunan musik dan suara orang yang melantunkan semacam sajak dalam bahasa Korea. Karena merasa penasaran kami melipir ketempat ini. Ternyata sedang berlangsung semacam upacara gitu (mungkin upacara pelantikan). Jadi ada beberapa ajussi dan haraboji yang sedang berbaris lengkap dengan seragam tradisional khas Korea. Satu group berdiri di sebelah kiri dengan seragam berwarna hitam dan disebelah kanan satu group dengan pakaian berwarna biru sambil memegang batangan putih dan berpakaian lengkap dengan aksesoris seperti mentri-mentri kerajaan kalo di drakor. Saya mengartikan mungkin yang pakaian hitam lebih rendah posisinya karena mereka tidak memakai tenda sama sekali padahal saat itu hujan mulai deras. Sedikit iba melihat haraboji yang harus berdiri diam ditengah hujan yang mengguyur badannya. Kagum dengan penghargaan mereka terhadap budaya mereka sendiri.
 
Mengintip Upacara di Gyeongju
Cheomseongdae Observatory

Karena letaknya bersebelahan dengan Daerungwon jadi ketempat ini cukup berjalan kaki saja. Di tempat ini terdapat sebuah observatory yang berbentuk menara dari batu yang tidak terlalu tinggi tapi yang membuatnya terkenal adalah observatory ini merupakan yang tertua di Asia. Dibangun oleh Queen Seondeok pada tahun 632-647 (kalo yang pernah nonton drakor Queen Seondeok pasti tau tempat ini). Dulunya observatory ini digunakan untuk meramal cuaca yang sangat bermanfaat disektor agrikultur pada jaman itu.

Cheomseongdae Observatory
Jika terus berjalan sampai kedalam kita akan melewati taman dengan pepohonan yang akan berwarna-warni kalo datangnya pas autumn, tapi karena ini lagi spring jadi pohonnya gersang gitu. Diarea ini juga ada bunga kanola yang berwarna kuning terang jika berbunga, tapi waktu kesana masih belum berbunga juga jadi kami terus berjalan sampai ke ujung.  Diujung jalan ini ada bangunan yang dibuat jadi semacam bisokop mini untuk menonton sejarah kerjaan Silla dijaman dahulu. Awalnya saya tidak sadar kalo itu hanya miniatur saja karena mereka hebat banget buatnya sampe mirip wajah orang beneran. Setelah mengamati lebih seksama baru kelihatan kalo itu hanya animasi. Tempat ini wajib didatangi juga buat yang suka sejarah.


Anapji Pond
Dari Cheomseongdae Observatory kami lalu melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya, dengan menggunakan bus kami sampai di Anapji Pond yang terletak di Taman Nasional Gyeongju. Pertama kali masuk gerbang kami disambut taman yang sangat luas tanpa bunga hanya tampak seperti tumput kering yang terpotong rapi berwarna kuning kecoklatan (mungkin karena masih awal spring kali ya jadi bunganya masih malu-malu kucing). 
Anapji Pond

Sebenarnya kalo lihat foto-foto di google tempat ini paling bagus di datangi pas malam hari karena lampu-lampu di sekitar kuil mempercantik tempat ini. Di salah satu bangunan terdapat sejarah singkat mengenai kerajaan Silla yang dulu ada disini. Tapi kami gak terlalu lama disini karena tujuan utama ketempat ini tentu saja melihat Kolam Anap yang merupakan kolam buatan. Kalo datangnya diwaktu yang tepat kolam ini akan dipenuhi dengan bunga teratai yang bermekaran dan pasti pemandangannya bakalan jauh lebih cantik. Karena ujan mulai deres lagi, jadi kami mempercepat langkah kaki meninggalkan tempat ini.

Anapji Pond

Bulguksa Temple
Tempat selanjutnya adalah Bulguksa Temple. Tempat ini wajib didatangi juga karena didaulat sebagai Warisan Budaya oleh UNESCO dan berusia ratusan tahun. Selain itu tempat ini juga sering dijadikan tempat syuting buat drama Korea, so buat pecinta drakor ini tempat yang wajib di datangi. Kalo pas musim gugur daun dari pohon disekitar tempat ini tampak warna-warni jadi bakalan cantik banget. Waktu kesini pun meski tanpa bunga warna-warni pemandangannya tetap indah, apalagi kalo musim gugur. Selain itu karena merupakan kompleks kuli jadi tentunya yang mendominasi ya kuil-kuil kuno juga. Kalo mau kesini persiapkan tenaga yang banyak karena area kompleks ini sangat luas. Berhubung kaki saya sudah gak kuat jadi saya gak sempat mendatangi tempat ini satu per satu. Yang pasti memang tempatnya sangat bagus apalagi saat itu sakura juga mulai bermekaran di beberapa tempat. Sebenarnya hari masih sore, tapi karena badan sudah tidak bisa di ajak kompromi, akhirnya kami memilih untuk balik ke hostel dan mengistirahatkan badan sebelum memulai perjalanan esok hari.


Bulguksa Temple
Maafkan kenarsisan kami
Maafkan kenarsisanku




Powered by Blogger.

Search This Blog

Blog Archive

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

footer logo