Duo Toraja Goes To Malang (Balekambang & Ngliyep) - Part I


Ada tanggal merah di kalender itu rasanya gak afdol kalo di rumah aja. Sayangnya tanggal merah kali ini merupakan perayaan bagi teman-teman yang beragama Muslim sehingga kebanyak dari teman trip pada tinggal dirumah. Tapi emang dasar kaki gatal ya, akhirnya saya dan Evi mutusin tetap berangkat berdua saja ke Malang. Honestly, ada sedikit perasaan was-was karena trip kedua ini lumayan jauh tapi bermodalkan doa dan keinginan yang kuat kami membulatkan tekad trip berdua (rada bonek sih).

Kami meninggalkan Kota Pahlawan menuju Malang sekitar pukul 9 malam. Perjalanan cukup lancar sehingga kami tiba di Malang kota sebelum tengah malam. Karena tak tahu arah yang harus dituju dan tak mau disesatkan GPS, kami pun berhenti untuk menanyakan arah ke pantai Balekambang. Karena sesunggunya GPS manual alias Gunakan Penduduk Sekitar lebih akurat daripada GPS elektronik.


Yang kami tahu bahwa untuk menuju pantai kami harus menuju ke Malang Selatan. Sayangnya, papan hijau disepanjang jalan gak ada yang menuliskan Malang Selatan. Karena menurut Evi Kepanjen ada di Malang Selatan maka kami mengikuti jalan yang menunjukkan arah ke Kepanjen.

Karena sudah semakin larut dan jalanan semakin sepi kami akhirnya berhenti di salah satu pom bensin yang cukup besar niatnya untuk istirahat disana. Setelah ngobrol singkat sama pekerja disana, ternyata mereka tutup jam 3 karena akan mengikuti takbiran. Oh my God, itu artinya tempat ini bakalan sepi dan mungkin gelap-gulita. Namun karena tak ada pilihan lain kami tetap memilih beristirahat disana. Saat kami tiba jam menunjukkan pukul 00.10 artinya sudah memasuki tanggal 24 Oktober. Saya segera menuju ke Alfamart mau nyari kue tart buat surprise-in si Evi karena hari ini dia ultah, tapi ternyata gak ada. Akhirnya saya kembali ke Pom dan hanya bisa mengucapkan selamat ultah ala kadarnya. Btw, Happy a quarter of century ya bro…


Lagi nyiap-nyiapain alas buat tidur, tiba-tiba ada segerombolan motor yang datang. Setelah cuap-cuap bentar, ternyata mereka ada yang mau ke Balekambang juga. Kami langsung nanyak boleh join grup mereka apa nggak, awalnya sih bilang iya. Eh pas kita bangun mereka udah pada ngilang aja ninggalin aku berdua sama si Evi. Ah… ternyata mereka PHP, but it’s oke. Mungkin trip ini memang harus dijalani berdua aja. Karena sudah terlanjur ditinggal tak ada pilihan lain selain menunggu hari lebih terang, so kami melanjutkan tidur menunggu alarm membangun kami jam 5 pagi.

Setelah melewati malam yang dingin (ciyee…), tapi serius benar-benar dingin. Jam 6 kurang kami melanjutkan perjalanan menuju Balekambang. Dari Kepanjen kami menuju arah Gondang Legi di sana ada penunjuk arah menuju ke Bantur dan setelah itu di setiap pertigaan ada penunjuk arah menuju Balekambang. Karena emang pada dasarnya Malang merupakan kota wisata, jadi semua penunjuk arahnya cukup jelas jadi bagi kalian yang ingin trip solo gak perlu kuatir bakalan nyasar.


Saat menuju Balekambang harus melewati hutan rimba, benar-benar pilihan tepat melanjutkan perjalanan saat pagi hari. Gak bisa bayangin seberapa seramnya kalo melewati hutan ini di malam hari. Semkain mendekati pantai jalanan mulai berkelok-kelok dengan tikunga tajam serta tanjakan dan turunan yang cukup ekstrim. Beruntung jalanan sudah di aspal sehingga tidak terlalu berbahaya. Berhubung kami tiba di sana sangat pagi, maka kami tidak membayar uang retribusi dan bebas markir motor dimana saja. 


  

 Sebenarnya dulu sudah pernah datang ke tempat ini, tapi pas jaman kuliah jadi datang benar-benar hanya main air. Maklum dulu hape belum mendukung untuk pota-poto. Setibanya di tempat ini rupanya sudah banyak yang berubah. Pantainya sudah ditata dengan lebih cantik, warung makan berjejer dengan rapi dan terdapat gazebo-gasebo mini untuk menikmati pantai dari pesisir. Mungkin yang paling baru adalah tulisan BALEKAMBANG BEACH degan huruf besar berwarna putih berdiri kokoh menyambut para pengunjung yang baru datang. Tak ingin membuang-buang waktu kami segera mengambil beberapa gambar di tulisan itu sebelum rame dan antri dengan orang-orang.



Karena masih termasuk dalam gugusan pantai selatan maka ombak disini sangat besar sehingga bagi para pengunjung dilarang berenang di pantai, kecuali di pesisir dekat jembatan menuju Pura. Oh iya karena disini ada Pura (Amerta Jati) yang sama seperti di Tanah Lot, seringkali orang salah kaprah bahwa Balekambang ini ada di Bali. Dari atas jembatan yang menghubungkan pantai dengan Pura, dibawah sana tampak ikan-ikan kecil berenang kesan kemari karena airnya yang sangat bening. Sempat tergoda untuk menceburkan diri, tapi berhubung masih ada pantai lain yang harus di datangi jadi kami hanya mengambil beberapa gambar saja. Menikmati pantai dari tempat ini emang gak ada bosannya. Sejauh mata memandang tampak biru dengan pasir putih mengelilingi pesisir pantai. Terdapat beberapa pepohonan yang menambah eksotiknya tempat ini. Jika tak ingat jam, rasanya ingin lebih lama di tempat ini.



Sebelum melanjutkan perjalanan ke Pantai Ngilyep kami mampir disebuah warung untuk mengisi perut. Cukup dengan 15ribu saja kita sudah bisa memilih menu makanan sesuai selera. Selesai makan, kami segera menuju ke Pantai Ngliyep. Menurut ibu pemilik warung, pantai Ngliyep masih sangat jauh masih butuh waktu 2 jam. Ahhh sempat bikin keder juga tapi toh akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan. Pantai Ngliyepnya diartikel selanjutnya ya, mau makan dulu.


Kalau anda mencari amannya saja dalam kehidupan, Anda memutuskan bahwa Anda tidak lagi ingin berkembang


 [Shirley Hufstaedler]
Powered by Blogger.

Search This Blog

Blog Archive

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

footer logo