Pantai Bara, Apparalang dan Marumasa (Bulukumba Hari-2)




Di hari kedua, sebenarnya kami berencana bangun pagi karena pengen berburu sunrise. Tapi apa daya rasa kantuk lebih kuat daripada godaan sunrise. Lagipula dari penginapan sebenarnya bisa menikmati sunrise juga tapi pagi itu berkabut sehingga hanya bisa menikmati sedikit semburat oranye dari matahari yang perlahan terbit terhalang oleh awan tebal.

Setelah bersiap-siap kami langsung mengambil motor dan mulai mencari pantai Bara. Sebenarnya kami juga belum mengetahui letak lokasi pantai ini jadi hanya dengan bermodalkan GPS kami berusaha menemukan tempatnya. Sempat bertanya ke warga lokal tapi petunjuk yang diberikan kurang jelas jadi harus mencari sendiri.

Singkat cerita setelah nyasar sana-sini dan tanya sana-sini kami sampai juga di pantai Bara which is ternyata masih satu lokasi sama pantai Tanjung Bira. Kalo Tanjung Bira lurus saja, nah kalo mau ke Bara kudu belok kanan sebelum Bira. Ikuti jalan terus sampai ketemu pertigaan lalu belok kanan tinggal ikutin jalan sampai ketemu jalan aspal lagi (kalo bingung Gunakan Penduduk Sekitar-GPS). Nah yang bikin happy itu karena kami datangnya kepagian jadi kami masuk ketempat ini gratis soalnya penjaga loket belum ada. Sayang juga kan kalo harus bayar dua kali padahal kemarin udah bayar. Nah kalo teman gak mau ngeluarin kocek lebih datanglah pagi-pagi selain gratis mungkin bisa menikmati sunrise pula. Atau kalo buat itinerary sebaiknya pantai Tanjung Bira dan pantai Bara dijadiin satu hari saja. Tapi kalo kalian cukup dermawan boleh bolak-balik kesini, lumayan untuk membantu perekonomian warga disini :p

Pantai Bara

Jalan ke Bara ini lumayan jelek karena tidak semuanya beraspal. Tapi tenang aja kalo cewek-cewek kayak kami bisa sampai pakai motor kalian juga pasti bisa asal hati-hati aja. Sesampainya di Bara tak tampak satu orang pun kecuali kami dan seekor kucing coklat manis. Wuah serasa pantai milik sendiri pokoknya, sampai beberapa waktu kemudian beberapa gerombolan anak muda memasuki kawasan ini dan tampak seorang wisatawan asing yang lalu-lalang entah mencari apa. Sebenarnya di kawasan ini ada beberapa warung tapi tampaknya mereka masih terlelap setelah bangun pagi untuk sahur. Jadilah hanya nyanyian dari debur ombak yang menemani keasyikan kami menikmati pantai ini.


Tidak beda jauh dengan pantai Bira, pasir di pantai ini pun sangat lembut kayak tepung. Btw kalo kalian datang pas ramai mungkin kalian bakalan disuru bayar segala macam. Karena pas disana hampir semua ada tulisan disewakan mulai dari kursi panjang sampai palang yang ada tulisan Pantai Bara pun kalian harus bayar. Well ini yang rada bikin gondok sih kalo di Indonesia apa-apa kudu bayar sampai pipis pun iya. Beda sama di LN hampir semua pantai bisa dinikmati gratis dan dengan fasilitas yang jauh lebih baik. Emang gak bisa disalahin sih karena yang bikin fasilitas ditempat ini mungkin para warga sementara kalo di LN difasilitasi oleh pemerintah. Jadi warga pun menjadikan tempat ini sebagai lahan mata pencaharian.


Bayangin aja ya kalo mau hitung-hitungan misalnya masuk diarea ini di loket paling depan bayar tiket masuk 15ribu, parkir 2ribu, sampai di Bara bayar parkir lagi untuk mobil 10ribu dan motor 5 ribu, lalu turun ke bawah kalo mau foto di tulisan bayar 10-15 ribu, kalo mau foto diayunan ala-ala Gili Trawangan bayar lagi, lalu toliet 2ribu, kalo mau duduk di kursi bayar lagi 10-15 ribu. Nah loh berapa kira-kira yang harus kalian habiskan untuk menikmati sebuah pantai. Anyway lupakan soal itu karena saya tetap bahagia tidak mengeluarkan sepeser pun untuk pantai ini karena datangnya pagi banget.


Secara garis besar pantai Bara ini hampir mirip dengan pantai Bira. Air laut yang jernih, pasir putih yang halus dan langit yang biru gambaran sempurna untuk sebuah pantai. Bedanya karena disepanjang pesisir pantai ini dihiasi oleh pohon-pohon kelapa yang tidak saya temui kemarin di pantai Bira. Katanya tempat ini juga tidak seramai pantai Bira mungkin karena letaknya yang lebih jauh dari dan jalannya yang tidak terlalu bagus. Tapi untuk penikmat pantai sepi yang jauh dari hingar-bingar, pantai ini yang terbaik buat kami. Selesai dari pantai Bara kami bergegas pulang kembali menuju ke penginapan karena sarapan sudah menanti kami disana.


Pantai Tebing Apparalang


Lokasi Apparalang ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari penginapan kami (menurut GPS 30 menitan), tapi berhubung jalannya lebih parah daripada jalan ke Bara jadi kami menghabiskan hampir 1 jam lebih di perjalanan (termasuk nyasar). Nah untuk ketempat ini ada 2 jalur. Jalur pertama lebih dekat tapi lumayan curam dan jalur kedua lebih jauh tapi lebih landai. Kami pada akhirnya melewati kedua jalur ini. Berangkatnya kami melewati jalur yang lebih landai tapi ternyata lumayan jauh juga dan jalannya pun tidak begitu bersahabat. Mendekati lokasi Apparalang jalanan semakin parah, curam dan bebatu-batu jadi harus tambah hati-hati lagi. Mungkin kalo kesini dimusim hujan saya tidak akan berani mengendarai motor seorang diri. Sesampai di lokasi kami langsung memarkirkan motor kami dan berjalan menuju ke tebing. Oh iya kalo ketempat ini kalian hanya perlu membayar parkiran 5ribu per motor. Mau foto dan duduk dimana saja semuanya gratis.



Pemandangan dari tempat ini sangat cantik bikin betah berlama-lama duduk menikmati deburan ombak yang menghempas batu karang. Apalagi saat itu langit sedang biru cerah bikin pemandangan tambah breathtaking. Terang saja saya gak bisa berhenti ngucapin "wow" karena terkagum-kagum oleh keindahan karya Tuhan yang satu ini. Kalo kalian sudah puas dengan pemandangan laut dari tebing yang tinggi, kita juga bisa turun kebawah melewati tangga-tangga untuk menikmati deburan ombak lebih dekat. Bisa dikata kami sangat beruntung saat kesini karena hanya ada beberapa orang saja sehingga benar-benar bisa menikmati nyanyian laut tanpa terpolusi oleh hiruk-pikuk manusia.


Ada banyak tempat yang bisa dijelajah sebenarnya kalo ketempat ini. Jadi kalo saya punya waktu banyak saya akan memilih menghabiskan waktu seharian disini apalagi ada gasebo tempat yang nyaman untuk berteduh dan leyeh-leyeh, mungkin bakalan jatuh tertidur pula. Tapi karena masih ada tempat lain yang harus didatangi jadi kami tidak bisa berlama-lama di tempat ini.

Saat kami pulang kami memilih melewati jalur yang lebih curam tapi ternyata jaraknya jauh lebih dekat daripada jalur keberangkatan kami. Jadi buat teman-teman yang kesini bisa menimbang-nimbang sendiri mau jalan yang dekat tapi curam atau yang landai tapi jauh. Kalo saya pribadi lebih memilih jalur yang lebih dekat meskipun curam tapi sudah ditembok jadi tidak begitu seram, dibandingkan berkendara jauh dengan jalan yang landai tapi juga berbatu-batu rasanya nyelekit dibokong.


Pantai Marumasa

Sepulangnya dari Apparalang kami melajukan motor menuju ke Pantai Marumasa yang searah dengan jalan pulang menuju penginapan. Pantai ini mungkin tidak setenar Bira dan Bara karena memang tidak terlalu dipromosikan oleh pemerintah setempat sebagai tempat wisata. Mungkin itulah sebabnya masuk ke tempat ini gratis dan bisa parkir dimana saja.

Beberapa alasan yang mungkin bikin beberapa orang memutuskan kesini karena terdapat beberapa spot untuk foto yang instagramable banget di atas tebing-tebing yang langsung mengarah ke laut lepas. Tapi karena kami sudah cukup puas dengan pemandangan laut dari ketinggian tebing Apparalang jadi kami tidak berniat untuk mendaki tebing untuk sekedar foto-foto disana.

Tampak kumuh karena sampah dimana-mana 


Secara mendasar pantai ini memiliki pasir putih yang lagi-lagi lembut bak tepung beras dengan air laut yang jernih tapi deburan ombak yang lebih besar. Yang membedakan dari pantai lain yaitu sepanjang bibir pantai ini dipenuhi oleh perahu-perahu nelayan yang memarkirkan perahu mereka disana setelah melaut. Ada banyak pondok-pondok alakadarnya dibangun disepanjang bibir pantai. Yang lumayan mengganggu mata adalah sampah yang bertebar dimana-mana. So gaes, kalo jalan-jalan jangan hanya sibuk foto-foto tapi bawa sampahmu pulang biar tidak menodai keindahan lautan kita.




Kami tidak bisa berlama-lama ditempat ini karena tidak ada satu orang pun yang berjualan padahal perut kami sudah keruyukan karena belum makan siang. Jadi setelah puas bermain ayunan yang kebetulan kami temukan disana kami pun bergegas meninggalkan pantai ini.

Well sebenarnya setelah pantai ini itinerary kami adalah kembali ke pantai Bira untuk menyeberang menuju ke Pulau Kambing atau Pulau Liukang untuk melakukan snorkeling, tapi berhubung hari sudah sore dan sudah kelelahan jadi tempat ini kami skip untuk penjelajahan di lain waktu (mungkin).

Oke gaes sekian sharing pengalaman short escaped saya ke Bulukumba dengan segudang pantai cantiknya sampai ketemu di jejak kaki yang lain. Anyway sekedar info total pengeluaran kami hanya sekitar 600ribu all in. Sudah termasuk makan dan jajan-jajan yang tidak tercantum dalam kisah diatas, cukup murah bukan??


You don't have to be rich to travel well.

Pantai Tanjung Bira - Bulukumba (Hari-1)




Finally setelah berminggu-minggu (rasa berabad-abad) hanya stay di rumah saya bisa melakukan short escaped juga ke kampung tetangga, Bira - Bulukumba. Seperti yang sudah banyak beredar di media sosial pantai-pantai di Bira ini merupakan "salah satu" yang terbaik di Sulawesi Selatan. Jadi kalo sudah jalan-jalan sampai Sul-Sel sebaiknya Bira menjadi salah satu destinasi wajib kalian.

Saya sendiri yang merupakan warga Sul-Sel baru sekarang bisa menjejakkan kaki di kota ini karena biasanya kalo pulang kampung langsung menuju Toraja. Makassar hanya sebagai tempat persinggahan saja. Tapi berhubung kali ini saya memiliki waktu yang panjang untuk stay dan punya teman trip (aka Evi dan Opik) jadilah trip ini bisa terealisasi.

Singkat cerita kami ngumpul di kost Opik di Makassar sebelum memulai trip kami. Setelah searching dan tanya sana-sini akhirnya kami memutuskan untuk memakai publik transportasi dari Makassar menuju Bira. Sebenarnya sempat berencana menyewa mobil tapi berhubung harganya lumayan mahal jadilah kami memutuskan menggunakan bus saja. Kalo kalian melakukan trip lebih dari 4 orang ada baiknya kalian menyewa mobil saja karena ongkosnya bisa di share dan akan mempermudah untuk mengeksplore. Untuk menyewa mobil sendiri harganya bervariasi sekitar 500-900 ribu tergantung pintar-pintarnya kalian menawar.


Untuk publik transportasi pun sebenarnya ada 2 pilihan bisa pakai bus atau naik mobil panther (mobil kecil). Untuk bus harga per seatnya 100 ribu (kalo dibeberapa referensi blog mereka hanya membayar 80ribu, tapi mungkin karena saat kami kesana mendekati libur lebaran jadi tidak bisa ditawar). Sementara untuk mobil kecil harganya sekitar 150ribu. Tapi dari awal kami memang memilih untuk pakai bus karena menurut beberapa referensi jika memakai mobil kecil biasanya berangkatnya sangat telat karena menunggu penumpang lain mengisi mobil hingga penuh. Beda halnya dengan bus yang sudah pasti berangkat jam 9 pagi karena mereka harus mengejar kapal penyeberangan menuju selayar.

Perjalanan dimulai dari BTP kami memesan grab menuju ke Terminal Malangkeri yang membutuhkan waktu sekitar 45 menitan. Sesampai disana sudah tampak beberapa bus dan mobil kecil yang terparkir menanti penumpang. Seperti gambaran terminal pada umumnya para pedagang asongan dan para calo langsung datang mendekati menawarkan bus mereka. Karena memang dari awal kami mau pakai bus jadi kami langsung memilih bus Sejahtera dengan harga 100ribu.

Perjalanan dari Makassar menuju Bira ternyata cukup lama juga sekitar 5-7 jam. Kalo kata si Evi perjalannya hampir sama dengan perjalanan pulang kampung ke Toraja. Jadi jangan lupa bawa camilan untuk mengganjal perut dan buku atau bantal untuk menemani perjalanan kalian. Mungkin sebenarnya bus akan berhenti untuk beristirahat di sebuah warung makan tapi berhubung saat kami kesana lagi puasa jadi bus hanya berhenti di sebuah masjid memberi kesempatan untuk umat muslim jumatan.

Jam menunjukkan pukul 3 lewat ketika kami tiba di pelabuhan Bira. Kesibukan ditempat ini tampak jelas dari lalu-lalang kendaraan yang tidak pernah berhenti. Dikejauhan tampak kapal-kapal besar yang sedang melakukan proses bongkar muat. Langit yang tampak biru senada dengan warna biru laut membuat saya berdecak kagum. Finally beach... Dari tempat ini aroma-aroma pantai sudah tercium mengisyaratkan petualangan akan segera dimulai. Rasa bosan dan lelah karena perjalanan panjang tergantikan sudah dengan rasa antusias memulai penjelajahan.



Setelah membeli beberapa makanan dan es pisang ijo (es pisang ijonya enak gaes, kudu nyoba) kami menunggu dijemput pengurus penginapan WoyWOy Sunrise tempat kami menginap. Tak lama tampak 3 ibu-ibu mengendarai motor datang ke arah kami ah... rupanya itu mereka. Kami pun menaiki satu per satu motor tersebut yang membwa kami menuju Woywoy. Jaraknya sebenarnya tidak jauh tapi kalo dipakai jalan kaki lumayan juga, beruntunglah kami dapat jemputan gratis.

Sesampai dipenginapan rupanya hanya ada kami yang akan menginap di tempat itu. Tidak heran sih karena pas puasaan jadi orang-orang masih ada stay di rumah. Wah serasa milik sendiri, jadinya semua fasilitas yang ada bisa dinikmati sesuka hati. Oh iya Woywoy Sunrise ini sebenarnya ada 2 bangunan bangunan pertama ala-ala Santorini dengan tembok putihnya dan yang kedua ala-ala Brighton Beach Melbourne dengan bangunan kayu berwarna-warni.

Kami memesan penginapan dibangunan kedua selain karena murah tempat ini fotoable banget dengan berbagai fasilitas warna-warni yang jadi cobaan karena bikin betah untuk stay di penginapan saja. Fasilitas kamarnya memang sederhana hanya berisikan sebuah tempat tidur dan 2 buah handuk plus toilet sekaligus kamar mandi di bagian belakangnya. Untuk harga 360 per malamnya tempat ini terbilang lumayan murah apalagi sudah plus sarapan.

Setelah berleha-leha sejenak kami lalu meminta tolong ibu pengurus penginapan untuk membantu mencarikan motor yang bisa dirental. Per motornya dikenai biaya 80ribu per hari. Setelah kunci motor di tangan kami segera melaju dijalanan menuju ke Pantai Bira yang kebetulan letaknya tidak jauh dari tempat kami menginap. Yes... kami ingin berburu sunset disini.


Biaya perorang 15 ribu dan parkiran motor 5 ribu jadi total duit yang kami keluarkan adalah 50ribu. Sebenarnya ada banyak tempat yang bisa di eksplore di tempat ini tapi karena kami datangnya kesorean jadi kami memilih berlama-lama di pantai Bira ini menikmati sunset sambil foto-foto. Yang paling saya sukai dari pantai ini adalah pasirnya yang putih dan sangat lembut bak tepung. Tidak heran jika orang menyebut tempat ini Pantai Pasir Putih.  Selain itu airnya juga sangat jernih memantulkan biru laut dengan riak ombak yang tidak begitu besar bikin ngiler pengen segera nyemplung.


Oh iya buat teman-teman yang ke tempat ini kalo tidak mau rugi sebaiknya datang dari pagi karena dari Pantai Bira ini kalo kalian berencana untuk snorkling kalian bisa menyeberang ke pulau sebelahnya bisa di Pulau Kambing atau Pulau Liukang. Untuk ke Pulau tersebut kalian harus menyewa speedboat atau banana boat yang oleh warga disana diberi patokan harga 350 untuk ke Pulau Liukang dan 500 untuk ke Pulau Kambing tapi kalo kalian mau keduanya diberi harga 700ribu. Sebenarnya mungkin harga ini masih bisa di tawar jadi silakan coba bernegosiasi dengan pemilik kapal kalau kalian kesana.



Selain menikmati pantai ada banyak spot yang cakep untuk dijadikan tempat foto-foto salah satu referensi dari Paman Ewink (@ewink_ali) kalian bisa ke d'Perahu Resto atau Hakuna Matata Resort yang memberikan pemandangan pantai Bira dari ketinggian. Tapi berhubung kami datangnya kesorean jadi kami memilih menimati pantai Bira sepuasnya hingga hari gelap. 

Sekian kisah untuk hari ini besok di lanjut lagi di hari ke-2 ya gaes...
Good Night, Good People.

LIBURAN DADAKAN KE JEJU - KOREA SELATAN (PART-3end)




Day-3

1.        Seongsan Sunrise Peak
Setelah air terjun, tempat ini merupakan kedua favorit saya. Yes pemandangan di tempat ini sangat indah. Mungkin kalo saya melakukan trip sendiri saya akan plot tempat ini seharian penuh. Karena tempat ini sangat luas dan banyak tempat yang bisa didatangi. Tapi lagi-lagi karena waktu yang terbatas jadi saya hanya icip-icip keindahan tempat ini sedikit. Bahkan karena datangnya kesiangan jadi kami pun tidak bisa menikmati sunrise.

Gengs NGetrip 

Kalo kalian punya waktu yang banyak mungkin ada baiknya datang pagian biar bisa menikmati sunrise. Sekalian bisa berjalan mendaki puncak gunung dengan mengikuti jalur pejalan yang sudah dibuat. Tidak terlalu susah untuk sampai dipuncak tapi hanya butuh waktu yang lumayan lama. So saya memilih mendaki setengah perjalanan dan menikmati pemandangan pegunungan yang menjadi satu dengan tebing dan lautan luas. Jika kalian mengunjungi tempat ini di musim semi makan kalian akan disuguhi dengan cantiknya bunga-bunga yang bermekaran disekeliling gunung ini. Masuk ketempat ini cukup dengan 2000 won saja.

2.        Mysterious Road
Dari beberapa artikel yang saya baca, para traveller biasanya memasukkan tempat ini dalam list mereka. Karena konon ditempat ini mobil atau benda apapun bisa bergerak sendiri keatas karena adanya kandungan magnet sepanjang jalan ini. Itulah alasan kenapa tempat ini disebut Mysterious Road. Well buat kalian yang tidak percaya dan punya waktu banyak mungkin bisa mencoba membuktikan dengan datang sendiri ke tempat ini.

3.        Seongeup Folk Village
Buat kalian para pecinta sejarah Korea Selatan tempat ini wajib kalian datangi. Sebenarnya di daerah ini ada beberapa village yang sering di datangi oleh tourist tapi mungkin village yang kami datangi ini yang paling terkenal karena disana pernah dilakukan syuting sebuah film korea. Selain itu tempat ini juga masih mempertahankan bentuk asli dari bangunan tradisional dijaman dulu. Mulai dari rumah sampai ornamen-ornamennya.
 
Dapur Jaman Dahulu di Korea
Saat kami tiba disana sepasang suami istri menyambut kami dengan ramah. Yang wow adalah ajussi itu bisa bahasa Indonesia dengan lancar. Jadi beliau menjelaskan semua sejarah, kebiasaaan dan cara hidup orang korea pada jaman dahulu dalam bahasa Indonesia yang sedikit dicampur bahasa Inggris.

Ditempat ini saya akhirnya mengerti makna dari patung perempuan yang membawa kendi. Jadi kalo jaman dahulu buat orang Korea kaum pria diperlakukan sebagai raja dan wanitalah yang harus bekerja keras. Sehingga pria hanya tinggal dirumah dan wanita akan naik gunung untuk mengambil air untuk kebutuhan keluarga. Tidak heran jika Jeju juga terkenal dengan wanita penyelamnya (Haenyo) yang sangat tangguh.

4.        Airport
Well sudah waktunya say sayonara. Selesai sudah trip singkat ke Jeju yang berkesan ini. Sebenarnya masih banyak tempat wisata yang bisa didatangi tapi tidak akan cukup dengan waktu 3 hari jadi mungkin buat kalian yang ingin menikmati jeju sepuas-puasnya bisa melungkan waktu lebih banyak lagi untuk mengeksplore satu per satu tempat ini. Waktunya pulang kandang dan sampai ketemu di kisah jejak langkahku selanjutnya. 


DON'T LISTEN TO WHAT THEY SAY...
GO AND SEE...



LIBURAN DADAKAN KE JEJU - KOREA SELATAN (Part-2)




Day-2
Hari kedua ini terbilang cukup padat karena ada sekitar 6 tempat yang akan kami datangi kalo menurut jadwal yang sudah di buat. Yah namanya ikut tour kudu ngikutin itinerary yang sudah ada meskipun mungkin kita tidak menyukai tempat tersebut. Berikut beberapa tempat yang kami datangi.

1. Teddy Bear Museum
Nah kalo buat pecinta Teddy bear mungkin tempat ini sangat worth it kalian datangi. Tapi berhubung saya bukan tipikal indoor person jadi pas kami sampai disini saya hanya mengambil beberapa gambar di luar saja. Foto selfie dengan boneka Teddy Bear yang segede gaban di pintu masuknya udah lebih dari cukup buat saya ngerasain gimana hangatnya di peluk Teddy Bear (eh...). Tiket masuknya kalo gak salah 9000 won.




Didekat kompleks ini ada K-play (kalo gak salah), lupa namanya tapi pokoknya gedung yang isinya berhubungan sama K-pop gitu. Ada teman yang masuk disana, rupanya ditempat ini bisa foto 3D sama idola-idola K-pop kalian. Nah berhubung saya juga bukan pecinta tempat ini jadi saya memilih berjalan menuju ke Starbucks yang tepat berada di depan Teddy Bear Museum. Sebelahnya ada toko kosmetik pula nah sekalian dah mampir liat-liat (serius hanya liat-liat doang) :p

2. Cheonjiyeon Waterfall
Dari semua tempat wisata hari ini, Cheonjiyeon ini merupakan tempat paling favorite buat saya. Yes, karena saya memang tipikal pecinta nature/outdoor.  Sebenarnya jika bisa memilih saya ingin menghabiskan waktu lebih banyak disini karena tempatnya yang sangat indah dan ada banyak hal yang bisa dieksplore, sayangnya kami hanya diberi waktu sekitar 1 jam saja. Masuk ketempat ini cukup membayar 2500 won doang.



Dari parkiran jika kalian berjalan menuju tempat membeli tiket masuk kalian akan melewati sebuah jembatan dengan pemadangan sungai dan pepohonan yang hijau (lebih mirip hutan sih). Nah diujung jembatan ini ada 2 patung wanita yang tampak menggendong tempayan tempat air, ternyata patung ini memiliki kisah tersendiri yang baru saya ketahui pas menuju ke Seongeup Folk Village.

Jika jalan terus kedalam kalian akan menemukan jejeran patung penjaga khas Jeju yang bernama Dol Hareubang alias patung kakek. Nah buat para ibu-ibu muda nih yang pengen punya baby jenis kelamin tertentu disini ada kepercayaan kalo kalian pengen punya anak laki-laki coba gosok bagian hidung dari patung ini tapi kalo kalian mau anak perempuan maka bagian telingalah yang harus kalian gosok. Betul atau nggak? Saya tidak bisa membuktikan buat kalian karena saya masih single bisa berabe nanti kalo main gosok-gosok tiba-tiba bunting tanpa suami ya kan...



Lupakan soal patung mari kita menelusuri lebih jauh kedalam kalo kalian tidak punya waktu yang banyak seperti saya sebaiknya langsung menuju ke air terjunnya. Cukup berjalan mengikuti pathway yang sudah ada sekitar 10 menitan dan kalian sudah bisa menikmati pemandangan air terjun yang menawan. Beda ya sama di Indonesia, kalo mau liat air terjun kudu masuk hutan, turun naik lembah hahaha.

Kenapa harus mengunjungi tempat ini? Karena air terjun ini adalah salah satu air terjun terindah di Jeju. Mau tahu seberapa indahnya? Cobalah datang dan lihat dengan mata kepala sendiri karena foto tidak cukup untuk menggambarkan keindahannya (eyakk). Kalo lihat di internet pemandangan malam ditempat ini juga indah karena air terjunnya dihiasi oleh lampu-lampu.

Nah kalo kalian sudah puas menikmati air terjunnya jangan lupa mampir menikmati jajan khas Korea Selatan yang terdapat di dekat parkiran mobil. Lumayan kan dingin-dingin bisa menghangatkan perut dengan odeng atau makanan lainnya. Sebenarnya waktu itu saya lebih tertarik ingin mencicipi jus jeruknya karena jeju terkenal dengan jeruknya juga tapi berhubung lagi dingin dan kudu jaga badan yang mulai gak fit terpaksa niat dibatalkan. Mungkin yang nanti bakalan nyobain bisa share atau sekalian titip dibawain haha.


3. Glass World Museum
Nah kalo tempat ini hampir saja saya tidak ikutan masuk karena saya pikir ini bakalan indoor lagi dan hanya pameran kaca-kaca berbentuk seni yang mungkin tidak akan saya mengerti dengan mudah maknanya. Tapi berhubung semua orang pada masuk, yah dengan terpaksa saya ikutan masuk daripada bengong sendiri di luar sana. Tapi setelah masuk kedalam, ternyata tempat ini lumayan juga untuk dikunjungi.





Di tempat ini tidak melulu berisikan kaca-kaca cantik yang tak boleh disentuh tapi ada satu tempat menarik buat saya yaitu outdoor parknya. Mereka punya Jurassic Park mini yang lagi-lagi dihiasi dengan berbagai macam hiasan kaca. Saya memilih mengeksplore tempat ini daripada bagian indoornya. Kalian membutuhkan sekitar 30 menitan dari start sampai pintu keluar dari hutan mini ini. Tapi tenang saja kalian gak akan merasa bosan karena sepanjang perjalanan kalian bakalan dibuat kagum gimana kreatifnya mereka membentuk bunga-bunga, buah-buahan, jamur, binatang dan berbagai hiasan hutan lainnya dari gelas. Tempat ini bisa jadi tempat olahraga yang menyenangkan karena footpath yang harus kita lewati cukup jauh, lumayan bikin keringat. Untuk masuk ketempat ini kalian harus membayar tiket sebesar 9000 won.



4. Jusangjeolli Stone
Jusangjeolli Stone adalah tempat wisata berupa tebing di pinggir laut ini juga merupakan salah satu tempat yang dinobatkan oleh UNESCO sebagai salah satu dari UNESCO GLobal Geoparks. Mungkin kalo kami datang disiang hari atau pas langit masih biru tempat ini bakalan menyuguhkan pemandangan yang sangat indah. Tapi waktu itu sudah mulai mendung bahkan mulai hujan jadi saya tidak memiliki banyak waktu untuk mengelilingi tempat ini. Selain itu tempat ini sangat ramai oleh wisatwan jadi kalo kalian mau mengambil gambar yang bagus mungkin agak susah. Well Good Luck aja deh kalo kesini. Tiket masuk ke tempat ini hanya 2000-2500 won.


Doc Google
5. Sanbangsan Yongmori Coast
Kalo tempat ini tidak sempat kami datangi jadi tidak banyak yang bisa saya ceritakan. Tapi hasil googling di internet tempat ini sebenarnya punya pemandangan yang bagus juga paduan antara gunung dan lautan. Ditempat ini jika datang di waktu yang tepat ada 3 tempat yang bisa didatangi sekaligus yaitu gunung, lautan dan taman canola.
 
6. Camellia Hill Jeju
Nah buat pecinta bunga-bungaan tempat ini menjadi wajib buat kalian. Pasalnya hutan yang luasnya pake banget ini sampai kita sempat nyasar pas didalam memiliki sekitar 6000 pohon Camellia dan 500 jenis bunga. Namanya juga taman bunga pasti kiri-kanan yang bakalan kalian lihat adalah warna-warni bunga yang sangat cantik. Tapi yang paling spesial buat saya adalah di tengah-tengah hutan bunga ini terdapat sebuah bangunan yang dijadikan sebagai kafe. Dan di dalam kafe itu juga terdapat berbagai macam bunga hidup yang bermekaran. Ahh romantisnya gak ketulungan kalo datang ke tempat ini bareng pasangan, tapi sama teman pun gak kalah asik kok. Hanya perlu siap sedia sedikit baper karena kebanyakan yang nongkrong disini adalah pasangan oppa-unnie. Untuk masuk ketempat ini cukup membayar 6000 won.





Selesai dengan semua schedule trip dari tour kami memilih untuk memanfaatkan free time sesuai keinginan masing-masing. Beberapa ibu-ibu memilih langsung menuju ke toko kosmetik yang bertebaran di dekat hostel kami. Tapi saya dengan 5 orang lainnya memilih untuk menikmati barbecue ala-ala drama korea. Sebenarnya di Indonesia sudah bisa makan bbq korea di Magal tapi rasanya beda jika memang makan di negara asalnya. Jadilah kami langsung menuju restauran terdekat dan tempat ini sangat murah untuk ukuran bbq tapi rasanya tidak kalah enaknya. Cukup dengan modal 10ribu won kami sudah bisa makan sepuasnya sampai kekenyangan. Bahkan sebagian kami bawa pulang karena sayang untuk disisakan.

-BERSAMBUNG-



Powered by Blogger.

Google+ Followers

Search This Blog

Blog Archive

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

footer logo