Ranu Kumbolo: Surganya Para Pendaki Gunung Semeru (Part 2)


Tadaa…. It’s time to get lost. Sudah baca kan pendahuluan dari kisah petualangan menuju Surganya Semeru? Yok lanjut ke babak selanjutnya. Setelah berdoa bersama-sama, kami pun memulai pendakian kami selangkah demi selangkah menuju ke Ranu Kumbolo. Ada 2 jalur yaitu Watu Rejeng yang relatif cukup muda namun jauh atau Bukit Ayek-ayek  yang waktu tempuhnya lebih singkat namun medannya cukup sulit.



Jika ada istilah “pendaki cantik”, maka grup kami adalah “pendaki kura-kura”, maklum “anak dapur” naik gunung. Karena itu kami memilih jalur favorite pendaki yaitu Watu Rejeng yang lebih mudah meski lebih jauh. Di depan kami sudah berjalan beberapa grup, namun dalam hitungan menit mereka hilang ditelan rimbunnya pepohonan. Wuah langkah mereka benar-benar cepat, berbeda dengan kami yang memilih untuk slow sambil menikmati pemandangan di sekitar kami.

Tulisan pembangkit semangat
Jangan pernah meninggalkan temanmu sendirian, teruslah berjalan bersama
Perjalanan menuju Posko 1 sebenarnya cukup mudah karena hanya perlu melewati paving beton yang cukup landai. Hanya saja di bagian awal setelah gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru kami cukup ngos-ngosan karena langsung berhadapan dengan penanjakan saat melewati perkebunan warga. Setelah bolak-balik beristirahat karena tubuh masih menyesuaikan diri dengan medan serta beban carrier yang cukup berat, akhirnya kami tiba di Posko 1 sekitar jam setenga 11. Disana sudah ada banyak pendaki lain yang sedang beristirahat sambil menikmati gorengan atau semangka yang di jual oleh warga di sana.

Posko 1
5 menit cukup untuk beristirahat, lalu kami pun melanjutkan perjalaan ke Posko 2. Jarak antara Posko 1 dan 2 cukup dekat dan medannya masih cukup landai. Hanya butuh 30 menit kami sudah tiba di Posko 2. Salah satu hal yang saya sukai dari mendaki gunung adalah setiap kali berpapasan dengan pendaki lain pasti akan ada senyum dan  sapaan yang bersahabat dan sopan. Ya, itulah ciri khas para pendaki gunung. Entah gimana perasaan yang lain, tapi bagi saya senyum dan sapaan itu bak pembakar semangat untuk terus melanjutkan perjalanan ditengah keputusasaan karena kelelahan. Karena saya tahu beratnya perjalanan bukan hanya saya seorang yang mengalami, tapi semua pendaki pun mengalami hal yang sama.

Posko 2
Jika lelah, bersitirahatlah, puncak tak akan kemana-mana

Jarak menuju posko 3 cukup jauh dan sedikit menanjak. Karena itu sesampai di posko 3 saya bersama Ryan memilih untuk beristirahat lebih lama menunggu 5 orang yang masih berjalan dari bawah. Di Posko 3 ini biasanya pendaki mengatur nafas sebelum melanjutkan perjalanan. Karena setelah ini jalan langsung menanjak tajam sekitar 45 derajat dan berdebu, sehingga butuh kekuatan ekstra. Sesampai di atas saya langsung duduk lemas karena sedikit pusing dan berusaha mengatur nafas kembali. Beruntung di tempat ini pemandangan sangat indah. Di kejauhan tampak gumpalan awan berwarna putih bak permadani. Rasanya akan sangat nyaman jika bisa berguling-guling di tempat itu (bangun... woy.... bangun.... X_X).

Gumpalan awan

Penampakan Puncak Mahameru dari kejauhan

Setelah tenaga pulih kembali kami pun melanjutkan perjalanan menuju posko 4 yang membutuhkan waktu sekitar 1 jam saja. Dari Posko 4 danau Ranu Kumbolo sudah terlihat. Dari kejauhan air danau tampak berwaran hijau pekat yang di kelilingi oleh pegunungan dan perbukitan hijau kecoklat-coklatan. Di atas sana tampak langit berwaran biru dengan corak putih. Benar-benar perpaduan keindahan alam yang tak dapat diduplikasi oleh manusia sepintar apapun. Wuahh tak bisa digambarkan teriakan bahagia kami saat pertama kali melihat Ranu Kumbolo. Hanya bisa beryukur kepada Tuhan Yesus yang sudah menjaga sepanjang perjalanan sehingga bisa tiba di tempat ini dan melihat secuil dari keindahan Mahakarya-Nya.

Amazing Ranu Kumbolo
Selesai mengambil beberapa gambar kami berempat segera berjalan lebih cepat menuju ke bagian bawah dari Danau Ranu Kumbolo. Saat kami tiba waktu menunjukkan pukul 3 sore namun dinginnya sudah menusuk tulang. Hanya ada beberapa tenda saja, tepat seperti dugaan kami tidak akan seramai biasanya. Sambil menunggu Albert, Ko Yusak dan Vanessa tiba, kami pun mendirikan tenda.Sesudah mendirikan tenda kami pun mulai membuka perbekalan dan memasak mie serta nasi untuk mengganjal perut kami semalaman.

Thank God, I am here
Menikmati mie yang sederhana di tempat ini terasa benar-benar nikmat. Entah karena suasananya atau karena memang kelaparan. Saking dinginnya mie yang baru saja di masak hanya dalam hitungan menit bisa langsung dingin sedingin es. Karena itu kami cepat-cepat menuntaskan makan malam kami dan memilih masuk kedalam tenda untuk menghangatkan badan.

BERSAMBUNG…

QUOTES:

“Saat berpikir untuk menyerah, tengoklah ke belakang, sudah sangat jauh kita melangkah.Semudah itukah kita angkat tangan?”

“God gave us eyes to see the beauty of nature and hearts to see the beauty in each other”

Menuju Ranu Kumbolo: Surganya Para Pendaki Gunung Semeru (Part 1)

Ranu Kumbolo


Setelah sekian lama diiming-imingi keindahan Ranu Kumbolo lewat foto teman-teman yang sudah ke sana akhirnya hari itu datang juga bagi saya. Kali ini bukan hanya nama saya yang di foto di sana, tapi tubuh ini juga menjadi bagian dari keindahan surga Semeru itu.Yuhu.., another dream come true again!! ^_^

Perjalanan saya kali ini ditemani oleh 4 rekan kerja (Albert, Rudy, Ko Yusak dan Vanessa) dan travelmate saya Evi serta Ryan (adik Mas Rudy). Setelah mematangkan planning 2 minggu sebelumnya, akhirnya hari H itu tiba tepatnya tanggal 18-20 Juli 2015. Kami sengaja memilih Libur Lebaran dengan pertimbangan akan lebih sepi dari pendaki karena masih sibuk ber-lebaran.

Wajah sumringah sebelum berangkat ke Semeru

Rumah Pak Pras, tempat menginap pendaki yang menyewa jeep
Tanggal 18 pagi, saya, Evi, Albert dan Ko Yusak menuju ke rumah Vanessa di Malang. Sayangnya, perjalanan kami terhambat oleh macet karena banyaknya pemudik yang menuju ke Malang. Perjalanan yang harusnya ditempuh 2 jam molor menjadi 5 jam. Setelah mandi dan re-packing kami ber-5 menuju ke Tumpang bertemu dengan Rudy dan Ryan lalu menuju ke rumah Pak Pras tempat kami menyewa mobil Jeep sekaligus menginap sebelum menuju ke Ranu Pani.

Foto bersama Jeep sebelum memulai petualangan.
(Dari kiri: Rudy, Ko Yusak, Saya, Evi, Vanesa, Albert dan Rian)

Tanggal 19 pagi, kami bersiap-siap lalu menuju ke Ranu Pani menumpang Jeep yang sudah kami sewa. Waktu yang  dibutuhkan dari Tumpang menuju ke Ranu Pani sekitar 1 jam. Tapi tenang saja, 1 jam tak akan terasa karena di sepanjang perjalanan mata kita disuguhi dengan indahnya perkampungan, perkebunan dan pegunungan di kiri dan kanan jalan.

Perkebunan sepanjang jalan
Setibanya di Ranu Pani (2200 mdpl), kami mencari warung untuk mengisi perut sekalian menghangatkan badan karena disini aja sudah sangat dingin. Sedikit ada perasaan was-was jika ditempat ini saja sudah sedingin ini, apalagi jika di atas ribuan Mdpl sana. Setelah menikmati sepiring nasi goreng seharga 10ribu dan pisang goreng yang benar-benar terasa nikmat, kami pun bergegas menuju ke Pos Pendaftaran. Rupanya di sana sudah ada banyak pendaki lain yang sedang breafing atau berdoa berkelompok sebelum melaui pendakian. Di pos pendaftaran kami langsung mendaftarkan diri, untuk 2 hari cukup membayar 40ribu rupiah (Untuk hari Minggu sebesar 22.500 dan hari Senin sebesar 17.500.




Penampakan Bukit Teletubies Bromo




Sebelum memulai pendakian kami mendapat breafing dari petugas disana, beberapa larangan yaitu: Dilarang menginjak apalagi berenang di danau; Dilarang mandi pakai sabun, shampoo dan bahan kimia lain; Dilarang membuang sampah di sekitar danau; Sampah harus dibawa turun; Dilarang berteriak dan yang lain. Semua aturan ini memang harus ditaati, bukan hanya demi kelestarian Ranu Kumbolo dan sekitarnya tapi demi kebaikan dan keselamatan pendaki.
-bersambung-

QUOTES:
“PACK LIGHTER AND GO FURTHER”

COBAN SEWU



Bulan puasa bukan alasan untuk tak beraktifitas, seperti itulah ungkapan teman-teman yang sedang menjalankan ibadah puasa. Yah, sama halnya dengan 3 pria tampan yang jadi teman seperjalananku bersama Evi ke Coban Sewu. Btw, sudah pernah dengar Coban Sewu kan? Kalo belum, silahkan baca terus sampai ke bawah.



Awalnya saya tidak paham mengapa disebut Coban Sewu, tapi setelah saya melihat dengan mata kepala sendiri akhirnya saya paham.Ternyata di tempat ini ada banyak sumber aliran air yang mungkin tak terhitung banyaknya, akhirnya daripada capek-capek menghitung berapa banyak maka disebutlah Coban Sewu.Coban sewu berasal dari kata coban = air terjun dan sewu = seribu, jadi kira-kira terjemahan bebasnya adalah Air terjun seribu. Kalau mau tau lebih jauh kenapa di sebut Coban Sewu bisa di search kali ya, karena bagiku Air Terjun Seribu sudah cukup menggambarkan maksud pemberian nama Coban Sewu untuk air terjun yang terletak di perbatasan Malang – Lumajang.

coban sewu dari atas

Jam 7 malam kami berempat (Ruz, Adit, Evi dan Saya) berangkat dari Surabaya menuju ke Malang. Beruntung disepanjang perjalanan bebas macet sehingga kami bisa tiba di Malang jam setengah sembilan-an. Setelah bertemu dengan Bang Tigor di daerah Terminal Gadang, kami bertiga segera menuju kearah Lumajang.Setelah melewati jalan yang berkelok-kelok dan sempat mengalami ban bocor di tengah jalan sehingga harus mencari tukang tambal ban ke sana kemari, akhirnya sekitar jam setengah 12 malam kami tiba di Kecamatan Ampelgading desa Jagalan. Disanalah rumah Mas Ruz berada yang akan menjadi tempat peristirahatan kami malam ini.Disini dingin kawan, berasa lagi di Toraja.Tapi dinginya membuat tidur jadi lebih nyenyak.






Besok paginya, kami berlima berangkat ke Coban Sewu yang ternyata letaknya sudah sangat dekat dengan rumah Mas Ruz.Tak sampai 10 menit kami sudah melihat sebuah banner dengan tulisan “COBAN SEWU”. Setelah parkir motor kami segera menuju ke arah perkebunan, bahkan masih di area parkir sudah terdengar deru air yang jatuh dari ketinggian. Tak sampai  5 menit, mata kami sudah menangkap pemandangan air terjun ditengah rimbunnya pepohonan. “Wuahhh… itu coban sewunya…”. “Kerenn...!!!”Kira-kira seperti itulah ekspresi terikan bahagia kami saat itu.


Beberapa anak tangga yang harus di lewati


Setelah menuruni beberapa (bukan beberapa sih, tapi “banyaakk…. Banyaakk…”) anak tangga yang dibuat oleh warga setempat dari bambu, namun cukup safety, akhirnya kami tiba di daerah paling bawah. Segarnya percikan air sudah terasa, jika tak ingin basah sebaiknya pakai jas hujan. Tapi karena tujuan kami kesana memang untuk main air, so kami berjalan menikmati percikan air dari coban sewu. Di sini cukup dingin, jadi bagi teman-teman yang tidak tahan dingin sebaiknya pakai jaket aja, seperti saran bapak penjaga parkiran.


Coban Sewu
Untuk bisa sampai tepat di bawah air terjun  Coban Sewu, kami harus melewati batu-batu besar dan menyeberangi aliran air berwarna coklat berupa sungai kecil namun cukup deras. Jadi untuk berjaga-jaga kami saling bergandengan tangan saat menyeberang. Tempt berpijak cukup licin, jadi jika teman-teman kesini sebaiknya berhati-hati. Apalagi saat akan berfoto, sebaiknya berjaga-jaga agar tetap berada di tempat yang aman. Jangan sampai hanya karena sebuah foto, kita mempertaruhkan nyawa. Karena sebelumnya ada seorang pria yang meninggal di tempat ini karena terpeleset saatakan selfie.


Menyeberangi aliran sungai coban sewu

Memang tempat ini menyajikan pemandangan air terjun yang sangat eksotik. Air yang mengalir deras berwarna putih bak salju, sementara di kiri kanannya dihiasi oleh hijaunya pepohonan dan warna coklat kekuning-kuningan dari dinding tanah. Benar-benar komposisi yang pas. Tetapi ingat kawan jangan sampai terlena dengan keindahan tempat ini kemudian melupakan untuk tetap menjaga kebersihan tempat ini. Saat saya kesana, tampak botol minum, bungkus makanan dan tissue bekas yang dibuang sembarangan. Kalau kata orang, jadilah pecinta alam bukan hanya penikmat saja.


Awas berbahaya! Tetap di batas pagar
Setelah puas menikmati dinginnya coban sewu, kami pun segera beranjak kembali memanjat satu per satu anak tangga. Di beberapa tempat yang cukup landai kami beristirahat sejenak. Oh iya jika lelah tak perlu memaksakan diri, di beberapa sudut telah di sediakan tempat duduk dari kayu untuk beristirahat. Di tempat ini juga sering di jadikan tempat berfoto-foto oleh pengunjung, karena background Coban Sewu tampak jelas.

DON’T KEEP A GOOD THINGS TO YOURSELF





Jalur Goa Tetes


Coban Sewu dari atas





Enak buat Yoga, disini adem dan tenang
Teman seperjalanan (dari kiri: Ruz, Bang Tigor, Evi, Adit, Saya)




Beberapa spot untuk beristirahat




Fotorgrafernya :D

EKSPLORE JOGJA: GUNUNG KIDUL – Pantai Sepanjang & Kukup

Pantai Sepanjang
Setelah dari Pantai Baron, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Sepanjang, menurut temannya teman saya (nah loh bingung kan ya gitulah pokoknya), pantai Sepanjang ini “bagus”. Tapi sesampai di sana , bagi saya sih biasa aja. Mungkin karena Pantai Sepanjang ini tak menunjukkan kekhasan tertentu seperti batu karang atau yang lain. Jadi tampak seperti pantai biasanya, berpasir putih dengan deburan ombak yang lumayan keras.





Pada saat kami kesana, air laut sedang surut sehingga bisa bermain lebih jauh kedalam areal pantai. Perlu berhati-hati jika bermain di area ini, karena bagian bawahnya berupa karang yang tertutupi lumut berwarna hijau. Jika tidak hati-hati bisa terpeleset. Gak lucu kan kalo lagi asik main, terus kepleset dan jadi perhatian banyak orang.

permadani lumut 

Karena gak ada yang terlalu menarik perhatian, akhirnya kami memutuskan menuju ke Pantai Kukup. Salah satu ciri Pantai Kukup adalah sebuah jembatan yang menghubungkan Pantai Kukup sebuah batu karang yang diberi nama Pulau Jumino.Di atas Pulau Jumino ini terdapat sebuah pondok yang bisa didatangi oleh wisatawan yang ingin menikmati pemandangan laut lepas. Namun karena waktu yang mepet, saya tidak bisa menjelajah ke Pulau Jumino ini.




Pada dasaranya pantai Kukup ini mirip dengan pantai Sepanjang. Berpasir putih dengan bagian dasarnya berupa karang yang di tutupi oleh lumut berwarna hijau dan hempasan ombak yang cukup besar. Namun Pantai Sepanjang sepertinya lebih popular karena lebih ramai dibandingkan Pantai Sepanjang.



Di beberapa sudut tampak beberapa pedagang yang menjual ikan hias. Memang di tempat ini ada banyak ikan hias yang bisa di temui berenang bebas di pinggir pantai. Bahkan jika beruntung kita bisa menemukan bintang laut dan binatang laut lainnya, tapi perlu berhati-hati juga dengan bulu babi, Jadi sebaiknya tetap menggunakan alas kaki.



EKSPLORE JOGJA: GUNUNG KIDUL – Pantai Baron


Gunung Kidul sudah pada tau kan? Jangan sampai kayak saya, pertama kali dibilangin bakalan eksplore Gunung Kidul, di kepala saya langsung terbayang gunung yang tinggi. Hahaha, pardon me! Maklum anak rumahan, masih kurang piknik jadi gak tau apa-apa.Gunung Kidul adalah salah satu daerah di Jogja yang merupakan sarang dari berpuluh-puluh pantai eksotik. Konon katanya ada sekitar 60 lebih pantai yang tersebar di tempat ini. Pantai yang cukup terkenal antara lain Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Drini, Pantai Sepanjang, Pantai Krakal, Pantai Indrayanti dan masih banyak lagi.

Namun karena waktu yang membatasi, sehingga saya hanya bisa mendatangi 3 pantai saja (Baron, Sepanjang dan Kukup). Untuk masuk di beberapa pantai di kawasan ini cukup membayar 20ribu per orangnya (di luar biaya parkir motor untuk setiap pantai ± 2ribu). Pantai yang pertama kali kami datangi adalah Pantai Baron.



Setelah memarkirkan motor, kami langsung menuju ke area pantai. Di sepanjang jalan, ramai dengan para pedagang mulai dari buah, makanan laut hingga pernak-pernik pantai. Di tempat ini ada pelelangan ikan jadi jika ingin menikmati ikan segar atau makanan laut lainnya bisa dibeli di pantai ini.



Di sepanjang bibir pantai dipenuhi dengan tenda berwarna-warni yang bisa digunakan pengunjung untuk berteduh setelah membayar beberapa rupiah. Namun karena tidak ada planning untuk bermain air jadi kami berjalan menjauh dari bibir pantai menuju ke bukit dimana terdapat Mercusuar (Light House). Untuk naik ke mercusuar ini, kita harus membayar 2000 rupiah lagi per orangnya.





Dari atas bukit, pemandangan pantai dan sekitarnya jadi semakin mempesona.Air laut tampak berwarna hijau kebiru-biruan yang dihiasai putihnya bekas hempasan ombak di pinggir-pinggir karang, menyaru dengan birunya langit.Di sekitar pantai dikelilingi oleh bukit-bukit kecil, seakan-akan ingin menyaingi keindahan pulau komodo. Wuahh tak salahlah kata orang bahwa Indonesia adalah surga dunia.Hampir terlena dengan keindahan di tempat ini, saya sampai lupa bahwa tujuan sebenarnya adalah mercusuar.

Mercusuar

Sesampai di area mercusuar, ada seorang bapak yang menjaga tempat ini, setelah membayar 5ribu rupiah kami diijinkan untuk naik sampai ke puncak mercusuar. Setelah menaiki tangga yang berputar sebanyak 7 lantai, dan cukup menguras tenaga akhirnya kami sampai di puncak mercusuar.

Pemandangan dari atas Mercusuar

Wuahh… pemandangan dari tempat ini benar-benar susah untuk di gambarkan, saya tak memiliki cukup kata untuk mendeskripsikannya. Jika teman-teman penasaran sebaiknya datang sendiri ke tempat ini dan melihat dengan mata kepala sendiri. Semoga hasil jepretan dari mercusuar bisa sedikit menggambarkan indahnya pemandangan dari tempat saya berada. Yang jelas di tempat ketinggian ini saya bisa melihat semuanya, sampai ujung bumi kira-kira seperti itulah. Anginnya sangat kencang sehingga cukup membuat masuk angin, tapi pemandangan yang benar-benar indah membuat saya mengabaikan masalah masuk angin.



Setelah puas berleha-leha di ketinggian ini, kami pun segera turun, lalu menyusuri jalan setapak menuju ke arah sebuah bukti yang kemungkinan biasa di gunakan orang-orang untuk nge-camp karena ada bekas kayu bakar. Setelah mengambil beberapa gambar, kami pun menyusuri jalan pulang menuju ke pantai berikutnya. Tapi tak lupa sebelumnya kami mampir membeli beberapa makanan laut yang sudah di goreng lalu makan siang disebuah warung di tepian Pantai Baron.






Powered by Blogger.

Search This Blog

Blog Archive

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

footer logo