Vimanmek Mansion dan Anantha Sakhom Throne Hall: Bangkok Hari-3

Vimanmek Mansion

Hari terakhir, ahh sedihnya rasanya masih pengen di tempat ini. Setelah packing barang dan check out, kami lalu menitipkan barang di resepsionis karena gak mungkin nenteng koper kesan kemari. Sebenarnya rada ragu mau ke Vimanmek atau gak usah aja karena transportasi kesana rada njlimet tapi pada akhinya berangkat juga dengan naik taxi. Dan ini keputusan yang saya syukuri di kemudian hari karena tempat ini beneran wajib didatangin.

Setelah melewati beberapa pemeriksaan kami sampai dihalaman bangunan ini. Dari luar tampak begitu megah karena memang merupakan bangunan terbesar didunia yang terbuat dari kayu jati emas tanpa menggunakan paku sama sekali. Ini merupakan museum yang sengaja dibuat untuk memberikan penghormatan kepada raja-raja dahulu. Semua benda-benda yang dulu mereka gunakan ada di dalam bangunan ini.

Vimanmek dari atas (Sumber: Google)
Vimanmek Mansion
Agar bisa masuk ketempat ini kita juga harus menggunakan pakaian yang sopan, gak ada tempat untuk yang buka-bukaan so watch your dress! Selain pakaian sopan, semua barang juga harus dititipkan di loker yang disewakan. Tapi tenang saja karena lokernya terkunci jadi aman untuk menaruh semua barang. Bukan hanya tas yang dititipkan tapi termasuk kamera, topi dan peralatan yang lain. Karena memang dilarang untuk memotret di area ini jadi cukup menyimpannya dalam memory masing-masing.

Sebelum menaiki tangga menuju bagian dalam bangunan, kita harus melepaskan alas kaki di tempat yang sudah disediakan. Saat melewati pintu ada petugas wanita yang menyapa para pengunjung dengan ramah sambil memeriksa badan pengunjung jangan sampai ada kamera atau barang lain yang disembunyikan.
 
Perabotan didalam vimanmek (Sumber: Google)

Bagian dalam vimanmek (Sumber: Google)

Memasuki bangunan ini serasa berada di dalam sebuah rumah mewah. Semua perabotan dan peralatan ada di tempatnya masing-masing. Yang patut diacungin jempol adalah tak tampak debu yang mengotorin bangunan ini, nampaknya benar-benar dirawat sedemikian rupa. Lebih enak lagi klo ada guide yang bisa menjelaskan setiap ruangannya. Di setiap sudut tampak petugas-petugas berseragam yang mengawasi para pengunjung jangan sampai ada yang menyentuh barang atau melanggar aturan yang lain. Karena memang ada ruangan-rungan tertentu yang tidak boleh dimasukin dan hanya diberi pembatas berupa tali agar pengunjung masih bisa mengamati dari luar.

Vimanmek dari belakang
Selesai mengelilingi Vimanmek Mansion, kami lalu bergegas menuju ke Anantha Sakhom yang terletak di Kompleks Dusit Palace. Sebelum masuk ketempat ini kita lagi-lagi harus menyimpan barang di loker yang ukurannya tidak terlalu besar tapi gratis. Setelah berjalan beberapa meter dari kejauhan tampak bangunan ini berdiri begitu megahnya dibawah langit biru membuat setiap mata yang memandang akan berdecak kagum. Katanya sih untuk membangun gedung ini pengrajinnya didatangkan dari Italia untuk memperkuat gaya Renaissance dari bangunan ini.
  
Anantha Sakhom

Anantha Sakhom

Dari luar aja udah tampak megah seperti itu apalagi isinya didalam. Seandainya bisa masuk kedalam pasti nuansa kerajaan bakalan semakin terasa. Sayang waktu saya udah gak cukup, jadinya hanya bisa mengaguminya dari luar sambil menatap iri melihat orang-orang lalu lalang di depan gedung putih itu. Karena panas yang begitu menyengat kami melipir ke sebuah bangunan yang ada ACnya untuk mengademkan badan sejenak sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Tempat ini hanya buka Selasa – Minggu, setiap hari Senin dan Libur Nasional Tutup selain itu jangan lupa tetep pakai baju yang sopan aja karena kalo gak kita harus beli kain bukan sewa.

Dari Anantha Sakhom kami langsung balik ke hotel lalu mengambil barang yang dititipkan di resepsionis. Tapi sebelumnya mampir di Terminal21 karena stasiun tempat kami berhenti nyambung dengan jalan menuju ke mall tersebut. Yang unik dari Terminal21 ini adalah setiap lantai dekorasi dan toiletnya bertemakan beberapa Negara seperti London, Paris, San Fransisco, Tokyo, dan Istambul. Setelah puas mengelilingi dan termasuk memeriksa toiletnya (maaf rada katro) kami lalu memasuki salah satu restoran untuk makan siang sebelum menuju hotel.
 
Welcome to London (Toilet)

Terminal 21

Welcome to San Fransisco

Setelah berjalan kaki dan sampi di hotel kami langsung mengambil barang yang tadi dititipkan. Karena jalanan lagi macet dan harus ngejar jadwal bus yang akan di tumpangi bubun Arie balik ke Kamboja kami akhirnya memilih naik ojek yang dipesan secara online kalo di Indonesia kayak Go-jek gitu. Dengan bantuan resepsonis kami dipesankan 2 buah motor yang membawa kami menuju ke daerah Pratunam lagi karena deket dengan tempat bus. Setelah Bubun Arie meninggalkan saya, saya langsung masuk ke Paltinum mall menjelajahi beberapa lorong. Memang baju-baju disini dijual dengan harga yang lumayan murah dibandingkan dengan di Indonesia. Kalo saja gak ingat kalo saya gak pakai bagasi, mungkin udah kalap beli ini dan itu.

Selesai jelajahin Platinum meskipun gak semuanya, saya lalu keluar dan menyeberang ke Pratunam. Rasanya gak afdol aja kalo gak menjejakkan kaki ditempat ini. Sekalian mau cari baju titipan Si Onty dan Mom Cio (baca: kakak). Tapi mungkin karena kesorean jadi kebanyakan pedagangnya udah pada siap-siap tutup. Lagipula lorong-lorongnya dipenuhi oleh orang-orang yang masih berebutan membeli barang sehingga rada susah untuk berjalan. Setelah barang yang saya cari ketemu, saya lalu keluar dari Pratunam dan bertanya ke beberapa orang cara menuju ke Bandara. Setelah melewati beberapa orang yang gak bisa bantu karena gak bisa bahasa Inggris akhirnya saya ketemu petugas yang bisa memberitahu. Saya disarankan untuk memakai ojek saja ke Stasiun tempat Skytrain menuju bandara. Setelah tawar menawar dengan bahasa tarsan, akhirnya ongkosnya kita sepakatin dan ojek itu membawa saya menuju ke Stasiun ARL.



“Hidup itu bukan perjuangan tapi perjalanan. melangkahlah kemanapun kau mau tapi ingat cepat atau lambat kita semua akan bertemu ditempat yang sama.”



Chao Praya, Grand Palace, Wat Pho, Asiatique : Bangkok Hari 2




Kalo hari-1 waktu abis buat ngulilingin shopping area, hari kedua ini diabisin blusukan ke objek wisata sekitar Chao Praya River yang terkenal di Bangkok. Cara ketempat ini kurang hapal sih, tapi yang pasti kita harus menuju ke BTS Saphan Taksin, so darimana pun keberangkatan kalian ingat untuk menuju ke Saphan Taksin.  Nanti akan keliatan sungai yang dipenuhi oleh perahu. Nah pas nyampe sini kudu jeli memilih perahu. Karena beda bendera akan beda harganya.

Mimpi yang Jadi Nyata: Bangkok Hari 1





Sekian lama bermimpi bisa ke Negara ini akhirnya hari ini 24 April 2016 berhasil juga menjejakkan kaki di "kota malaikat" ini. Pesawat Jetstar membawa saya mendarat di Bandara Suvarnabhumi sekitar jam 9, setelah mengisi form imigrasi dan melewati pemeriksaan dengan sedikit hambatan karena saya rada susah nangkap omongan petugasnya yang berbahasa Inggris dengan aksen Thai. Saya segera mencari counter yang konon katanya memberikan simcard gratis untuk tourist.

Tidur di Bandara Changi Kedua Kalinya

Changi Airport - Terminal 2

Udah baca part 1 dari pengalaman "tidur di changi" kan? ( Tidur di Bandara Changi? Sapa takut...) Nah ini part 2-nya. Saat keberangkatan menuju ke Singapura jedah waktu tiba sama waktu penerbangan selanjutnya sangat singkat, so hanya bisa mengelilingi area Terminal 1 saja. Nah yang seru ini pas kepulangan karena tiba di Singapura 00.30 dini hari dan penerbangan selanjutnya ke Surabaya jam 11.10 jadi ada jeda waktu 10 jam. Pesawat saya sebenarnya landing di Terminal 1 tapi berhubung pengen tau Terminal 2 dan Terminal 3 maka saya langsung naik Skytrain menuju ke T2. Anyway karena itu sudah tengah malam hanya ada saya seorang diri di Skytrain dan bandara mulai sepi.
Terminal 2
Sampai di T2 ternyata bandaranya gak terlalu ramai, di beberapa bangku di sepanjang jalan tampak beberapa pelancong yang sudah tidur pulas. Saat berjalan menjelajah T2 saya melewati kursi pijet yang dari dulu pengen ngerasain. Ada 2 kursi pijet tapi yang satu sudah ditempati seorang bapak yang tampangnya seperti orang Pakistan sempat berpikir untuk melewati saja dan mencari kursi yang kosong tapi tiba-tiba naluri kepo saya muncul begitu saja. Menganggap ini kesempatan untuk cas cis cus dengan warga negara lain, secara English saya bener-bener ancur. So, dengan tampang polos saya mendekati bapak itu kira-kira ngomong gini “Excuse me Sir, can I sit here?”, dan bapak itu menjawab dengan senyum “Yes, please…” Ah dalam sekejap mata saya langsung mengambil posisi dan mulai memencet tombol-tombol seenak hati. Pokoknya kaki saya bisa dipijet oleh benda yang baru pertama kali saya gunakan setelah ketiga kalinya ke bandara ini.
Kursi Pijat
Setelah beberapa menit agak awkward dan hening, saya mengajak bapak tadi ngobrol, and time flies so fast gak terasa hampir setengah jam ngobrol sama bapak itu. Percakapan kita kira-kira seperti ini: bapak itu dari India, sebenarnya nyebut nama sih tapi kelemahan saya yang suka gak inget nama orang. Gak nyangka aja dari India soalnya tampangnya kayak orang Eropa gitulah. Beliau menyarankan untuk ke India one day tapi sarannya jangan seorang diri karena gak aman. Dalam hati hanya meng-aminkan saja. I hope so.. Berharap suatu hari bisa ke India beneran, meskipun India belum masuk daftar prioritas untuk di jelajah. Dan yang bikin seneng ternyata beliau ngerti apa yang saya omongin padahal ngomongnya bener-bener belepotan. Karena beliau harus mengejar penerbangan selanjutnya, beliau pun berpamitan. Sementara saya masih duduk manis menikmati pijetan dari kursi gratis ini.


Lagi menikmati kursi pijet sambil merem-merem tiba-tiba seorang wanita cantik lewat, berhenti tepat depan saya lalu bertanya apa ini gratis lalu saya mengiyakan dan mengatakan monggo kalo mau duduk. “Aha… kesempatan buat ngomong lagi nih”, dalam hati bersorak gembira. Kali ini saya ngobrol sama seorang wanita yang berasal dari California tapi tinggal di Australia. Wanita cantik ini sudah bertahun-tahun backpackeran seorang diri kesana-kemari. Ada banyak pengalaman yang diceritkan bikin ngiler pengen segera resign ngikutin jejaknya. Jadi kali ini dia mau ke India buat mendaki gunung dan seorang diri. What?? Tadi barusan ngobrol sama orang India yang bilang perempuan jangan sendiri kesana tapi wanita ini malah bakalan ke sana seorang diri. Saat saya ceritain ke dia responnya adalah “Oh, beruntung saya gak ketemu orang itu jadi gak bikin saya takut buat kesana”. Hahahaa hanya bisa ngakak dalam hati, wah boleh juga nih niru mental orang ini. Asik ngobrol tiba-tiba dia melirik jam dan tampak kaget karena sadar kalo penerbangannya sebentar lagi dengan terburu-buru dia mengambil tas dan berlari meninggalkan saya setelah berpelukan dan mengucapkan salam perpisahan. Ah.. indahnya dunia, semakin jauh kaki melangkah semakin banyak hal baru yang tak terduga dialami.
Skytrain
Seorang Diri Di Dalam Skytrain
Semakin malam mata ini mulai kedip-kedip, awalnya pengen tidur di kursi pijat tapi rasa penasaran untuk tahu semua spot di Bandara ini mampu mengusir kantuk dan beranjak pergi. Setelah berkeliling dan sempat memotret miniatur bunga lili saya pun menuju Skytrain ke T3. Sesampainya di T3 ternyata bandaranya lebih mewah dan tampak lebih luas. Fasilitasnya hampir sama dengan T1 ada area untuk menonton tv dengan berbagai siaran, area untuk internet gratis, sofa untuk tidur yang bersebelahan dengan kolam ikan Koi, dan taman bermain anak.
Playground
Spot Buat Nonton
Spot Buat Bobok Cantik
Tempat nonton
Kolam Ikan
Nonton Sambil Tidur boleh....

Saat sedang menjelajah saya menemukan 5 kursi tidur yang empuk dan ada alat pijatnya. Ah bayangin tidur disana rasanya bakalan nyaman banget, sayangnya semua tempat sudah full. Hanya tersisa satu kursi panjang biasa yang kosong. Heran juga kenapa gak ada yang mau tidur disini, dan ternyata alasannya saya temukan belakangan setelah ngalamin sendiri. Ternyata orang di sebelah buka sepatu dan aromanya hmmmm jangan tanya, rasanya mau muntah. Dalam hati nih orang gak tau diri juga ya, gak sadar apa kakinya bau. Awalnya pengen pindah tapi setelah mencoba menutup wajah dengan scarf dan syal akhirnya saya bisa bernafas dengan lega, bebas dari polusi. Sempat terdengar celotehan petugas bandra yang lewat “hm… kaki bau banget”. Hanya bisa ngakak dalam hati dan berharap semoga orang sebelah denger biar kakinya segera disimpan dalam sepatu lagi. Gak lama saya sudah masuk alam mimpi.
Kursi Tidur yang tersisa
Kursi Pijat
Saat terbangun dan menoleh ke sebelah, ternyata kursi tidur itu udah kosong, saya buru-buru mengambil barang dan berpindah tempat. Wahh beneran rasanya nyaman banget, selain empuk alat pijet otomatisnya juga benar-benar bikin nyaman. Rasanya pengen tidur di kursi ini sepanjang hari. Lagi menikmati pijetannya sambil mainan hape, di depan saya lewat pelancong yang melirik saya lalu senyum-senyum. Udah kegeeran aja ternyata dia senyum-senyumnya sama kursi tidur sebelah saya yang kosong. Saat memencet-mencet tombolnya sepertinya kursi sebelah rusak, akhirnya dia menyerah dan mau pergi. Hmm karena saya orangnya baik hati dan tidak sombong saya menawarkan tempat saya. Akhirnya saya harus merelakan tempat tidur nyaman itu ke orang tersebut. Setelah ngobrol ngalur-ngidul, to cut the story short inti percakapan kita kalo mas2 ini dari Alaska mau ke Bali dan sudah sering ke Bali sehingga bisa bahasa Indonesia sedikit-sedikit. Dia suka minum kopi Toraja so nitip di bawain kopi Toraja one day. Hahaha semoga bisa menuhin ya kaka.
Taman Anggrek
Butterfly Garden
 Jam 7an saya pamit mau ganti baju sekalian cuci muka karena pengen keliling T3. Setelah cuci-cuci dan cantik lagi saya jalan menuju Taman Kupu-Kupu yang konon katanya ada ratusan kupu-kupu didalamnya. Sebenarnya pengen foto-foto sih sayangnya gak memungkinkan karena gak ada yang bisa fotoin. Jadi hanya bisa mengabadikan dalam memori saja. Di dalam tempat ini ada banyak bunga yang sengaja dipelihara sebagai habitat kupu-kupu tropis. Untuk menghidupkan suasana dibangun air terjun mini juga. Sebenarnya ada 2 lantai tapi karena saya bawa troly jadi gak bisa turun ke bawah dan hanya bisa menikmati dari atas beratus kupu-kupu yang terbang kesana kemari.
Butterfly
 
 


Dari Taman Kupu-Kupu saya menuju ke Movie Theater, ya disini ada bioskop mini yang bisa dinikmati Gratis juga. Film-Film yang tayang juga lumayan baru. Waktu itu film yang sedang tayang adalah Everest, sebenarnya pengen nonton tapi waktunya sudah tidak cukup. Jadi saya langsung meninggalkan T3 dan dengan Skytrain menuju ke T1 menunggu waktu untuk berangkat.
Movie Theater
Spot Internet Gratis
Oh iya kalau waktu menunggu teman-teman cukup lama, sebenarnya bisa ikut free tour yang ditawarkan Bandara Changi ini. Tapi karena hanya ada pada jam-jam tertentu saja dan pendaftaran minimal 1 jam sebelumnya jadi jadi pastikan waktunya sesuai.

Tidur Di Bandara Changi? Sapa takut…

Changi Airport

Hey reader, long time gak nulis nih. Tapi lagi ada pengalaman seru yang pengen merlin bagi.. Pengalaman berharga dan membuat ketagihan ini saya dapatkan berkat menaiki pesawat Jetstar yang berangkat dari Surabaya jam 20.45 dan mendarat di Singapura 00.05 dini hari dan akan melanjutkan ke Bangkok jam 07.00 pagi. Karena waktu yang nanggung so pilihan terbaik adalah menginap di Bandara. Asal tau aja Changi merupakan bandara yang paling friendly buat backpacker. Fasilitas yang ada bener-bener gak bakalan abis di datengin satu-satu dalam sehari, secara bandaranya ada 3 Terminal dan di setiap terminal punya keunikan fasilitas masing-masing.

Jakarta-Bandung 10 jam




Saat membaca kembali setiap tulisan di blog ini saya baru sadar ada beberapa liburan yang terlewatkan. Salah satunya adalah kota favoritku setelah Surabaya yaitu Bandung. Bukan hanya karena kotanya yang cantik tapi juga walikotanya yang sangat romantis dan kocak membuat kota ini dicintai oleh siapa saja (kecuali banjirnya). Saat mencoba menuliskan kisah perjalanan ini, saya mulai kehilangan memory mengenai detail perjalanan saya saat itu. Tapi kesenangan saat pertama kali menjejakkan kaki di kota kembang itu masih membekas jelas. Bagaimana saya “mumbul” hanya gara-gara pertama kali dalam sejarah hidup akhirnya saya di panggil “teteh”. Jahahahaa mimpi jaman cilik gara-gara suka nonton sinetron ala orang Sunda. 

Lawang Sewu, Bangunan Seribu Pintu





Gak afdol kalo udah jauh-jauh ke Semarang tapi belum ketempat satu ini, yup “Lawang Sewu”. Bangunan bergaya kolonial dengan sejuta kisah mistisnya yang bertebaran di internet. Bahkan ada yang mlesetin gedung seribu pintu dengan seribu hantu, jadi maksudnya di tiap pintunya ada satu hantu ta? Ahh what everlah yang jelas selama saya mengelilingi tempat ini gak pernah ketemu yang begituan. Mungkin karena memang saya yang gak bisa lihat dan gak peka. Atau mungkin juga karena saking banyaknya orang jadi susah bedain mana orang dan mana upsss…..

Jejak Singkat Di Borneo: Dari Bandara Sepinggan sampai ke Jembatan Mahakam

Jembatan Mahakam

Gak terasa udah di penghujung tahun aja ya teman. Sebentar lagi masuk tahun baru 2016. Seperti biasa dan seperti tahun-tahun sebelumnya liburan akhir tahun selalu saya habiskan di kampung halaman tercinta “Tana Toraja”. Tapi tahun ini ada yang special, berhubung siponakan kesayangan mau ikutan mudik, so saya harus menjemputnya ke “Kota Tepian” alias Samarinda. Niat awalnya sih semoga bisa eksplore kota ini, sayangnya ternyata gak ada waktu sama sekali karena kudu jadi baby sitter selama 2 hari disana. Beruntung saya sempat melewati dan mengabadikan jembatan yang menjadi icon kota ini, yuhu… Jembatan Mahakam!!
Sepinggan Airport

Pesawat saya mendarat jam 7 malam di bandara Sepinggan milik kota Balikpapan ini. Asal tahu aja Bandara Sepinggan ini pernah menerima penghargaan nomor satu pelayanan publik prima di Indonesia pada tahun 2014, bahkan juga pernah berhasil masuk peringkat ke-16 dengan layanan terbaik di dunia. Tak heran memang, karena bandara ini bukan hanya luas, dan megah tetapi juga sangat nyaman, bersih dan tertata dengan rapi. Ada banyak area berupa taman yang ditumbuhi oleh berbagai tanaman. Tak menghilangkan identitasnya, diberbagai sudut tampak ukiran-ukiran etnik Dayak. Dan seperti kebanyakan bandara mereka memberi fasilitas layanan wi-fi gratis. Didalam bandara ini juga katanya ada mall, tapi saya sendiri belum sempat mengelilingi mencari tahu letak mall tersebut.
Sepinggan Airport
Setelah bertemu dengan Onty Melti, kami lalu menaiki travel yang akan mengantar kami menuju ke Samarinda dengan waktu tempuh 2 jam. Ada banyak cara menuju tempat ini, bisa menggunakan kendaraan pribadi, bus kota, travel atau mobil sewaan. Gak banyak yang bisa dilihat, selain karena sudah malam juga karena sepanjang perjalanan kiri kanan tampak hutan-hutan yang sangat gelap saking lebatnya.

Pasti ada banyak tempat menarik yang bisa di eksplore di Samarinda ini, sayangnya waktu saya terbatas jadi yang sempat tertangkap mata hanya Jembatan Mahakam karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari rumah. Jembatan ini merupakan jembatan besar karena menghubungkan Samarinda Kota dan Samarinda Seberang yang terpisahkan oleh sungai Mahakam yang lebarnya lebih dari setengah kilometer. Bisa kebayangkan betapa lebarnya sungai itu.  Bahkan bisa dilewati oleh kapal-kapal pengangkut minyak atau batubara.
Islamic Center Samarinda

Sayangnya kita gak bisa berhenti di jembatan ini, karena selalu ramai dengan kendaraan yang lalu lalang. Tapi tenang aja kita tetap bisa menikmati  pemandangan jembatan Mahakam ini dari Big Mall yang letaknya tidak jauh dari Jembatan Mahakam dan bagian belakangnya tepat berada di pinggir Sungai Mahakam sendiri. Disebut Big Mall karena mall ini memang sangat besar dan cukup untuk membuat pengunjungnya nyasar. Dari Mall ini juga kita bisa melihat kapal yang lalu lalang di bawah sungai Mahkam karena memang lokasinya tepat berada di pinggir sungai. Selain Jembatan Mahakam salah satu icon yang juga terkenal yaitu Islamic Center Samarinda yang konon katanya merupakan salah satu masjid yang termegah se-Asia Tenggara. Kalo mau masuk ketempat ini jangan lupa gunakan pakaian yang sopan karena merupakan tempat ibadah.

Hanya sedikit yang bisa saya ceritakan tentang kota ini. I hope one day bakalan blusukan ke objek wisata yang lain. ‘Till we meet again, Kota Tepian”.

Trekking Menuju Air Terjun Tirtosari


Puas bermain speedboat di TelagaSarangan, kami lalu melanjutkan perjalanan ke objek wisata lain. Kali ini tujuan kami adalah air terjun Tirtosari yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Telaga Sarangan hanya sekitar 2-3 km. Setelah melewati pasar yang rame disekitar Telaga, kami lalu menyusuri jalan menurun yang masih terbuat dari makadam. Sesampai di rumah warga yang juga dijadikan sebagai tempat parkir kendaraan, kita masih perlu berjalan ±1 km jauhnya. Lumayan juga sih, tapi tenang aja sepanjang perjalanan mata kita akan disuguhi pemandangan yang benar-benar indah.

Di kiri-kanan sepanjang jalan tampak hijau segar dengan pepohonan yang menyatu dengan perkebunan warga. Sesekali tampak ibu dan bapak tani yang sedang merawat tanaman mereka. Meskipun matahari sudah lumayan tinggi, namun dikejauhan tampak perbukitan menjulang tinggi yang masih tertutup dengan awan dan kabut. Mungkin karena air terjun ini terletak di lereng gunung Lawu, tak heran jika tetap terasa dingin dan udara begitu sejuk. 

Semakin dekat dengan lokasi air terjun, jalanan semakin licin karenanya perlu berhati-hati saat melangkahkan kaki. Bahkan sempat ada pengunjung harus menahan malu karena terpeleset. Belum juga sampai di air terjun, gerimis udah mulai turun. Kami semakin mempercepat langkah kaki menuju ke atas agar tak kehujanan. Tapi sebelumnya kami mampir di warung warga yang juga menyewakan toilet untuk ganti baju atau mandi. Setelah mengganti pakaian kami lalu bergegas naik ke atas dimana lokasi air terjun Tirtosari berada.

Untuk bisa sampai di air terjunnya, kita harus menapaki anak tangga yang terbuat dari beton. Saat kami tiba tampak sudah ada banyak pengunjugn yang lebih dulu sampai. Air terjun Tirtosari yang tingginya sekitar 50 km mengeluarkan gemuruh air yang keras disertai angin yang berhembus kencang saat menghujam tanah. Kudu hati-hati sih kalo bermain ditempat ini karena sangat licin.  

Melihat teman-teman yang sudah dahulu menceburkan diri di bawah air terjun, saya pun ikutan tergoda untuk merasakan sensai shower alami ini. Upssss seketika badan terasa kaku. Brrrrrrr ternyata dingiinn banget… Serasa disirami dengan berliter-liter air kulkas. Woohooo gak tahan berlama-lama dibawah air terjun saya segera keluar. Kelamaan dibawah sana bisa stroke tiba-tiba. Btw menurut kepercayaan warga setempat kalo membasuh muka dengan air terjun ini akan membuat awet muda. Hmmm kita liat aja ya nanti hahaha. Tapi gak pake ginian saya udah awet muda kok, sampe kadang-kadang dikira anak SMA upsss!!  

Kami gak bisa berlama-lama di tempat ini karena awan semakin gelap dan hujan mulai semakin deras. Setelah mengganti pakain, kami bergegas berjalan kembali menuju parkiran. Sesampainya di parkiran cahya mentari menampakan wajahnyanya lagi, ahh untunglah gak ujan.  Kami lalu mengambil motor dan kembali menyusuri jalan menuju ke Sarangan, tapi baru beberapa meter terlewati hujan mulai turun lagi, mulai gerimis dan tiba-tiba semakin deras saja. Gak ada pilihan lain selain mampir berteduh di warung-warung sepanjang perjalanan. Dari warung ini tampak kejauhan dibawah sana Danau Sarangan yang juga sedang diguyur hujan. Sambil menunggu hujan reda, kami memesan pisang goreng yang entah mengapa rasanya begitu nikmat. Sebenarnya kami berencana untuk meneruskan perjalanan ke Air Terjun Jumog yang juga terkenal, tapi karena cuaca tidak memungkian akhirnya kami memilih untuk pulang saja. Yah memang begitulah kota ini, cuaca tak pernah bisa di prediksi. Matahari bisa bersinar begitu terik, tapi dalam sekejap bisa hujan. So, kalo kesini berharaplah keberuntungan biar cuacanya bersahabat.

SARANGAN, LAKE TO REMEMBER AND UNFORGETTABEL



Liburan di Indonesia emang gak ada habisnya. Salah satu objek wisata alam yang tak lekang oleh waktu menurut saya adalah Telaga Sarangan ini. Ketenarannya dari dulu dan sampe sekarang tak pernah terkalahkan oleh objek wisata lain yang baru-baru booming. Tak heran jika monumen didepan telaga ini bertuliskan “Sarangan Lake to Remember”. Mungkin karena pemerintah setempat selalu berhasil membuat sesuatu yang baru sehingga pengunjung tak pernah bosan ke tempat ini. Bahkan kalo boleh berkata, “tak cukup sekali aja ketempat ini”. Saya sendiri dan Evi sepakat mengakui bahwa ini adalah liburan terasik dan terseru sepanjang perjalanan trip kami. 

View dari danau
Perjalanan dimulai sabtu sore sepulang kerja, bersama 5 orang teman kami lalu menuju ke Magetan yang jarak tempuhnya sekitar 5-6 jam. Setibanya di Magetan, kami istirahat dirumah Mas Alik yang memang lokasinya dekat dengan Telaga Sarangan. Buat teman-teman yang mungkin gak punya kenalan asli kota ini bisa booking hotel jauh-jauh hari secara online di www.hoterip.com. Ada banyak pilihan dan sering ada promo menarik yang ditawarkan. Karena Magetan ini termasuk didaerah dataran tinggi, gak heran jika suhunya lumayan dingin. Berbeda dengan Surabaya yang tiap hari panas bikin sumuk bahkan dimalam hari sekalipun. Waktu ketoilet untuk cuci muka airnya serasa air dalam kulkas begitu dingin membuat tangan terasa beku. Karena lelah diperjalanan gak lama setelah kepala menyentuh bantal, kami semua langsung terlelap.

Saya terbangun ketika mendengar suara Rizal membangunkan kami. Namun karena begitu dingin, membuat kami semakin dalam bersembunyi didalam selimut. Kalo saja tidak ingat rencana untuk ke Telaga Sarangan, rasanya ingin tidur saja dibalik selimut yang benar-benar terasa nyaman. Tapi rasa penasaran untuk segera melihat Sarangan akhirnya memaksa kami bangun. Jam 5 lewat kami lalu berpamitan untuk segera menuju ke Sarangan. Di kejauhan tampak matahari yang baru mulai menampakkan wajahnya membuat semburat cahaya orange keemasan yang benar-benar keren. Sunrise!! Yup perjalanan kali ini bonus sunrise yang memantul diperairan sawah sepanjang jalan.

Sunrise...
Sepanjang jalan menanjak menuju ke Telaga Sarangan, mata kami dimanjakan oleh pegunungan Lawu yang tampak disisi kanan jalanan yang masih tertutup kabut. Pohon-pohon pinus yang berlomba-lomba menjulang tinggi ke langit. Menembus kabut dipagi hari benar-benar membuat dingin menggigil, tapi udaranya segar bebas polusi. Beberapa kali berjumpa dengan penduduk yang tampak memanggul hasil kebunnya yang akan dijual di pasar. Ahh alam pedesaan yang benar-benar perfect, dalam hati berbisik “Magetan I am in love”. Tempat seperti ini yang saya mimpikan untuk menghabiskan hari tua (ciee.. apa sihhh).

20 menit berlalu kami sudah memasuki kawasan Sarangan, sepanjang jalan tampak ramai oleh pengunjung dan pedagang yang membaur menjadi satu. Tampak hotel yang menjamur di kiri kanan jalanan dan juga warung-warung yang menjajakan makanan serta cendera mata khas Sarangan. Belum juga turun dari motor mata saya sudah menangkap keindahan Telaga Sarangan ini yang dari kejauhan tampak berwarna biru keabu-abuan. Oh God, it so amazing!! Gak sabar pengen segera kebawah melihatnya dari dekat.
Aku dan Mereka
Selesai memarkir motor, kami menyempatkan diri berfoto bersama di monumen yang berdiri kokoh tepat di depan Telaga. Saat ini beberapa orang datang mendekati menawarkan berbagai macam barang, sewaan kuda dan sewaan boat. Karena tidak tertarik untuk naik kuda kami hanya menyewa boat aja. Setelah tawar-menawar akhirnya harga pun kami sepakati. Tapi sebelum memulai petualangan bermain air, kami mengisi perut terlebih dahulu disebuah warung yang berderet dengan rapi mengelilingi tempat wisata ini. Salah satu makanan khas yang dijajakan yaitu sate kelinci.

Bebek-bebekan air
Here  we are...
Perut kenyang, hati senang dan energy sudah terisi full, kami gak menyia-nyiakan waktu langsung menuruni anak tangga menuju tempat mangkalnya speed boat yang akan kami tumpangi. Karena kami bereenam so harus nyewa 2 speedboat. Beruntungnya kami ketemu sama bapak Sanyoto dan Rudianto yang baik hati dan selalu mau ngikutin apa maunya kita. Bahkan juga jago motoin kita.  Pokoknya service-nya the best-lah.

Welcome to Telaga Sarangan
Amazing....
Setelah kami mengambil posisi di kursi masing-masing, speedboat perlahan bergerak ke tengah-tengah telaga. Deru bunyi mesin speedboat beradu dengan ramainya bunyi percikan air saat kami lewati. Suaranya luamyan bising jadi bisa teriak sepuasanya karena gak akan ada yang protes. Ahaa kesempatan ini bisa digunakan untuk katarsis, teriak sekencang-kencangnya untuk mengeluarkan polutan dari pikirian. Setiap teriakan yang disuarakan, ada rasa puas tersendiri karena bisa melepaskan beban pikiran berton-ton sehingga otak pun terasa begitu ringan dan hormon endofrin dan serotonin terproduksi maksimal. Ahh bahagia yang tak bisa di gambarkan. Bapak yang mengendarai speedboat pun semakin bersemangat memacu speedboat dan meliuk-liukkan bak ular setiap kali mendengar teriakan antara rasa takut dan bahagia yang bercampur jadi satu.

Do feel....
Kapal oleng kapten

Mengelilingi danau ini 3 kali putaran ternyata gak cukup, benar-benar bikin ketagihan. Setelah selesai mengambil beberapa foto ditulisan putih ala-ala Hollywood bertuliskan “TELAGA SARANGAN”, kami lalu berputar menuju ke dermaga kembali. Setelah mengucapkan terima kasih, kami lalu naik ke atas mengambil motor lalu meninggalkan Telaga Sarangan menuju ke spot yang lain. 

Tempat wisata di Indonesia memang sayang banget kalo tidak dijelajahi satu per satu. Tidak heran sampai ada semboyan "Indonesia itu indah jangan dirumah saja". Apalagi sekarang ini sudah banyak bertebaran  Paket Wisata Domestik yang menggiurkan dan lumayan terjangkau salah satunya dari HIS Travel Indonesia. Di webnya terdapat banyak paketan wisatan yang sangat ramah di kantung apalagi untuk backpacker seperti saya. So, tunggu apalagi? Yuk liburan di Indonesia.




Happy people is not a great man in every way, but one that can find simple things in life and give thanks diligent.



HIS Domestic Holiday - Blogger Competition
Powered by Blogger.

Search This Blog

Blog Archive

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

footer logo