Perjuangan Mendapat Work Holiday Visa Australia (Part-3 End)




Setelah kejutan surat sakit (SRPI) yang saya terima lebih cepat dari yang saya bayangkan (bisa baca disini) saya tambah semangat melewati proses selanjutnya. Seharusnya jika SRPI sudah keluar kita harus mengajukan berkas ke AVAC dulu baru nanti mereka ngasih HAP ID yang dipakai untuk medical check-up. Tapi proses itu agak lama, jadi beberapa teman menganjurkan untuk medical check-up dulu baru sekalian nanti load ke AVAC, cara ini biasanya lebih cepat.

Karena saya ingin yang cepat biar galaunya gak lama-lama, saya lalu ikut cara kedua yaitu daftar HAP ID dulu. Dihari yang sama dengan keluarnya hasil Ielts, saya langsung meluncur ke web immi (klik disini) lalu  buat immiaccount untuk daftar HAP ID. Setelah dapat nomornya saya langsung telpon RS Premier Surabaya (Jl. Nginden Intan Barat Block B, telp 5993211 ext 3028)  yang kerja sama dengan kedutaan Australia. Setelah janjian saya dijadwalkan hari Selasa tanggal 20 Desember untuk medical check-up. Pas hari H saya langsung ke RS dan membawa print nomor HAP ID saya. Agak deg-degan juga karena takut diperiksa macam-macam, ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Tesnya hanya berupa tes urin, rontgen, mata dan pemeriksaan umum. Selesai check-up saya disuru ke kasir untuk bayar seharga 895ribu dan diberitahu kalo hasilnya ada yang bermasalah saya akan segera dihubungi tapi jika tidak ada masalah maka hasilnya akan langsung diserahkan ke pihak kedutaan Australia.

Saya menunggu 2 hari gak ada telpon berarti saya anggap kesehatan saya baik-baik saja. Salah satu alasan saya memilih medical check-up duluan karena ingin make sure kalo kesehatan saya lolos kualifikasi, maklum gak mau rugi di uang visa. Tanggal 22 Desember saya lalu mengirimkan berkas saya ke AVAC karena saya tidak bisa datang ke Jakarta langsung.
Alamat Jakarta :

Kuningan City lantai 2 No. L2-19

Jalan Prof. Dr. Satrio Kav. 18

Setiabudi, Kuningan Jakarta – 12940

Untuk list berkas yang saya kumpulkan bisa baca (disini). Semua file saya fotokopi kecuali referensi bank yang asli. Beberapa teman mengatakan harus di legalisir notaris, tapi punya saya hanya fotokopian tanpa legalisir. Berkasnya lalu saya kirim via kantor pos yang sehari sampai bayar 30ribu. Sebelumnya saya sudah transfer fee logistic 158ribu ke rekening vfs (standard chartered), bukti transfernya ini saya lampirkan juga di berkas yang saya kirim. Untuk biaya visanya saya pakai kartu kredit yang otomatis akan dipotong saat berkas sudah sampai di kedutaan Australia.  Waktu itu 440 AUD dalam rupiahnya 4.533.000 yang terpotong dari kartu kredit. Kalo berkas kita sudah diterima AVAC biasanya akan ada email konfirmasi bahwa mereka sudah menerima. Nantinya di email itu kita dikasih link untuk mengecek berkas visa kita sudah sampai dimana. Jadi kita tidak perlu telpon bolak-balik.

Tanggal 23 Desember saya menerima email kalo berkas saya sudah sampai di AVAC. Entah ada kendala apa berkas saya baru diterima kedutaan Australia tanggal 29 Desember. Dan akhirnya tanggal 09 Januari saya menerima email dari Kedutaan Australia bahwa visa saya granted!!! Uhhhyeeeaahh…. Waktu itu saya lagi diluar kantor rasanya senang banget sampai pengen lompat sana-sini. Akhirnya bisa tidur tenang setelah hari itu. Karena jujur mulai dari berkas saya diterima AVAC sampai sehari sebelum granted saya agak galau. Tiap waktu refresh email berharap ada email notifikasi dari Kedutaan Australia. Suka bayangin gimana kalo sampai saya gagal padahal saya sudah berkorban banyak.  But instead of worry saya milih untuk menyerahkan ke Tuhan, karena menurut saya semua usaha sudah saya lakukan, masalah granted or gak granted itu bagian Tuhan. Saya percaya kalo memang sudah waktunya Tuhan ngasih ke kita maka pintunya pasti akan terbuka lebar.

Kalo teman-teman mengikuti tulisan saya, memang prosesnya lumayan panjang dan menguras bukan hanya tenaga, waktu, emosi tapi juga dompet. Tapi percayalah kesabaran kalian untuk melewati setiap proses satu per satu dengan segala kesulitannya akan menjadi persiapan biar bisa lebih kuat di Australia nanti. Berjuanglah dengan sekuat tenaga dan jangan lupa berdoa biar Tuhan membukakan jalan.

Visa granted bukan berarti perjuangan saya selesai, justru visa granted adalah awal perjuangan yang sesungguhnya. Saya gak pernah tahu apa yang bakalan terjadi disana selama setahun atau dua tahun. Beberapa orang pernah ngomong kok kamu nekat banget ninggalin kerjaan yang sudah enak demi sesuatu yang belum pasti? Gimana kalo gak dapat kerja? Gimana kalo disana “mbambung” (jadi gembel)? Gimana kalo ketemu orang jahat? Kamu gak takut keluar-keluar setelah mengalamai kecopetan? (kisah kecopetan ini belum saya tulis). Gimana kalo… dan gimana kalo… Well honestly bukannya saya gak worry memikirkan semua itu. Saya tahu kerjaan yang sekarang ada comfort zone banget buat saya dan sayang untuk ditinggalkan. Tapi ada mimpi yang lebih besar yang ingin saya capai dan itu yang tidak akan dimengerti orang dan saya susah  untuk jelasin juga. Yang pasti ketika kamu memiliki mimpi yang lebih besar dari ketakutanmu, maka hal yang tampaknya mustahil jadi mungkin, yang susah jadi lebih mudah, yang berat jadi lebih ringan.  

So buat teman-teman yang nantinya dalam masa-masa berjuang untuk dapat visa ini, jangan heran jika ada banyak orang yang meragukan kalian. Atau ada omongan-omongan yang akan mematahkan semangat. Gak usah terlalu dipusingin, tidak usah berdebat, cukup senyumin aja. Cukup work hard in silence, and let your success be your noise. Karena sesungguhnya life begins at the end of your comfort zone. Be brave to pursue your dream gaes…

Seperti apa kisah saya di negara Kanguru nanti? Ikuti terus blog ini gaes… Semoga saya punya cukup waktu untuk share disini.

Tips:
1.      Sebelum MCU pastikan tidur yang cukup, minum air putih yang banyak dan makan makanan sehat, selain itu khusus untuk perempuan pastikan kalian tidak sedang dalam masa menstruasi.
2.      Sebelum kirim berkas ke AVAC make sure lagi semua file sudah lengkap biar tidak bolak-balik.
3.      Kalau pake kartu kredit buat bayar biaya visa pastikan limit kartu kredit yang kalian gunakan tidak kurang dari 5 juta.


ALL YOUR DREAMS CAN COME TRUE IF YOU HAVE THE COURAGE TO PURSUE THEM
-WALT DISNEY-

Perjuangan Mendapat Work Holiday Visa Australia (Part-2) - Gimana Cara dapat Surat Sakti (SRPI)

Web Imigrasi




Sebelumnya saya sudah menulis gimana perjuangan saya dapat ielts (baca disini). Setelah ielts selesai bukan berarti saya sudah bisa berleha-leha, meskipun memang ielts adalah bagian yang paling menantang dalam proses ini. Setelah ielts selesai pindah ke bagian 2 yaitu mengurus SRPI atau kalo kita anak-anak WHV biasa menyebutnya surat sakti. Karena tanpa SRPI ini sudah pasti gak bisa mengajukan berkas ke kedutaan Australia.

Perjuangan Mendapat Work Holiday Visa Australia (Part-1) - Fighting for the IELTS

Are you ready for IELTS??



Hey mates, kali ini saya sharing gimana caranya dapat visa WHV versi saya. Tapi sebelumnya kudu cerita kisah dibalik kenekatan saya untuk ikut WHV ini. Kalo kalian pembaca setia blogku harusnya sudah tau kalo saya seneng banget traveling. Dari awal yang anak rumahan, terus mulai jalan di daerah Jawa Timur, hingga akhirnya memberanikan diri berangkat sendiri ke Singapore dari sinilah saya mulai ketagihan ingin melihat dunia luar sebanyak mungkin. Karena sesungguhnya traveling itu kayak narkoba bikin kecanduan tapi tidak mematikan.

Prosedur Mengajukan Visa WHV Australia

Work Holiday Visa


Udah pada tahu WHV kan? WHV adalah singkatan dari Work & Holiday Visa yang merupakan hasil kerjasama pemerintah Indonesia dengan Australia yang memungkinkan pemegang visa ini untuk berlibur sekaligus bisa mencari kerja secara legal di Australia selama 1 tahun penuh. Jadi buat pecinta traveling, visa ini merupakan kesempatan emas untuk bisa memenuhi hasrat berlibur keliling Australia tapi tetap menghasilkan uang. Dengan catatan kita mencari kerjaan sendiri dan tentu saja jangan ngarep kerja kantoran kayak orang-orang yang punya Visa Bekerja kecuali kalo kamu lucky dan dapat sponsor.

Solo Backpacker ke Jepang – Zojoji Temple, Tokyo Tower, Hiejinja Shrine, Yanaka, Roppongi Hills (Hari 5 - End)

Zojoji Temple

Wew gak terasa sudah hari terakhir aja, hari ini agak malas-malasan bangun pagi karena emang sudah gak ada planning mau kemana. Bangun pagi karena kudu packing barang yang sudah gak cukup sekoper lagi (semua gara-gara Daiso hahaha). Tapi mengingat saya harus check-out jam 10 so akhirnya memaksakan diri untuk bangun juga. Setelah menitipkan barang di resepsionis saya lalu keluar hostel sekitar jam 9-an. Btw hari terkahir ini challenging banget soalnya saya sendiri tanpa ada bantuan internet sama sekali karena paketan saya berakhir tadi malam.

Tujuan hari terakhir ini hanya untuk memanfaatkan tiket Subway sepuasnya jadi nyari objek wisata yang dapat dijangkau dengan Subway. Salah satu yang terpampang jelas di tiket subway itu adalah Tokyo Tower jadilah tujuan utama saya ketempat ini. Dengan bantuan aplikasi offline dari “Tokyo Subway Navigation” asal tau nama stasiunnya, maka akan lebih mudah untuk menentukan naik line apa. Untuk ke Tokyo Tower sebenarnya ada beberapa line tapi waktu itu saya menggunakan Asakusa Line turun di Daimon dan ternyata ini bukan pilihan yang cukup bagus karena harus jalan sejauh 10 menit. Jika lewat Oedo Line lalu turun di Akabanebashi hanya perlu berjalanan 5 menitan.

Tokyo Tower & Kuil Zojoji
Dari depan stasiun Akabanebashi memang Tokyo Tower sudah kelihatan seakan-akan sudah dekat tapi ternyata lumayan jauh juga. Dengan petunjuk posisi Tokyo Tower saya jalan terus mengikuti feeling berjalan lurus dari exit Daimon. Tak lama saya ketemu sebuah pertigaan dan di seberang jalannya ada gerbang kuil berwarna merah, di atasnya tampak menjulang tinggi Tokyo Tower. Yes.. I got it. Sambil nunggu lampu merah buat mobil saya selfie dulu merayakan keberhasilan hari ini. Saat menuliskan bagian ini saya baru tahu kalo gerbang merah itu disebut Sangedatsumon dan merupakan salah satu benda peninggalan sejarah yang dilindungi pemerintah. Wah tahu gitu saya foto lebih bagus ya…
View dari exit Daimon
Gerbang Sangedatsumon
Gerbang Sangedatsumon dari seberang jalan
Setelah melewati gerbang Sangedatsumon (ada kepercayaan kalo melewati gerbang ini maka pikiran kita akan dibersihkan dari yang jahat dan dijauhkan dari penyakit) kita akan ketemu beberapa anak tangga dan dari bawah sini pemandanganya sangat bagus yaitu paduan antara kuil tradisional, Tokyo tower, langit biru dan pepohonan. Sepertinya ini spot wajib untuk difoto. Beruntung waktu itu ada pelajar Jepang yang lewat jadi saya bisa minta tolong difotokan (abaikan). Waktu mengitari tempat ini tampak beberapa pohon seperti pohon sakura (maklum gak tahu pohon sakura seperti apa kalo lagi gak berbunga) so pasti akan jauh lebih indah jika bisa kesini saat musim sakura. 
Pohon Sakura bukan?
Kolaborasi Zojoji & Tokyo Tower
Numpang narsis
Saat menaiki tangga itu saya melipir ke sebelah kanan karena terusik dengan suara angin yang berbeda. Dan ternyata disana ada begitu banyak patung dari batu seperti bayi kecil dengan kincir angin dan bunga warna-warni. Karena saya gak tahu ini tempat apa tiba-tiba merinding sendiri karena saya pikir ini kuburan bayi. Tapi ternyata patung itu adalah patung Budha Jizo kecil dan sengaja diberi kincir angin sebagai simbol untuk memohon agar anak-anak tumbuh dengan sehat jumlahnya sektiar 1300. Pantes saja tiap kali angin bertiup kuil yang tadinya sepi mendadak ramai dengan bunyi kincir angin.
Taman di Kuil Zojoji
Area tempat patung Budha Jizo
Tempat sembahyang disebelah aula utama
Aula utama Zojoji
Sebenarnya saya gak tahu sih kalo ternyata dekat Tokyo Tower ini ada kuil karena gak sempat survey. Setelah googling baru tahu nama kuil ini Zojoji yang merupakan tempat peristirahatan terakhir para jenderal-jenderal Tokugawa. Pantas saja waktu mengitari area ini untuk nyari jalan ke Tokyo Tower saya ketemu banyak kuburan. Gara-gara itu akhirnya saya mengurungkan niat menaiki tangga yang jalannya entah berakhir dimana. Rada parno juga karena waktu itu sepi banget hanya ada beberapa orang yang lewat. Benar-benar beda jauh dengan kuil Sensoji.

Hie Jinja
Setelah puas memotret Tokyo Tower saya kembali jalan menuju ke Stasiun Daimon lalu mencari line yang menuju ke Hie Jinja didaerah Nagatacho, Chiyoda. Ada banyak cara untuk ke kuil ini dan ternyata yang paling dekat yaitu pakai Line Chiyoda dan turun di Akasaka (3 menit jalan kaki). Tapi lagi-lagi saya salah memilih rute, saya malah naik Ginza Line  dan turun di Akasaka-Mitsuke (8 menit jalan kaki). Tapi karena berada dipinggir jalan jadi tidak terlalu susah menemukannya. Gerbangnya yang berwarna hitam tepat berada di pinggir jalan dan hanya perlu menaiki beberapa anak tangga saja kita sudah bisa melihat jejeran torii dengan warna orange mencolok mata. Tujuan saya kesini memang hanya ingin mengambil gambar torii ini jadi saya banyak menghabiskan waktu disini. Agak susah mengambil foto yang bagus karena saya hanya modal tripod mini dan  sangat jarang orang yang lewat mungkin karena ini gerbang bagian belakang.
Gerbang Belakang Hie Jinja
Torii Hie Jinja
Bagian atas dari Torii
Tempat gantung permohonan doa
Selesai mengambil gambar saya menaiki anak tangga satu per satu. Benar-benar amazed dengan bentuk torii ini. Oh iya konon katanya kalo melewati torii kita harus berjalan di bagian pinggir karena ada kepercayaan bahwa bagian tengah merupakan jalan yang dilewati oleh Dewa. Tapi waktu itu saya tidak tahu jadi dengan pedenya saya jalan di tengah-tengah torii sambil mengambil video. Sesampai di atas saya disambut dengan gerbang yang lebih besar dengan hiasan bendera merah dengan tulisan kanji berwarna putih di kiri kanan. Seperti pada umumnya dikuil ini juga terdapat tempat untuk menggantung doa-doa tepat disebelah kiri dari kuil utama. Masuk di halaman utama ternyata lumayan ramai. Entah ada kegiatan apa karena beberapa orang berkumpul disini dan melakukan beberapa ritual. Tidak banyak yang bisa saya lakukan disini karena bangunan utamanya pun sedang direnovasi. Jadi saya langsung keluar melewati gerbang depan dengan gerbang berwarna putih. Kalo teman-teman kesini mungkin bisa mencoba gerbang samping yang katanya selain menggunakan tangga manual juga ada eskalator. Jarang-jarang kan liat kuil pake eskalator hehehe.
Hie Jinja dari depan
Aula utama Hie Jinja yang direnovasi
Gerbang depan Hie Jinja

Yanaka
Selesai dari Hie Jinja saya sudah tidak tahu mau kemana lagi sambil jalan mencari stasiun subway saya mikir keras mau kemana lagi, tapi tetap clueless. Sesampai di stasiun memanfaatkan wifi gratis saya mulai googling tempat wajib dikunjungi yang belum saya datangi di Tokyo. Setelah klik sana sini saya memutuskan untuk menuju ke Yanaka karena penasaran ingin tahu versi tradisional Tokyo seperti apa. Menurut beberapa web di google Yanaka ini merupakan satu-satunya kawasan distrik kuno di Tokyo dan merupakan tempat yang wajib didatangi. Disini kita bisa melihat kehidupan masyarakat Jepang secara natural.
Yanaka
Miniatur kucing banyak ditemui ditempat ini
Pasar Yanaka

Pasar Yanaka
Keluar dari stasiun Nippori karena gak bisa pake GPS di HP jadi pakai GPS manual (Gunakan Penduduk Setempat). Seperti yang sebelum-sebelumnya saya ceritakan orang Jepang itu sangat helpful jadi jangan sungkan untuk bertanya daripada tersesat dijalan. Saat itu saya melihat seorang bapak dengan pakaian rapi ala-ala pekerja kantoran sedang berdiri di depan pintu keluar stasiun. Beliau tampak sibuk dengan hapenya tapi karena tidak punya pilihan lain saya bertanya juga. Meskipun sibuk tapi saat mendengar saya bertanya dia langsung menghentikan kegiatannya dan keluar bersama saya ke jalan raya. Sambil menjelaskan cara ke Yanaka yang dia juga gak yakin apa itu benar. Karena sungkan mengganggu waktu sibuknya saya menganggung dan say “ohh” seakan-akan saya sudah mengerti padahal tetap blank, demi menghargai usaha beliau untuk menolong saya. Bapak itu bahkan sempat say sorry karena Inggrisnya sangat buruk jadi tidak bisa jelasin secara gamblang. Tapi tetap saja saya sangat berterima kasih setidaknya keluar dari stasiun saya tau harus kearah mana.

Singkat cerita pada akhirnya saya nyasar lagi dan harus bertanya berkali-kali untuk bisa sampai di daerah Yanaka yang sebenarnya. Tapi tak masalah nyasar adalah bagian dari perjalanan untuk tahu lebih banyak. Karena nyasar ini saya ketemu bangunan-bangunan jaman dahulu jepang yang kayak di doraemon. Kebanyakan rumah-rumah dengan dua lantai dengan design minimalis. Didaerah ini sangat sepi dan jauh dari hiruk-pikuk metropolitan Tokyo. Melewati rumah-rumah penduduk disana membuat saya bisa merasakan gimana kehidupan sehari-hari mereka. Agak susah untuk menggambarkan nikmatnya melewati daerah ini, kayaknya kalian harus kesana sendiri hahaa..
Gerbang belakang Yanaka Ginza
Camilan sepanjang jalan
Camilan murah-meriah
Sesampai di Yanaka Ginza yang saya kenali dari gerbangnya, saya mulai mengeksplore kiri kanannya yang dipenuhi dengan berbagai macam jajanan murah mulai dari 100 yen. Untung saja saya sudah sarapan kalo nggak bisa lapar mata dan beli segala macam. Selain makanan disini juga ada berbagai macam seafood mentah, bunga-bunga, buah-buahan, sampai peralatan rumah tangga lainnya. Tampak seperti pasar tradisional dan beberapa orang lalu-lalang membawa belanjaan mereka. Oh iya tempat ini juga terkenal sebagai kota kucing karena selain banyak kucingnya, disini juga banyak toko-toko khusus untuk perawatan dan  makanan kucing, miniatur kucing bahakan sampai makanan berbentuk kucing juga. Jadi buat kalian pecinta kucing wajib datang kesini.
Yuyake Dandan
Toko Kerajinan Tangan
Karena tidak tahu harus kemana jadi saya terus menyusuri jalan ini sampai ketemu anak tangga yang dikenal dengan sebutan Yuyake Dandan. Tempat ini terkenal karena dipuncak tangganya kita bisa melihat matahari terbenam. Dari atas sini juga kita bisa melihat keseluruhan pasar Yanaka Ginza. Tidak heran kalo sunset ada banyak orang yang foto-foto disini. Tapi saya gak mungkin nunggu sampai sunset karena harus ke bandara jadi saya bergegas mencari stasiun subway terdekat. Tapi ternyata sangat susah mencari orang yang bisa berbahasa Inggris disini jadi walhasil saya nyasar lagi dan harus berjalan jauh untuk bisa ketemu stasiun subway. Gara-gara nyasar  juga akhirya saya melewati beberapa kuil and kuburan sampai stasiun kereta api bonus fotografer cakep disana. See… nyasar gak selalu buruk kan. hahaha

Roppongi Hills
Sebenarnya saya ketempat ini hanya iseng aja pokoknya sudah menjejakkan kaki disini dan mengobati rasa penasaran, jadi saya tidak sempat mengeksplore lebih banyak. Keluar dari stasiun langsung menuju ke taman Roppongi dengan Patung laba-laba sebagai iconnya. Nah pas keluar dari stasiun angin tiba-tiba bertiup begitu kencang sampai orang-orang pada menyingkir ke dalam gedung. Gara-gara ini juga akhirnya saya gak bisa berlama-lama disini dan langsung meninggalkan tempat ini. Jadi gak sempat unutk lihat kolam dan area taman yang lain. Tapi buat teman-teman yang mau kesini kalo pas musim Sakura katanya bagus banget karena ada banyak pohon sakura disini jadi jangan sampai dilewatkan ya.
Rappongi Hills
Mori Tower
Patung laba-laba ya
Nah kesimpulan dari trip saya hari ini untuk bisa mengelilingi 5 spot terkenal diatas ternyata tak perlu mengeluarkan banyak duit transportasi kalo sudah beli Subway Tiket. Seandainya saya memilih tempat yang dekat subway maka sepanjang hari itu saya gratis transportasi. Tapi beda cerita kalo teman-teman beli JR Pass sudah pasti lebih baik nyari penginapan yang dekat denagn stasiun JR. Hehehe so buat teman-teman yang akan kesana mungkin bisa jadi masukan ya.

Pengeluaran H-5
Jumlah
JR Ueno
160
Dumpling
250
Snack
100
JR Ueno
160
Food
498
Total
1168 (Rp. 135.488)

Solo Backpacker ke Jepang – Asakusa, Sensoji Tempel, Nakamise, Sumida River, Tokyo Sky Tree (Hari 3)



Sumida River
Dihari ketiga ini pas bangun semua badan terasa sakit apalagi paha kebawah, rupanya kemarin jalannya terlalu overload. Jadinya sambil nunggu antrian privat shower, saya duduk di kursi pijat lagi berharap kaki bisa lebih enakan. Setelah siap-siap hari ini saya keluar duluan dan janjian dengan Mary di Asakusa karena saya harus mulai menggunakan subway ticket dan harus ke Harajuku untuk membeli beberapa titipan orang di Bistip (soal ini akan saya ceritakan belakangan).

Solo Backpacker ke Jepang – Imperial Palace, Shibuya, Harajuku, Shinjuku (Hari 2)


Haneda


Setelah tertidur beberapa jam di bandara Haneda (Tokyo hari-1) saya memaksa diri untuk melek sekitar jam 4 karena planningnya mau keluar dari bandara jam 6 pagi. Namun apa daya planning tinggal planning. Terlalu asik keliling di bandra akhirnya baru keluar bandara sekitar jam 7an. Setelah cuci muka dan beresin barang saya mulai mengelilingi bandara haneda.

Solo Backpacker Jepang – Tokyo (Hari 1)


Yuhu… I’m back with different story guys. Kali ini mau cerita backpacking solo saya ke negeri matahari terbit. Sebelumnya saya sudah nulis gimana cara dapat visa Jepang (klik disini) dengan mudahnya bukan. Nah sekarang mau ceritakan gimana perjalanan saya selama 5 hari di negeri sakura ini. Dari dulu memang mimpi bisa ke Jepang tapi gak pernah nyangka bakalan secepat ini. Secara kata orang-orang ke Jepang tuh mahal dan butuh moge (modal gede). So saya pikir Jepang nanti-nanti ajalah, kudu nabung agak lama dikit baru bisa wujudin kesini. Eh, tapi kalo yang namanya rejeki emang gak kemana ya. Tiba-tiba ditawarin temen tiket Jepang pp Kuala Lumpur – Haneda hanya seharga 1,3 juta doang dengan maskapai AirAsia. Gak pikir panjang langsung saya ambil dong, urusan biaya selama liburan nanti dipikirin belakang toh masih setahun juga (tiketnya beli tahun 2016).
Juanda Airport
Selesai dengan tiket, jelang keberangkatan saya mulai sibuk nyari hostel sana-sini. Setelah galau bolak balik booking dan cancel akhirnya pilihan terakhir jatuh di Wasabi Guesthouse hanya dengan harga 700rb untuk 3 malam (pas dapat promo). Booking-nya di agoda.com dan keuntungannya karena bisa dapat poin airasia juga (lumayankan…). (Review untuk Wasabi Guesthouse) sudah saya buat juga silahkan mampir baca untuk jadi referensi.

1 bulan sebelum hari H masih galau dengan tiket Surabaya – Kuala Lumpur yang gak promo-promo. Hampir pasrah mau beli tiket normal yang notabene lebih mahal dari tiket Jepang saya, tiba-tiba liat salah satu wall teman FB ada AA lagi promo 680ribu aja. Gak pikir panjang langsung saya ambil. Jadi total tiket seharga 1.980.000 saja. Pas keberangkatan tiba-tiba rupiah juga menguat dan harga yen turun, dari yang tadinya hampir mencapai 130/yen tiba-tiba turun jadi 116-119 saja. Uhuyy emang kalo sudah waktunya buatmu, semesta pun bakalan mendukung.
Terminal 2 Juanda Airport
Hari H dengan modal promo Uber (bayar hanya 25 ribu) saya menuju ke Terminal 2 bandara Juanda jam 3 pagi karena pesawat saya jam 5an. Setelah melewati berbagai proses imigrasi saya menuju waiting room dan disana sudah menanti petugas AA yang siap-siap menimbang isi koper untuk memastikan tidak lewat dari 7 kg. Ughh hati udah deg-degan aja secara saya bawa baju serba tebel karena lagi winter. Beruntung pas ditimbang berat koper saya hanya 6,9 kg aja. Eits nanti dulu ini karena sebelumnya di checkin room saya nimbang ternyata bawaan saya sampai 9 kg, jadi saya bongkar koper dan menaruh 1 buntel pakaian diransel saya yang pada saat itu tidak ditimbang oleh si petugas.

Transit di KLIA2
Jam 5 lewat dikit pesawat AA membawa saya dari Juanda menuju ke Kuala Lumpur. Setelah 2 jam di pesawat mengalami turbulensi yang lumayan bikin ketar-ketir akhirnya saya tiba di KLIA jam 8 lewat (lebih cepat 1 jam dengan Indonesia). Sebelumnya dari Juanda saya ketemu dengan seorang mahasiswi dari Malang (baca: Rina) yang bakalan ke KL untuk urusan kampus. Setelah mengantarkan Rina sampai di depan bertemu dengan teman yang sudah menjemputnya, kami lalu berpisah.
Movie Longue
Karena kelaparan saya langsung menuju ke lantai paling bawah tempat kantin NZ berada. Tiap kali transit saya selalu makan disini karena harganya yang lumayan bersahabat. Waktu itu saya makan hanya dengan harga 6RM (18.000rban). Selesai makan saya lalu berjalan menuju KLIA2. Karena sebelumnya sudah checkin online saya langsung menuju ke imigrasi lagi. Setelah melewati imigrasi tanpa kendala apa-apa saya berjalan ke Gate PQ untuk istirahat sejenak di movie longue yang sebelumnya belum saya nikmati pas transit disini.  Ini bisa jadi salah satu spot buat tidur juga kalo transit di KL karena ada karpet yang jadi alas meskipun agak kotor.
Perlepasan antarbangsa

Disini saya habiskan untuk nonton dan main internet karena tadinya wifi saya bermasalah sebelum masuk di imigrasi dan baru mau connect pas di waiting room ini. 3 jam disini gak terasa sama sekali untung sudah pasang alarm jadi ingat kalo sudah waktunya untuk boarding. Belum juga duduk 5 menit kami sudah dipanggil untuk masuk ke dalam pesawat. Tapi sebelumnya kami melewati pemeriksan petugas yang lumayan garang juga. Mereka nanyak saya sama sapa, tujuannya apa, dan apa ada keluarga atau teman disana dengan tatapan curiga. Karena sebelumnya pas ke Vietnam pernah ngalaman seperti ini jadi kali ini jawabnya santai jadi bisa lewat begitu saja. Pas di pesawat kita cukup lama antrinya karena pesawat gede dan ada 3 row, sayang saya gak di jendela. Padahal sepanjang jalan tampak sunset yang sangat keren, sedih banget gak bisa nangkap momen itu dengan kamera.


Arrived in Haneda
Setelah menepuh perjalanan selama 6 jam lebih dengan segala macam hal yang saya lakukan demi mengusir rasa bosan (nasib jalan sendiri) mulai dari edit video, baca buku sampe bangun tidur bolak-balik, akhirnya tiba juga di Haneda Airport. Sempat ngalamain turbulensi juga tapi mungkin karena ini pesawat besar jadi guncangannya tidak terlalu terasa. Turun dari pesawat saya mulai deg-degan. Ingat info akhir-akhir ini banyak orang Indonesia yang hanya bisa menyentuh bandara Jepang saja dan dipulangkan ke Indonesia karena berbagai alasan yang tidak jelas. Ugh gak bisa bayangin gimana malunya kalo saya sampai ngalamain hal yang sama. 
Toilet di Haneda
Saking nervousnya hampir lupa ngelakuin misi pertama “lihat toilet”. Emang rada katro tapi dari dulu punya misi pengen ngerasain sendiri senyaman, sebersih dan seribet apa sih toilet di Jepang. Dan ternyata emang beneran nyaman, bersih dan tombolnya banyak. Jadilah saya nongkrong ditoilet beberapa menit untuk nyobain satu-satu tombolnya. Kalo di Indonesia kita dilarang buat tissue kedalam toilet, di Jepang ini malah sebaliknya kita “wajib” membuang tissue bekas ke dalam toilet. Flushnya pun otomatis jadi gak perlu takut kena kuman lagi abis bersih-bersih. Ada penghangat juga didudukannya jadi benar-benar nyaman, saking nyamannya hampir lupa kalo saya masih harus melewati imigrasi.
Toilet di Hanedaa
Sambil doa kenceng dalam hati saya berjalan dengan pasti menuju ke imigrasi. Setelah mengisi form kedatangan saya lalu mengikut antrian yang mengular tapi sangat rapi. Di beberapa sudut ada petugas yang dengan ramahnya membantu tiap penumpang. Dari sini emang udah keliatan beda dengan negara Indonesiaku tercinta.

Sampai di depan petugas imigrasi, jantung semakin berdegub kencang tapi berusaha untuk santai dan tersenyum saat menyerahkan paspor. Gak lama kemudian sudah terdengar bunyi cap dan paspor saya sudah didepan mata dibarengi dengan ucapan “enjoy your trip here”. What?? Segitu aja? Ini beneran udah selesai? Saya lalu menatap petugas cakep itu sambil say thank you. Entah saya yang lucky, atau karena penampilan saya meyakinkan (ciyee) atau karena itu sudah tengah malam jadi semua berjalan dengan mulus.

Dengan langkah riang saya menuju ke pintu keluar berjalan kearah kanan untuk bertanya ke Informasi kenapa hape saya tidak bisa connect dengan wifi. Saya langsung dibantu oleh seorang petugas cantik dengan bahasa Inggris logat Jepang yang khas. Setelah di klik sana sini akhirnya connect juga. Karena planningnya malam ini saya akan tidur di bandara jadi saya sekalian menanyakan dimana saya bisa tidur di bandara ini. Petugas wanita itu lalu mengambil map bandara Haneda dan menunjukkan beberapa tempat ke saya. Tapi karena kelaparan akhirnya saya menanyakan dimana saya bisa beli makanan. Awalnya di beritahu foodcourt dengan masakan khas Jepang. Tapi ingat budget jadi saya memilih menanyakan Lawson semacam mini market gitu karena mereka jual makanan juga. Setelah say arigato saya pun bergegas menuju lantai 1.

Saat berjalan ke  arah kanan itulah saya menemukan ada banyak tempat duduk yang dijadikan tempat tidur oleh penumpang lain. Di dekat deretan bangku ini ada spot wifi, disana kita bisa connect ke wifi lebih cepat jadi buat teman-teman yang mungkin ngalamin juga susahnya connect ke wifi coba cari spot dengan meja kecil berwarna putih yang atasnya ditempeli alat wifi datang aja kesana pasti langsung connect. Dari wifi spot saya langsung turun ke lantai 1 nyari Lawson yang berada di sisi kiri dari lift. Setelah beli makan dengan harga 570 yen (ternyata gak murah-murah amat ya) saya balik kea rah lift disana ada beberapa tempat duduk. Dan di sudut tempat ini juga ada tempat charger jadi sambil makan saya charge hape juga.
Lawson
Selesai makan pengen naik ke lantai 2 lagi buat tidur tapi saat toleh kanan kiri ternyata ada beberapa cewe cantik juga yang sudah tidur dijejeran bangku di belakang saya. So akhirnya saya mutusin untuk tidur juga di tempat ini. Keuntungannya karena ditempat ini tidak terlalu banyak orang yang lalu lalang seperti di lantai 2 dan lampunya lebih temaram mendukung untuk tidur. Sebenarnya planningnya mau keliling Haneda dulu tapi berhubung mata sudah tidak bisa diajak kerjasama jadi keliling Hanedanya kita pindahkan besok saja.

Tip:
     1.      Kalo berangkat pas winter jangan lupa beli vacum bag untuk mempermudah packing baju yang tebel biar tidak makan tempat. Bisa beli di Ace Hardware.
      2.      Jangan lupa bawa colokan internasional karena colokan di Jepang beda sama di Indonesia.
     3.       Tuker duit sebaiknya di cicil biar gak rugi. Misalnya saya waktu itu tuker yen diawal-awal masih 116, tapi pas dekat keberangkatan yen sudah mencapai 119. Jadi kalo rugi setidaknya gak rugi-rugi amat.
    4.      Sampai di Haneda jika susah connect ke wifi coba cari wifi spot berupa meja putih dan ada alat wifi tertempel diatasnya. Pas mau login tinggal pilih bahas Inggris lalu daftarkan  email dan kita udah bisa langsung connect.
    5.      Spot buat tidur bisa di lantai 2  tempat kedatangan atau di lantai 1 dekat Lawson. Pas keliling ketemu tempat di lantai 4 juga mungkin disana lebih enak karena lebih sepi. 


      Pengeluaran H-1
      Jumlah
     Tiket Pesawat  
     1.980.000
      Hostel
     700.000
     Uber ke bandara
      25.000
     Makan di KLIA
      6RM = 18000
     Makan di Haneda
     570 yen = 66.120
     Total
     2.789.120
 
Powered by Blogger.

Search This Blog

Blog Archive

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

footer logo