Gak afdol kalo udah
jauh-jauh ke Semarang tapi belum ketempat satu ini, yup “Lawang Sewu”. Bangunan
bergaya kolonial dengan sejuta kisah mistisnya yang bertebaran di internet.
Bahkan ada yang mlesetin gedung seribu pintu dengan seribu hantu, jadi
maksudnya di tiap pintunya ada satu hantu ta? Ahh what everlah yang jelas
selama saya mengelilingi tempat ini gak pernah ketemu yang begituan. Mungkin
karena memang saya yang gak bisa lihat dan gak peka. Atau mungkin juga karena
saking banyaknya orang jadi susah bedain mana orang dan mana upsss…..
Home / All post
Jejak Singkat Di Borneo: Dari Bandara Sepinggan sampai ke Jembatan Mahakam
![]() |
| Jembatan Mahakam |
Gak
terasa udah di penghujung tahun aja ya teman. Sebentar lagi masuk tahun baru
2016. Seperti biasa dan seperti tahun-tahun sebelumnya liburan akhir tahun
selalu saya habiskan di kampung halaman tercinta “Tana Toraja”. Tapi tahun ini
ada yang special, berhubung siponakan kesayangan mau ikutan mudik, so saya
harus menjemputnya ke “Kota Tepian” alias Samarinda. Niat awalnya sih semoga
bisa eksplore kota ini, sayangnya ternyata gak ada waktu sama sekali karena
kudu jadi baby sitter selama 2 hari disana. Beruntung saya sempat melewati dan
mengabadikan jembatan yang menjadi icon kota ini, yuhu… Jembatan Mahakam!!
Pesawat
saya mendarat jam 7 malam di bandara Sepinggan milik kota Balikpapan ini. Asal
tahu aja Bandara Sepinggan ini pernah menerima penghargaan nomor satu pelayanan
publik prima di Indonesia pada tahun 2014, bahkan juga pernah berhasil masuk
peringkat ke-16 dengan layanan terbaik di dunia. Tak heran memang, karena
bandara ini bukan hanya luas, dan megah tetapi juga sangat nyaman, bersih dan
tertata dengan rapi. Ada banyak area berupa taman yang ditumbuhi oleh berbagai
tanaman. Tak menghilangkan identitasnya, diberbagai sudut tampak ukiran-ukiran
etnik Dayak. Dan seperti kebanyakan bandara mereka memberi fasilitas layanan
wi-fi gratis. Didalam bandara ini juga katanya ada mall, tapi saya sendiri
belum sempat mengelilingi mencari tahu letak mall tersebut.
Setelah
bertemu dengan Onty Melti, kami lalu menaiki travel yang akan mengantar kami
menuju ke Samarinda dengan waktu tempuh 2 jam. Ada banyak cara menuju tempat
ini, bisa menggunakan kendaraan pribadi, bus kota, travel atau mobil sewaan. Gak
banyak yang bisa dilihat, selain karena sudah malam juga karena sepanjang
perjalanan kiri kanan tampak hutan-hutan yang sangat gelap saking lebatnya.
Pasti
ada banyak tempat menarik yang bisa di eksplore di Samarinda ini, sayangnya
waktu saya terbatas jadi yang sempat tertangkap mata hanya Jembatan Mahakam
karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari rumah. Jembatan ini merupakan
jembatan besar karena menghubungkan Samarinda Kota dan Samarinda Seberang yang
terpisahkan oleh sungai Mahakam yang lebarnya lebih dari setengah kilometer. Bisa
kebayangkan betapa lebarnya sungai itu.
Bahkan bisa dilewati oleh kapal-kapal pengangkut minyak atau batubara.
Sayangnya
kita gak bisa berhenti di jembatan ini, karena selalu ramai dengan kendaraan
yang lalu lalang. Tapi tenang aja kita tetap bisa menikmati pemandangan jembatan Mahakam ini dari Big Mall
yang letaknya tidak jauh dari Jembatan Mahakam dan bagian belakangnya tepat
berada di pinggir Sungai Mahakam sendiri. Disebut Big Mall karena mall ini
memang sangat besar dan cukup untuk membuat pengunjungnya nyasar. Dari Mall ini
juga kita bisa melihat kapal yang lalu lalang di bawah sungai Mahkam karena
memang lokasinya tepat berada di pinggir sungai. Selain Jembatan Mahakam salah
satu icon yang juga terkenal yaitu Islamic Center Samarinda yang konon katanya
merupakan salah satu masjid yang termegah se-Asia Tenggara. Kalo mau masuk
ketempat ini jangan lupa gunakan pakaian yang sopan karena merupakan tempat
ibadah.
Hanya
sedikit yang bisa saya ceritakan tentang kota ini. I hope one day bakalan
blusukan ke objek wisata yang lain. ‘Till we meet again, Kota Tepian”.
Trekking Menuju Air Terjun Tirtosari
Puas bermain speedboat di TelagaSarangan, kami lalu melanjutkan perjalanan ke objek wisata lain. Kali ini
tujuan kami adalah air terjun Tirtosari yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Telaga
Sarangan hanya sekitar 2-3 km. Setelah melewati pasar yang rame disekitar
Telaga, kami lalu menyusuri jalan menurun yang masih terbuat dari makadam.
Sesampai di rumah warga yang juga dijadikan sebagai tempat parkir kendaraan,
kita masih perlu berjalan ±1 km jauhnya. Lumayan juga sih, tapi tenang aja
sepanjang perjalanan mata kita akan disuguhi pemandangan yang benar-benar indah.
Di kiri-kanan sepanjang jalan tampak
hijau segar dengan pepohonan yang menyatu dengan perkebunan warga. Sesekali
tampak ibu dan bapak tani yang sedang merawat tanaman mereka. Meskipun matahari
sudah lumayan tinggi, namun dikejauhan tampak perbukitan menjulang tinggi yang
masih tertutup dengan awan dan kabut. Mungkin karena air terjun ini terletak di
lereng gunung Lawu, tak heran jika tetap terasa dingin dan udara begitu sejuk.
Semakin
dekat dengan lokasi air terjun, jalanan semakin licin karenanya perlu berhati-hati
saat melangkahkan kaki. Bahkan sempat ada pengunjung harus menahan malu karena
terpeleset. Belum juga sampai di air terjun, gerimis udah mulai turun. Kami
semakin mempercepat langkah kaki menuju ke atas agar tak kehujanan. Tapi
sebelumnya kami mampir di warung warga yang juga menyewakan toilet untuk ganti
baju atau mandi. Setelah mengganti pakaian kami lalu bergegas naik ke atas
dimana lokasi air terjun Tirtosari berada.
Untuk bisa sampai di air terjunnya,
kita harus menapaki anak tangga yang terbuat dari beton. Saat kami tiba tampak
sudah ada banyak pengunjugn yang lebih dulu sampai. Air terjun Tirtosari yang
tingginya sekitar 50 km mengeluarkan gemuruh air yang keras disertai angin yang
berhembus kencang saat menghujam tanah. Kudu hati-hati sih kalo bermain
ditempat ini karena sangat licin.
Melihat teman-teman yang sudah dahulu
menceburkan diri di bawah air terjun, saya pun ikutan tergoda untuk merasakan
sensai shower alami ini. Upssss seketika badan terasa kaku. Brrrrrrr ternyata
dingiinn banget… Serasa disirami dengan berliter-liter air kulkas. Woohooo gak
tahan berlama-lama dibawah air terjun saya segera keluar. Kelamaan dibawah sana
bisa stroke tiba-tiba. Btw menurut kepercayaan warga setempat kalo membasuh
muka dengan air terjun ini akan membuat awet muda. Hmmm kita liat aja ya nanti
hahaha. Tapi gak pake ginian saya udah awet muda kok, sampe kadang-kadang
dikira anak SMA upsss!!
Kami gak bisa
berlama-lama di tempat ini karena awan semakin gelap dan hujan mulai semakin
deras. Setelah mengganti pakain, kami bergegas berjalan kembali menuju
parkiran. Sesampainya di parkiran cahya mentari menampakan wajahnyanya lagi,
ahh untunglah gak ujan. Kami lalu
mengambil motor dan kembali menyusuri jalan menuju ke Sarangan, tapi baru
beberapa meter terlewati hujan mulai turun lagi, mulai gerimis dan tiba-tiba
semakin deras saja. Gak ada pilihan lain selain mampir berteduh di
warung-warung sepanjang perjalanan. Dari warung ini tampak kejauhan dibawah
sana Danau Sarangan yang juga sedang diguyur hujan. Sambil menunggu hujan reda,
kami memesan pisang goreng yang entah mengapa rasanya begitu nikmat. Sebenarnya
kami berencana untuk meneruskan perjalanan ke Air Terjun Jumog yang juga
terkenal, tapi karena cuaca tidak memungkian akhirnya kami memilih untuk pulang
saja. Yah memang begitulah kota ini, cuaca tak pernah bisa di prediksi.
Matahari bisa bersinar begitu terik, tapi dalam sekejap bisa hujan. So, kalo
kesini berharaplah keberuntungan biar cuacanya bersahabat.
SARANGAN, LAKE TO REMEMBER AND UNFORGETTABEL
Liburan di Indonesia emang gak ada habisnya. Salah satu objek wisata alam yang tak lekang oleh waktu menurut saya adalah Telaga Sarangan ini. Ketenarannya dari dulu dan sampe sekarang tak pernah terkalahkan oleh objek wisata lain yang baru-baru booming. Tak heran jika monumen didepan telaga ini bertuliskan “Sarangan Lake to Remember”. Mungkin karena pemerintah setempat selalu berhasil membuat sesuatu yang baru sehingga pengunjung tak pernah bosan ke tempat ini. Bahkan kalo boleh berkata, “tak cukup sekali aja ketempat ini”. Saya sendiri dan Evi sepakat mengakui bahwa ini adalah liburan terasik dan terseru sepanjang perjalanan trip kami.
| View dari danau |
Perjalanan dimulai sabtu sore sepulang
kerja, bersama 5 orang teman kami lalu menuju ke Magetan yang jarak tempuhnya
sekitar 5-6 jam. Setibanya di Magetan, kami istirahat dirumah Mas Alik yang
memang lokasinya dekat dengan Telaga Sarangan. Buat teman-teman yang mungkin gak punya kenalan asli kota ini bisa booking hotel jauh-jauh hari secara online di www.hoterip.com. Ada banyak pilihan dan sering ada promo menarik yang ditawarkan. Karena Magetan ini termasuk
didaerah dataran tinggi, gak heran jika suhunya lumayan dingin. Berbeda dengan
Surabaya yang tiap hari panas bikin sumuk bahkan dimalam hari sekalipun. Waktu
ketoilet untuk cuci muka airnya serasa air dalam kulkas begitu dingin membuat
tangan terasa beku. Karena lelah diperjalanan gak lama setelah kepala menyentuh
bantal, kami semua langsung terlelap.
Saya terbangun ketika mendengar suara
Rizal membangunkan kami. Namun karena begitu dingin, membuat kami semakin dalam
bersembunyi didalam selimut. Kalo saja tidak ingat rencana untuk ke Telaga
Sarangan, rasanya ingin tidur saja dibalik selimut yang benar-benar terasa nyaman.
Tapi rasa penasaran untuk segera melihat Sarangan akhirnya memaksa kami bangun.
Jam 5 lewat kami lalu berpamitan untuk segera menuju ke Sarangan. Di kejauhan
tampak matahari yang baru mulai menampakkan wajahnya membuat semburat cahaya
orange keemasan yang benar-benar keren. Sunrise!! Yup perjalanan kali ini bonus
sunrise yang memantul diperairan sawah sepanjang jalan.
| Sunrise... |
Sepanjang jalan menanjak menuju ke
Telaga Sarangan, mata kami dimanjakan oleh pegunungan Lawu yang tampak disisi
kanan jalanan yang masih tertutup kabut. Pohon-pohon pinus yang berlomba-lomba
menjulang tinggi ke langit. Menembus kabut dipagi hari benar-benar membuat dingin
menggigil, tapi udaranya segar bebas polusi. Beberapa kali berjumpa dengan
penduduk yang tampak memanggul hasil kebunnya yang akan dijual di pasar. Ahh
alam pedesaan yang benar-benar perfect, dalam hati berbisik “Magetan I am in
love”. Tempat seperti ini yang saya mimpikan untuk menghabiskan hari tua
(ciee.. apa sihhh).
20 menit berlalu kami sudah memasuki
kawasan Sarangan, sepanjang jalan tampak ramai oleh pengunjung dan pedagang
yang membaur menjadi satu. Tampak hotel yang menjamur di kiri kanan jalanan dan
juga warung-warung yang menjajakan makanan serta cendera mata khas Sarangan.
Belum juga turun dari motor mata saya sudah menangkap keindahan Telaga Sarangan
ini yang dari kejauhan tampak berwarna biru keabu-abuan. Oh God, it so
amazing!! Gak sabar pengen segera kebawah melihatnya dari dekat.
| Aku dan Mereka |
Selesai memarkir motor, kami
menyempatkan diri berfoto bersama di monumen yang berdiri kokoh tepat di depan
Telaga. Saat ini beberapa orang datang mendekati menawarkan berbagai macam
barang, sewaan kuda dan sewaan boat. Karena tidak tertarik untuk naik kuda kami
hanya menyewa boat aja. Setelah tawar-menawar akhirnya harga pun kami
sepakati. Tapi sebelum memulai petualangan bermain air, kami mengisi perut
terlebih dahulu disebuah warung yang berderet dengan rapi mengelilingi tempat wisata ini. Salah satu makanan khas yang dijajakan yaitu sate kelinci.
| Bebek-bebekan air |
| Here we are... |
Perut kenyang, hati senang dan energy
sudah terisi full, kami gak menyia-nyiakan waktu langsung menuruni anak tangga menuju
tempat mangkalnya speed boat yang akan kami tumpangi. Karena kami bereenam so
harus nyewa 2 speedboat. Beruntungnya kami ketemu sama bapak Sanyoto dan
Rudianto yang baik hati dan selalu mau ngikutin apa maunya kita. Bahkan juga
jago motoin kita. Pokoknya service-nya
the best-lah.
| Welcome to Telaga Sarangan |
| Amazing.... |
Setelah kami mengambil posisi di kursi
masing-masing, speedboat perlahan bergerak ke tengah-tengah telaga. Deru bunyi
mesin speedboat beradu dengan ramainya bunyi percikan air saat kami lewati.
Suaranya luamyan bising jadi bisa teriak sepuasanya karena gak akan ada yang
protes. Ahaa kesempatan ini bisa digunakan untuk katarsis, teriak
sekencang-kencangnya untuk mengeluarkan polutan dari pikirian. Setiap teriakan
yang disuarakan, ada rasa puas tersendiri karena bisa melepaskan beban pikiran
berton-ton sehingga otak pun terasa begitu ringan dan hormon endofrin dan
serotonin terproduksi maksimal. Ahh bahagia yang tak bisa di gambarkan. Bapak
yang mengendarai speedboat pun semakin bersemangat memacu speedboat dan
meliuk-liukkan bak ular setiap kali mendengar teriakan antara rasa takut dan
bahagia yang bercampur jadi satu.
| Do feel.... |
| Kapal oleng kapten |
Mengelilingi danau ini 3 kali putaran
ternyata gak cukup, benar-benar bikin ketagihan. Setelah selesai mengambil
beberapa foto ditulisan putih ala-ala Hollywood bertuliskan “TELAGA SARANGAN”,
kami lalu berputar menuju ke dermaga kembali. Setelah mengucapkan terima kasih,
kami lalu naik ke atas mengambil motor lalu meninggalkan Telaga Sarangan menuju
ke spot yang lain.
Tempat wisata di Indonesia memang sayang banget kalo tidak dijelajahi satu per satu. Tidak heran sampai ada semboyan "Indonesia itu indah jangan dirumah saja". Apalagi sekarang ini sudah banyak bertebaran Paket Wisata Domestik yang menggiurkan dan lumayan terjangkau salah satunya dari HIS Travel Indonesia. Di webnya terdapat banyak paketan wisatan yang sangat ramah di kantung apalagi untuk backpacker seperti saya. So, tunggu apalagi? Yuk liburan di Indonesia.
Tempat wisata di Indonesia memang sayang banget kalo tidak dijelajahi satu per satu. Tidak heran sampai ada semboyan "Indonesia itu indah jangan dirumah saja". Apalagi sekarang ini sudah banyak bertebaran Paket Wisata Domestik yang menggiurkan dan lumayan terjangkau salah satunya dari HIS Travel Indonesia. Di webnya terdapat banyak paketan wisatan yang sangat ramah di kantung apalagi untuk backpacker seperti saya. So, tunggu apalagi? Yuk liburan di Indonesia.
Happy people is not a great man in every way, but one that can find simple things in life and give thanks diligent.
Keindahan Ranu Agung
Setelah
berkali-kali mengeksplore keindahan pantai yang biru, kali ini saya akan
membeberkan pengalaman menelusuri keindahan air tapi yang lebih tenang dan berwarna
hijau. Bersama 6 orang teman dengan mengendarai motor kami menuju ke daerah
Probolinggo. Untuk jalurnya sendiri saya kurang paham, tapi yang saya ingat
adalah kami melewati jalur menuju ke arum jeram Songa dan terus menuju ke kecamatan Tiris. Karena
memilih untuk touring malam, kami sempat tersesat sehingga harus putar balik
setelah menanyakan pada masyarakat setempat.
Untuk kondisi jalan, jangan tanyakan. Karena masih dalam proses
perbaikan jalan makadamnya benar-benar jelek. Bokong yang duduk di atas
sadelpun keram dan badan serasa remuk melewati jalan berbatu-batu yang sangat
kasar.
Waktu
melihat plakat Ranu Agung hati rasanya sangat lega. Saat kami tiba tempat ini
sudah sangat sepi, tidak ada aktivitas apapun. Mungkin karena sudah tengah
malam sehingga udara terasa begitu dingin dan sedikti mendirikan bulu kuduk. Kami
lalu membangunkan ibu di sebuah warung sekaligus numpang buang air kecil. Kami
ngobrol sebentar dengan ibu pemilik warung lalu diarahkan untuk memarkirkan
motor di rumah warga. Karena di tempat ini belum ada tempat khusus untuk
parkiran.
Dari
parkiran dan dengan penerangan seadanya dari HP dan powerbank kami berjalan ke
bawa menyusuri jalan setapak menuju ke danau Ranu Agung. Karena dipenuhi oleh
pepohonan, jalan yang kami lewati benar-benar gelap. Beruntung saat itu tidak
hujan sehingga tanah yang kami tempati berpijak tidak begitu licin. Sebelum
sampai di bawah kami melewati sumber air, teman-teman pun mengisi jirgen untuk
keperluan masak karena dibawah tidak ada sumber air bersih.
Sesampainya
di danau, tampak 2 buah tenda yang sudah berdiri lebih dahulu. Terdengar suara
anak muda sedang menyanyi sambil memetik gitar dan beberapa lainnya berterik
dan tertawa menggaduhkan suasana yang tadinya hening. Tidak membuang waktu
teman-teman segera mendirikan tenda. Karena saya dan evi tidak tahu caranya
maka kami hanya bisa membantu memegangi senter. Setelah 3 tenda berdiri dengan
kokoh, kami pun menggelar tikar didepan tenda dan menghadap langsung ke danau
yang tampak sangat gelap hanya terdengar percikan kecil dari air. Untuk
menghalau dingin kami memasak air dan menyeduh kopi serta memasak mie instan
mengisi perut yang lapar. Karena mulai merasa kedingian evi dan saya segera
masuk ke dalam tenda dan berencana untuk istirahat, tapi setelah merasakan
hangatnya berada di dalam tenda rasa kantuk hilang dan kami mulai mengobrol
cukup lama hingga tak sadar siapa yang tertidur duluan.
Saya terbangun
ketika mendengar beberapa teriakan dan tawa dari beberapa orang yang beradu
dengan bunyi air. Saat keluar dari tenda rupanya sudah cukup terang. Saya
terkesima melihat didepan mata tampak pemandangan yang begitu luar biasa.
Sekumpulan air yang berwarna hijau dipagari oleh dinding batu yang kokoh. Di
tengah-tengah danau tampak beberapa remaja yang sedang bermain rakit sambil
tertawa terbahak-bahak menikmati percikan air yang mengenai mereka. Rupanya
mereka sedang berlomba saling mendahului satu sama lain. Melihat mereka begitu
menikmati bermain rakit, tak sabar rasanya ingin segera merasakan sensasi yang
sama.
| Berakit-rakit sendiri tak mengapa |
| Berakit berdua juga boleh |
| Pernah merasakan sensai baca buku di tengah danau? |
Setelah
minum susu hangat dan sepotong roti, kami pun dengan semangat menaiki rakit
yang sudah tidak dipakai oleh segerombolan remaja tadi. Pertama kali naik, hmm
sedikti serem juga membayangkan gimana kalo misalnya rakit oleng dan kami jatuh
kedalam air. Maklum saya tidak bisa berenang, sekali nyemplung kemungkinan
terbesar ya sampai dasar. Tapi teman-teman yang lain meyakinkan kalo rakitnya
kuat dan gak bakalan jatuh. Beberapa menit diatas rakit membuat saya nyaman dan
udah malas balik ke darat. Teman-teman yang lain pun join dan kita
berakit-rakit bersama menuju ke ujung danau yang satu sambil bernyanyi dan
tertawa terbahak-bahak. Semakin mendekati dinding batu, semakin terasa
keheningnan dari tempat ini. Jika kami tidak mengeluarkan suara, suasananya
benar-benar sepi cocok untuk tidur siang. Ahh suasana seperti ini yang selalu dirindukan
kalo sudah penat dengan kesibukan pekerjaan dan aktifitas lainnya. Itu mungkin
kenapa sampai ada ucapan “lagi butuh piknik” kali.
Karena
matahari semakin tinggi dan semakin menyengat, kami lalu memutar arah dan bali
ke tepian setelah menyelamatkan rakit yang entah hanyut terbawah arus atau
ditinggal begitu saja oleh pemakainya. Yang pasti kami membawa rakit itu
kembali ketepian biar bisa digunakan oelh orang lain yang mungkin lagi butuh. Sesampainya
ditepian kami pun mulai membongkar tenda dan membereskan barang-barang. Semua
sampah yang tersisa kami pungutin satu per satu, seakan-akan tak ingin satu
jejakpun yang tersisa sebagai bukti kalo kami pernah kesini. Setelah semua
selesai kami lalu kembali berjalan ke atas menuju parkiran dan mengambil motor
lalu pulang menuju Surabaya.
TERKADANG KITA PERLU MENJAUH HANYA
UNTUK TAHU MAKNANYA PULANG
Hidden Paradise Pulo Doro
Setelah
cukup lama gak nge-trip bareng teman-teman LMP (Laskar merah Putih) akhirnya
kesempatan itu datang juga. Kali ini teman-teman mengajak ke salah satu pantai
di Malang Selatan yang masih termasuk hidden paradise yaitu Pantai Pulo Doro. Pantai
Pulo Doro terletak di desa Banjarejo, kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang.
Untuk menuju tempat ini cukup mengikuti papan penunjuk jalan menuju ke
Kepanjen, arah ke Pagak sampai ketemu pertigaan yang ada tulisan kekanan arah
Pantai Ngliyep, ambil jalan yang lurus menuju ke Banjarejo.
| Teman sepermainan |
Memasuki
daerah Banjarejo, jalanan mulai berlubang-lubang bahkan lebih jauh kedalam
sudah tak ada aspal yang ada hanya jalan makadam yang benar-benar parah. Kalo
yang bawa motor gak ahli, wah gak bisa bayangin apa yang akan terjadi. So, buat
teman-teman yang mau kesini sebaiknya pastikan motor dan joki dalam keadaan fit
sehingga tidak menyusahkan di jalan. Oh iya mungkin yang mau bawa roda empat
bisa juga sih tapi ya gitu harus rela segera masuk bengkel setelah dari sana.
Saat
kami tiba sudah larut malam, tapi si bapak penjaga pantai masih tak terlelap,
tak mengijinkan kami masuk secara gratis hahaa… Setelah membayar retribusi kami
melanjutkan perjalanan menuju ke pantai Mbantol. Disanalah kami memarkirkan
motor sebelum tracking menuju ke Pantai Pulo Doro. Sebenarnya beberapa teman
sudah ingin camping di pantai ini saja, tapi karena dari awal planningnya di
Pulo Doro maka kami tetap melanjutkan perjalanan meski dengan mata super
ngantuk.
Untuk
sampai ke PuloDoro oleh penjaga pantai kami diberitahu harus menyusuri tepian
karang. Tapi karena sangat gelap sehingga kami tak menemukan jalan yang
dimaksud. Akhirnya kami memilih menyusuri hutan-hutan di belakang pantai.
Sedikti gelap dan seram, tapi beruntung ada cahaya bulan yang menerangi
perjalanan kami. Tak ada yang tahu pantai Pulo Doro yang mana, karenanya kami
mengikuti insting saja. Setelah berjalan sekitar 15 menitan kami tiba di sebuah
pesisir pantai, yang kami anggap Pulo Doro. Setelah menemukan daerah yang tepat
untuk mendirikan tenda, teman-teman segera membongkar isi carrier. Saat
mendirikan tenda inilah, tiba-tiba seorang teman nyletuk kalo ternyata pantai
tempat kami sekarang bukan Pulo Doro tapi Kedung Celeng. Sempat berpikir untuk
pindah, tapi karena tenda sudah terlanjur berdiri akhirnya kami tetap menginap
di pantai Kedung Celeng ini.
| Teman-Teman LMP |
Setelah
tenda selesai, beberapa teman memasak makanan penghalau lapar karena perjalanan
yang lumayan jauh. Hanya ada kopi, mie instan dan beberapa snack, tapi karena
dinikmati di tempat yang tak biasa, makan sederhana pun jadi spesial rasanya.
Bisa bayangin makan malam di cahaya yang remang-remang karena hanya disinari
cahaya lampu senter plus cahaya bulan dan bonus nyanyian ombak di pantai. Hmmm
bisa jadi ini bagian kecil dari surga dunia. Berbagi bersama, tertawa dan
bercanda bersama dalam sebuah kesederhanaan kebersamaan dan yang penting no
gadget. Perut kenyang hati senang, waktunya tidur memulihkan tenaga sebelum
berburu sunrise besok pagi.
Saya
terbangun ketika merasakan dingin yang menusuk di telapak kaki, ah rupanya
sleeping bag yang kujadikan alas telah bergeser posisinya. Mencoba mengintip ke
luar dan ternyata fajar mulai menyingsing memperlihatkan semburat cahaya
eloknya. Tak ingin menyia-nyiakan momen ini, saya segera bangun dan keluar
tenda. Beberapa teman rupanya sudah bangun dan menikmati pemandangan ini dari
tadi.
| Kedung Celeng |
Sambil
berjalan menuju bibir pantai, saya menyambar tripod yang dibiarkan teman
nganggur. Eits tripodnya bukan buat selfie, tapi pengen belajar motret pake
teknik Long Expo (maklum lagi semangat-semangatnya belajar motret). Setelah
cekrak, cekrek beberapa kali saya berhenti dan mencoba menikmati indahnya
pantai kedung celeng pagi itu. Rasanya benar-benar damai melihat matahari yang
secara perlahan menampakkan dirinya dan memberi warna indah pada langit yang
tampak bersih. Ombak yang menghantam karang berkali-kali memperdengarkan nyanyian
syahdu. Ahhh selalu mellow deh kalo sudah ada di tempat seperti ini. Tempat
yang perfect untuk refleksi diri dan membuang sampah-sampah dari pikiran.
Lagi
asik menikmati sunrise, seorang teman datang minta di fotoin. Bukan sekali jepret aja, tapi berkali-kali. Hmmm gimana yaaa,
ya sudahlah jadilah sepanjang hari itu Merlin berprofesi sebagai fotografer
gratisan. Resiko punya hape bagus dikit (hahaha ini becanda). Tapi gak bisa dipungkiri sunrise ditempat ini memang keren. Semburat cahayanya menebar nuansa romantik kesekitar pantai. Bikin siapa aja pengen mengabadaikan sebanyak-banyaknya.
| Dilarang Baper |
Selain Sunrise yang ajib,
Kedung celeng juga menyembunyikan terumbu karang yang cantik. Karena pagi hari
air belum pasang, jadi kami punya kesempatan untuk masuk ke area laut yang agak
dalam. Tapi perlu berhati-hati saat melangkahkan kaki karena batu-batu ditempat
ini sangat licin jadi perlu berhati-hati saat berjalan agar tidak terpeleset.
Bukan hanya terumbu karang, tapi ikan-ikan kecil juga tampak berenang kesan
kemari dengan bebasnya.
Setelah mengelilingi Kedung Celeng kami berpindah tempat menuju ke Pantai Pulodoro. Hanya butuh waktu 5 menit perjalanan dari Kedung Celeng menuju tempat ini. Waktu kami tiba air sudah pasang danombak bergulung-gulung begitu besar sehingga berbahaya jika ingin berenang. Saat berjalan menuju sisi kanan dari pantai terdapat tempat yang lebih tenang dengan pemandangan yang tak kalah menariknya. Melihat air yang biru, tenang dan jernih beberapa teman segera melepas baju dan berenang. Sayangnya saya tidak membawa baju ganti sehingga memilih untuk mengambil beberapa gambar saja. Berada di tempat ini serasa pulau milik sendiri karena sangat sepi pengunjung. Sedikit menyesal kenapa tidak dari pagi berada di tempat ini. Berharap ada kesempatan lain untuk datang ke pantai ini.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
Powered by Blogger.









