DRAMA DEPORTASI DARI INDIA!!!


Gambar yang bikin ngiler ke Kashmir





Hey gaes, kali ini saya kembali dengan kisah berbeda. Agak dramatis dikit emang, karena hidup itu kadang-kadang butuh drama juga biar lebih menarik.
So ceritanya sepulang liburan dari Jeju, saya ada trip lanjutan ke India. What?? India?? Why?? Kan India negara miskin dan kotor dan bahaya dan lain-lain. Hahaha well emang dari dulu India gak pernah ada di bucket list saya, hingga suatu hari saya melihat foto-foto mengenai Kashmir which is keren banget dan pake salju pula. Nah loh gimana gak ngiler coba, kalo gak percaya coba deh kalian searching sendiri soal Kashmir. Nah berhubung ini India so menurut saya better pergi ikut open trip atau tour gitu jadilah waktu itu salah satu tour sebut saja "DP" lagi ngadain open trip cukup dengan budget 8,5 juta doang. Karena udah males repot-repot searching dan pengennya duduk manis aja jadi kali ini saya mutusin ikut tour. Jadi semua komplit mulai dari tiket, penginapan, sampai itinerary dan juga di bantu untuk pembuatan visa which is visa elektronik.



E-visa India

Hari H setelah landing di KL dari Jeju saya bersama seorang ibu dokter langsung menuju ke transit area karena jarak waktu yang hanya 2 jam saja dengan penerbangan selanjutnya ke India tidak memungkinkan untuk keluar imigrasi lagi. Semua visa dan boarding pass sudah kami print untuk mempermudah kami saat pemeriksaan. Semua berjalan lancar hingga sesaat setelah kami landing di salah satu bandara di India di Bhubaneswar tiba-tiba para petugasnya tampak begitu tegang dan sibuk berbicara di Walkie Talkie. Menanyakan apa ini kali pertama kami ke India, ada berapa orang, ada berapa koper dan beberapa pertanyaan random lainnya. Saya yang sudah setengah tepar memilih untuk diam dan mengikuti kemana saja ibu dokter itu pergi.

Tak berapa lama kemudian sayup-sayup saya mendengar bahwa kami akan segera di pulangkan. What?? Mata saya yang sudah dari 5 watt langsung melotot. What the heck happen now?? Masih tak percaya dengan omongan si petugas saya kembali bertanya dan ternyata benar. Kami tidak boleh masuk karena visa kami tidak diterima dibandara tersebut. Setelah perdebatan yang cukup panjang termasuk kami jelaskan kalo kami tidak akan keluar dari city tersebut melainkan kami hanya transit karena ada penerbangan lanjutan menuju ke New Delhi, tapi tetap saja tidak boleh.

Yang paling bikin kesel adalah wajah petugas imigrasinya yang tampak congkak dan senyum "smirk" gitu. Serasa puas banget liat kami gak bisa masuk negara mereka. Well karena masih belum percaya saya mencoba mencari pembenaran di lembaran e-visa yang sudah saya print. Memang benar bahwa dibawah dicantumkan hanya beberapa bandara doang yang menerima e-visa tapi tidak dicantumkan apakah jika transit saja boleh atau gimana. Pengen debat kusir juga kagak bisa karena gak ada pegangan yang kuat akhirnya kami pasrah saja digiring bak "pesakitan" kalo kata suami ibu dokter tadi. Koper-koper kami sudah dinaikan ke pesawat terlebih dahulu, paspor kami di tahan dan kami pun digiring kembali naik ke pesawat yang sama untuk pulang menuju ke Kuala Lumpur.

Selfie berdua dengan Alma si cewe  Swedia yang ikutan nyangkut di imigrasi

Kejadian ngakaknya adalah karena waktu itu ada backpacker dari Sweden juga yang tidak bisa masuk ke India tapi dia tidak sadar hingga sesaat sebelum kami digiring kembali ke pesawat. Padahal sebelumnya saya tanya apakah dia bisa masuk dan dengan pedenya dia berkata yes tentu saja, memangnya ada apa dengan visamu? Setelah menyadari bahwa dia harus pulang juga swearing dan kata-kata hinaan pun tak tertahankan keluar dari bibir imutnya LOL.

Sesampainya di KL ternyata drama masih berlanjut dari pagi hingga sore hari yang benar-benar menguras tenaga dan emosi. Pertama kami ditemani oleh seorang patugas Air Asia menuju ke kantor imigrasi untuk menanyakan mengenai kemungkinan kami untuk keluar dari negara ini. Setelah menunggu cukup lama dan sempat mengamati ternyata di tempat ini kebanyakan yang bermasalah adalah orang India yang kemungkinan ingin mencari kerja secara ilegal atau masalah lainnya, akhirnya kami menerima kabar bahwa kami telah di deportasi dan blacklist selama 6 bulan untuk masuk ke India. Well I don't care about that anymore, yang mulai saya khawatirkan adalah cap hitam di pasporku apakah akan mempengaruhi ketika masuk ke negara lain atau jika ingin mengurus visa ke negara lain. Apalagi saat ini saya sedang mengapply kembali visa 2nd year untuk WHV Australia.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya kami diinfokan bahwa kami bisa meninggalkan imigrasi asalkan bisa menunjukkan bukti pembelian tiket menuju negara kami. Saya sempat mengkonfirmasi apakah saya harus membeli tiket Air Asia atau bisa dari maskapai lain. Menurut petugas tersebut bisa maskapai apa saja yang penting itu keluar dari negara ini. Saya pun segera membeli tiket Garuda saat itu juga karena sudah tidak sabar ingin segera meninggalkan KL.

Baru selesai makan eh tiba-tiba petugas baru datang dan memberikan kabar buruk, bahwa saya tidak bisa keluar imigrasi karena saya tidak membeli tiket Air Asia. What??? Are u kidding me? Langsung dah naik darah, gimana bisa mereka seenaknya mengubah aturan setelah saya membeli tiket. Kami pun balik ke kantor imigrasi lagi, dan kabar yang paling jelek adalah saya sempat mendengar petugas imigrasi menyatakan bahwa saya bakalan di pulangkan ke Jeju karena saya tidak melewati imigrasi saat kepulangan dari Jeju. Oh my goodness cobaan apa lagi ini X_X. Tidak bisa membayangkan jika saya harus terbang lagi ke Jeju. Bayangkan saja dari kemarin 6 jam dari jeju, lalu 7 jam pp India dan harus naik pesawat lagi menuju Jeju? Oh no, bunuh Baim aja om. Sesaat kaki ini langsung lemas, gak tau mau ngapa-ngapain lagi. Hanya bisa berdoa dalam hati, Tuhan tolong anakmu ini.

Setelah perbincangan cukup panjang, akhirnya si petugas memanggil kami untuk keluar dari kantor imigrasi lalu menuju ke counter transit lagi dan duduk manis disana entah sampai kapan. Karena saya sudah kasihan melihat ibu dokter itu bersama suaminya saya pun meminta mereka untuk meninggalkan saya sendiri karena mereka punya tiket air asia sehingga mereka sudah bisa meninggalkan bandara saat itu juga.

Setelah ditinggal oleh mereka berdua tinggallah saya berdua bersama gadis Sweden itu (aka: Alma) yang tampak frustasi dan sama bingungnya dengan saya. Setelah menunggu agak lama kami kembali lagi ke kantor imigrasi dan lagi-lagi diinfoin bahwa kami tidak bisa meninggalkan imigrasi jika bukan dengan tiket Air Asia. Kesabaran saya sudah habis akhirnya saya pun mengomel ke petugas tersebut. Mengapa saya tidak diinfokan dari awal supaya saya tidak perlu membeli tiket lain. Maka si petugas itu pun menyalahkan petugas yang lain dan seterusnya. Merasa di permainkan saya bersikukuh tidak akan membeli tiket baru lagi, kecuali jika mereka mau memberikan saya tiket baru gratis. Saat saya menjelaskan kepada Alma bahwa kami berdua tidak bisa keluar imigrasi kecuali jika kami mau membeli tiket baru Air Asia. Saat mengetahui hal tersebut dia langsung membelalakkan mata dan lagi-lagi berbagai kata-kata swearing keluar dari bibirnya. Rasanya pengen ngakak terbahak-bahak tapi melihat matanya mulai berair saya mengurungkan niat saya. Well she start to crying, bikin saya jadi baper juga.

Setelah beberapa menit kemudian si petugas cowok itu keluar lagi dan menyerahkan paspor kami berdua. Otomatis saya menganga dong, ada apa ini? Si petugsanya pun tidak menjelaskan apa-apa hanya mengatakan bahwa kami boleh coba melewati imigrasi. Tanpa ba-bi-bu saya langsung mengambil paspor saya dan berjalan deg-degan menuju ke imigrasi. Berdoa dalam hati semoga tidak ada drama lain lagi. Sesampai diantrian imigrasi saya mulai menahan nafas, menunggu si bapak imigrasi memeriksa paspor saya dan tanpa banyak tanya saya mendengar bunyi stempel dan pasopr saya diserahkan. What??? Segitu mudahnya? Lalu apa yang bikin mereka menahan saya lama-lama dialam tadi?? Well pikiran negatif mulai merasuki tapi saya mengabaikannya mengingat masih ada beberapa tahap lagi sebelum benar-benar meninggalkan negara ini.

Karena kami menggunakan pesawat lain jadi kami harus pindah terminal menuju ke KLIA. Sambil menunggu bus kami mengobrol dan ternyata tiket baru yang di beli oleh Alma seharga 7000 USD what??? Pantes saja dia udah mau nangis bombay tadi, sampai orang tuanya sudah mau menelpon konsulat segala. Saya aja yang hanya seharga 2juta gak rela apalagi sampai puluhan juta.

Sesampai di KLIA kami kembali harap-harap cemas jangan sampai ada drama di imgrasi lagi tapi untungnya semua berjalan dengan lancar. Setelah melewati imigrasi kami pun berpelukan karena waktunya berpisah. Well kesusahan hari ini membuat kami berdua dari stranger jadi friends bahkan dia ngajak untuk liburan ketempat dia jika ada kesempatan. Karena sesungguhnya dibalik hari yang buruk selalu ada yang bisa disyukuri.

Saat menuju gate saya pun bernafas lega karena tahu bahwa kali ini benar-benar saya akan kebali ke negara Indonesia tercinta. Tapi ternyata di luar dugaan drama lain terjadi saat kami sudah duduk manis di pesawat. Sekelas Garuda bisa mengalami mati mesin, sampai-sampai beberapa penumpang memutuskan untuk batal terbang dan beberapa lain walk-out. Saya yang sudah kelelahan sudah tidak mau ambil pusing dan tetap duduk manis menikmati movie yang sedang saya putar. Masa bodoh, selama pilot bilang bisa terbang ya percaya aja. Kalo memang sudah waktunya balik ke rumah Bapa ya balik, kalo nggak ya mau mesin mati sekalipun gak bakalan balik. Dan beneran kejadian, setelah penundaan pesawat hampir 3 jam akhirnya kami terbang juga dan orang-orang yang walk-out tadi kudu menahan gengsi untuk balik ke pesawat.

Sempat merenung juga, well hidup itu hampir kayak naik pesawat kalo kamu percaya Tuhan yang memegang kendali atas hidupmu, so no need to worry about anything. Tinggal duduk tenang dan percaya bahwa Tuhan yang bekerja untuk kebaikan kita. Btw sekian kisah drama dari bandara KLIA saya kali ini. Sampai ketemu di drama-drama yang lebih baik lainnya. Semoga teman-teman tidak mengalami hal yang sama seperti yang saya alami.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Search This Blog

Blog Archive

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

footer logo