Hari Pertama di Brisbane (Part-2)



Oke ini lanjutan dari part-1 (klik disini)

Keberuntungan kedua saya adalah karena Peter sudah makan asam garam jauh lebih banyak dari saya dan beliau berasal dari kota ini so tentu saja pemahaman beliau soal Brizzy dan segala seluk beluknya jauh lebih besar dari saya. Oleh karena itu beliau membantu saya merombak habis isi dari Resume saya. Dia menjelaskan alasan di balik semua hal yang harus saya tulis, seperti kenapa saya harus menuliskan sekolah sebelumnya, kenapa harus naruh foto dan lain sebagainya. Which is hal ini berhubungan dengan paradigma orang disni kalo melihat asal Negara saya adalah Indonesia (mau tau apa aja? Better PM langsung ya karena ini agak rasis jadi better gak nulis disini demi menjaga persatuan bangsa hahaha)

Keberuntungan ketiga saya adalah karena Peter pensiunan guru bahasa Inggris,  so he trying to help me improve my English and Ielts score. Jadi dia buat list kapan harus belajar English dan memberikan tempat-tempat dimana saya bisa belajar English Conversation. He trying me a lot to improve my English so I can get my Permanent Resident, but let’s see in the future what will happen.

Selesai dengan obrolan panjang, beliau lalu menyuruh saya bersiap-siap untuk menuju ke Garden City (ini Mall). Disini Peter bantu saya mengurus atm saya yang sempat diblokir gara-gara Scam Produk Gratisan (baca disini). Sehabis dari Bank kami lalu menuju ke Library wohooo tempat favorit saya!! Disini Peter bantu saya membuat member card jadi saya bisa meminjam buku dan memakai fasilitas yang ada di Library di seluruh Brisbane secara gratis. Member Card jadi kami pun meninggalkan Library dan kembali mengelilingi Garden City. Sepanjang jalan Peter menceritakan banyak pengalaman hidupnya dan kisahnya menolong orang-orang dari berbagai negeri ketika di Australia.

Brisbane
Beliau tipe orang yang suka membantu tanpa pamrih tapi sekali kamu gak mau mendengarkan nasihat beliau maka kamu bakalan di block dan di coret dari daftar orang yang pernah beliau kenal. Widih dalam hati kudu hati-hati juga nih jangan sampai di coret dari list friend beliau. Kita juga sempat ngobrol soal makan Indonesia yang berujung pada beliau ingin saya masak NASI GORENG. Yess nasi goreng. Buat yang jago masak sih kelihatannya mudah aja ya, but buat orang kayak saya yang gak jago masak it’s such a big deal. Mendadak keringat dingin dan mulai berpikiran negatif. Gimana kalo gak enak? Gimana kalo gagal? Gimana kalo Peter gak suka? Tapi apa hendak dikata sudah gak bisa mundur so saya mengiyakan dengan sok pede.

Setelah menghabiskan sepaket shushi di Garden City kami balik ke rumah sambil ngobrol banyak hal termasuk soal putrinya yang merupakan Presenter berita terkenal yang kaya raya (eh lagi nyari au pair loh tapi kudu bisa bahasa mandarin ya). I think because Peter already have all the things that he want, that’s  why He just trying to helping as much as he can to make his life insanely useful without hoping back. Sesampai dirumah babak mendebarkan dimulai yaitu cooking. Singkat cerita saya mulai memasak (sempat di bantu Charley motong bawang) setelah bolak balik mengoreksi rasa akhirnya nasi goreng itu saya hidangkan juga buat makan malam kami bersama. Daaaannn…. Tada setelah mereka makan ternyata mereka bilang enak sodara-sodara. Peter bahkan bolak-balik bilang “wow beautiful, wow nice” sampe nambah 3 kali. Bahkan beliau yang awalnya mau menyisakan buat Chinese Boy akhirnya batal karena beliau suka banget. Hahaha serasa jutaan beban terlepaskan sudah. Setidaknya host saya puas dengan masakan saya jadi fair enough-lah ya.

Brisbane
Dinner selesai, saya menyelesaikan beres-beres di dapur lalu kami masuk kekamar kami masing-masing. Berhubung kemarin malam saya tidur di pesawat which is uncomfortable at all, saya langsung tepar begitu menyentuh kasur. What a life, gak pernah terbayangkan bakalan mengalami banyak hal dalam perjalanan saya ini. Saya gak pernah tahu apa yang akan terjadi besok dan hari besok besoknya lagi. Bahkan tidak ada yang bisa menjamin kapan saya bakalan dapat kerja. Tapi saya gak mau memusingkan hal itu. What that I want to do just enjoying everyday and every moment. Karena saya tahu Tuhan yang menjamin kehidupan saya ditempat ini dan dimana saja. Amen sodara-sodara… upsss abaikan dan sampai jumpa di kisah selanjutnya.




It’s okay to be scared. Being scared means you are about to do something brave.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Search This Blog

Blog Archive

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

footer logo